Tampilkan postingan dengan label Narasi Wayan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Narasi Wayan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Mei 2008

Wayan dari seberang (Bag. 8)

BEDUGUL “DÉJÀ VU”

Wayan.

Baru jam sebelas pagi, suasana Bedugul sungguh membuatku merasa damai hingga aku memutuskan untuk tinggal beberapa malam disini, Dan ini adalah hari ke empat. Tempat yang paling aku sukai adalah restoran terapung dipinggir danau dan aku sangat menyukai susu coklat panas yang mereka buatkan untuku setiap aku duduk di meja paling pinggir yang membuatku tinggal menjulurkan kepalaku untuk melihat air danau di bawah. Hari berlalu dan kuhabiskan waktuku untuk bergaul dan berbicara dengan masyarakat sekitar, mulai dari tukang sapu, juru parker, pramusaji restoran, penjaga dan pemilik artshop, pokoknya siapapun mereka yang aku temui dan berkesempatan untuk berbicara, aku akan berbicara. Hal-hal yang aku tanyakan adalah tentang optimism mereka terhadap perkembangan pariwisata yang lamban akhir-akhir ini. Dari mereka, ada yang positif, ada pula yang negative, semua aku terima, dan aku tidak pernah menyalahkan pendapat mereka. Dari hasil wawancara hari ini biasanya aku buat untuk tulisan keesokan harinya untuk bahan nulis blogku yang punya judul “Bali masih sehat, dan Bali akan sehat”. Setiap pagi setelah sarapan aku langsung meluncur ke restoran terapung ini dan menulis sampai siang kadang sampai sore disana. Aku jatuh cinta pada Bedugul, pada kabutnya yang tipis disiang hari, pada panas terik yang didinginkan oleh angin serta hujan rintik, dan pada gadis bergaun putih yang sering hadir dalam mimpiku.

Dayu, Steve dan Jenifer

“Dayu, you should get one Balinesse handsome boy to join” kata Jenifer

“Nanti aku pasti dapat” teriak Dayu melawan suara angin dan mesin VW safari terbuka milik Jenifer yang dikendarai Arya.

“Where”

“Nanti di Bedugul.ha..ha..ha..”

“Ok”

Mereka bertiga cukup sering pergi mengunjungi tempat-tempat menarik di Bali saat weekend seperti Bedugul, Batur, Ubud, Besakih. Arya sangat suka sekali fotografi dan Jenifer serta Dayu adalah 2 model tetapnya. Mereka berdua selalu melayani permintaan Arya yang aneh-aneh. Satu-satunya permintaan Arya yang tidak mereka penuhi adalah untuk difoto telanjang bulat. Kata mereka “In your dream Arya!!”

VW safari memasuki parkiran danau Bedugul, dan mereka turun untuk makan siang di restoran terapung favorit mereka. Dan mereka memilih meja favorit yaitu meja paling pinggir dekat danau selisih tiga meja dengan seorang pemuda yang sedang bercinta dengan laptopnya.

Pertemuan di alam lain.

“Dayu, Jenifer, aku ingin sekali melukis speedboat yang sedang meluncur dengan latar belakang parkiran boat di dermaga sebelah sana”

“Ok, nanti setelah makan kita kesana”

Mereka menjulurkan kaki merenggangkan badan dan menarik nafas dalam-dalam seolah-olah sebentar lagi oksigen akan habis didunia ini.

“Oh segar sekali” kata Jenifer.

“Hey Dayu, ngapain kamu terus lihat orang itu?”

“Kelihatannya aku pernah bertemu dengannya Arya”

“He’s handsome Dayu”

“Yes, he is”

“And cool”

“Yes he is”

Lalu pemuda itu menutup laptopnya, memasukan ke dalam backpacknya dan berdiri berjalan kearah mejad Arya, dayu dan Jenifer.

“Oh..my God..he’s coming here Dayu..”kata Jenifer menggoda

“Yes, he is”

Arya tahu bahwa Dayu terpana, diberinya kesempatan Dayu untuk terpana. Karena ini adalah sesuatu yang Dayu hampir tidak pernah perlihatkan pada teman-temannya, Dayu orang yang sangat perhatian dengan sikapnya.

Wayan berjalan melewati Dayu dan hanya melirik sebentar dan matanya bertemu dengan mata Dayu. Jantung Dayu berdegup keras sekali, tangannya meremas-remas tissue makan yang ada dimeja, bibirnya tak sanggup untuk tersenyum lebar, ujungnya hanya bisa dia tarik sedikit. Belum pernah aku lihat laki-laki setenang dia.

Wayan sendiri tidak merasakan apa-apa saat matanya bertatapan dengan Dayu, baru setelah melewati tatapan mata Dayu dia merasa ada sesuatu yang tertinggal, dan dia sendiri bingung apa yang yang sebenarnya yang dia rasakan, dan dia memutuskan untuk memalingkan wajah untuk melihat lagi apa yang baru saja dilihatnya. Dan dua pasang mata itu bertemu lagi. Pikirannya seperti dihentakan oleh sesuatu yang belum pernah dia rasakan, seperti diputar ulang, sebentar terasa gelap lalu terang lagi oleh mimpi-mimpi yang berulang kali didapatkannya. Dayu sendiri tidak sanggup melakukan apapun, kepala dan matanya seperti dikunci oleh para leluhur untuk tetap melihat ke sepasang mata yang setenang mata rajawali. Yang ada dalam pikirannya adalah kedamaian dan kegusaran akan cinta yang sebenarnya.

“Dayu, are you OK? Tanya Jenifer.

Dan telinga Dayu seperti ditutupi oleh nasib yang akan segera mengarahkannya ke babak petualangan yang baru.

Lalu tiba-tiba sekilat cahaya menampar pikiran Arya, dan dia tersadar, lalu dia meneruskan berjalan menuju ke tempat parkir dan menaiki sepedanya.

“Hey Dayu, wake up! Seru Jenifer sambil mengguncangkan lengan Dayu. Dan Arya tetap sibuk dengan kameranya mengambil momen wajah Dayu yang menurutnya sangat polos.

“Dayu, akan kulukis sebuah lukisan luar biasa dengan ekspresi wajahmu yang polos seperti itu” kata Arya sambil tertawa.

“Arya, letakan kameramu, it’s something wrong with Dayu”

“I’m OK Jeni” kata Dayu lemah

“Tidak, kau berdiam seperti patung tanpa ekspresi seperti melihat sesuatu yang menyuruhmu diam, laki-laki itu pasti punya kekuatan aneh sampai bisa membuatmu seperti itu”

“Tidak Jeni, dia seperti sudah lama mencariku”

“Dayu, berhentilah bicara tahayul seperti itu”

“Tidak Jeni, aku belum pernah merasa seperti ini, dan aku merasa ini jalanku”

“Sudahlah, kalaian berdua tidak perlu ribut seperti itu, Dayu, bila dia adalah jalanmu maka Sang Hyang Widhi pasti akan mempertemukanmu”

“OK, ayo kita mulai makan, nasi goreng yang dingin tidak ada enaknya”

Dan merekapun mulai makan, tapi pikiran wajah laki-laki tadi tetap berada dipikirannya, dan dia mulai ingat bahwa dia pernah bertemu dengan laki-laki itu, tapi entah dimana, dia telah bebicara terhadap ratusan orang 2 minggu terakhir ini dan bertemu dengan ribuan orang selama beberapa bulan terakhir ini, dia merasa sangat sulit untuk mengingat dimana dia bertemu dengan laki-laki bermata damai itu.

Diakah gadis dalam mimpiku, pikir Wayan sambil terus mengayuh sepedanya menaiki jalan dari parkir menuju ke jalan raya, kalau betul itu dia, aku harus kembali, aku tidak mau kehilangan dia, tapi bagaimana caranya bicara terhadap dia. Rasa-rasanya dia pasti akan menganggapku gila bila aku menjelaskan kepadanya bahwa aku terus memimpikannya. Tapi bila aku tidak menemuinya sekarang, aku pasti akan kesulitan lagi menemukannya, karena Bali semakin padat, dan jaman sekarang pasti lebih sulit dibanding dulu ketika seorang pangeran bertemu dengan pasangan idamannya di hutan lalu membuat sayembara barang siapa dapat menemukan informasi tentang dimana pasangan idamannya tinggal.Aku harus kembali dan menemuinya! Tapi nanti apa yang harus aku bisarakan ke dia. Ah..persetan dengan apa yang nanti aku bicarakan, aku akan menemuinya, aku tidak mau kehilangan kesempatan in, siapa tahu memang dia gadis dalam mimpiku.

Kaki ini terasa begitu berat untuk dilangkahkan, ketiga orang itu Cuma 10 meter didepanku tapi minta ampun lama sekali waktu ini berjalan, dan berat sekali dadaku ini kubawa. Dua teman dari gadis dalam mimpiku itu mulai tertawa kecil sambil matanya melihat kearahku dan kearah gadis itu. Dan gadis itu Cuma, aku yakin dia pura-pura menundukan wajahnya, kadang dia mengangkat wajahnya dan matanya melirik kearahku. Aku menarik nafas panjang mengumpulkan semua kekuatanku.

“Hai, boleh aku ikut duduk disini?” kataku ke 3 orang itu “Namaku e..e..saya Yanto”

Lalu kami saling berkenalan dan aku mulai tahu bahwa gadis itu bernama Dayu, teman bulenya bernama Jenifer dan teman lelakinya bernama Arya.

“Kamu Yanto yang dulu pernah aku minta tolong untuk membantu saat aku demo di mall di denpasar ya?” Tanya Dayu yang mulai mendapatkan ingatannya.

“Yang kapan ya?” Tanya Yanto bingung dan gugup.

“Yang di mall siang hari kira-kira 3 minggu yang lalu, saya minta kamu untuk ambil bedak, ambil lotion, pegang handuk dan lainnya, masak lupa” rengek Dayu berharap Yanto tidak melupakannya.

“Oh ya..aku ingat, ingat sekarang, itu kamu ya..oh..” kata Yanto manggut-manggut, dan dia mulai mengerti sekarang mengapa waktu itu dia juga merasa pernah melihat gadis ini, ternyata memang ini gadis dalam mimpinya.

“Dari logatmu bicara, kamu dari jawa Yanto?” Tanya Arya

”Ya, aku lahir dan lama di Jawa, ibuku orang jawa ayahku orang Bali”

“Oh, lalu disini tinggal dimana?” Tanya Jenifer berbahasa Indonesia dengan logat bule.

“Aku tinggal di Sanur bersama pamanku”

“Dan sekarang sedang berlibur di Bedugul sendirian?” Tanya Dayu terdengar seperti menginterogasi.

“Ya, aku sedang bersepeda keliling pulau Bali, dan sekarang sedang menikmati Bedugul”

“Kamu sendirian keliling Bali naik sepeda?” seru Dayu agak berteriak karena kaget.

“Ya, memangnya kenapa? Banyak khan orang bule yang melakukan hal itu”

“Ya betul sekali, banyak orang bule yang melakukan dan jarang sekali orang Bali yang mau melakukan, makannya banyak buku tentang Bali yang ditulis orang bule” kata Arya.

Lalu pembicaraan mengalir tentang perjalananku berkeliling Bali, semua aku ceritakan kecuali tentang mimpiku tentang seorang tua dan gadis berambut panjang serta bergaun putih yang wajahnya mirip sekali dengan Dayu.

Dayu adalah gadis yang sangat menarik, saat bertanya matanya menari-nari memperlihatkan kecerdasan dan keingintahuannya yang besar. Sangat mandiri dan cenderung suka memerintah serta selalu ingin pertanyaannya dijawab terlebih dahulu. Kedua temannya terlihat sangat mengerti tentang hal itu, mereka selalu mengalah. Matanya bulat, khas mata orang Bali dan juga wajahnya yang bulat. Rambutnya yang hitam tebal siang itu diikat bandana warna merah bermotif bunga. Kaos putihnya jogger dengan tulisan “Muda behagia, tua kaya raya, mati masuk surga” dan celananya jeans biru tua ¾. Bagiku dia sempurna.

Satu jam tak terasa kami berbicara, dan kami saling menukar nomor handphone. Sang Hyang Widi terima kasih karena telah Kau pertemukan aku dengan gadis yang selalu hadir dalam mimpiku. Sepeda ini sangat ringan sekali rasanya, mungkin karena saking bahagianya hatiku menemukan bagian dari mimpiku. Dan kami berempat sepakat untuk bertemu lagi di Pura Jagat Natha alun-alun Denpasar saat bulan purnama minggu depan. Aku langsung memutuskan untuk pulang ke Sanur dua hari setelah pertemuan itu. Waktuku aku habiskan untuk terus menulis dan menyelesaikan blog ‘Bali masih sehat dan Bali akan sehat’

Selasa, 04 Maret 2008

Wayan dari seberang (Bag. 7)

Steve si Petualang

“Mawar, aku ingin menikah dengan kamu”

“Sudah tau dari dulu”

“Nggak gitu Mawar, kali ini beneran”

“Steve, kalau kamu bener-bener mau kawin sama aku, tunjukan pada orang tuaku kalau kamu bisa jadi suami yang bertanggung jawab”

“Aku sudah tunjukan, aku sudah bekerja,

“Harusnya kamu tahu Steve, kita sudah lama pacaran, dan kita sudah terlalu sering ribut, aku sudah nggak mau ngomong lagi tentang perbedaan kita, itu tidak membantu”

“Nggak Mawar, kita harus tetap bicara tentang perbedaan itu, dan kita harus cari jalan keluar, karena aku mau hidup bersama kamu”

“Steve, justru karena itu aku sekarang lebih memilih untuk merubah diriku sendiri ketimbang memintamu berubah, aku butuh waktu Steve dan aku tetap mencitaimu”

“Mawar…”

Aku peluk Mawar, kuelus rambutnya yang hitam panjang, dan kurasakan air matanya mengalir membasahi kaos oblongku. Di kebun bunga milik Mawar, lengkapnya Ni Ketut Mawar, aku selalu merasa damai. Damai akan cinta sejati yang belum pernah kurasakan seumur hidupku. Namaku Steve Robinson, aku berasal dari Quensland. Kira-kira 1 tahun setelah lulus universitas, aku memutuskan untuk keluar Australia karena aku muak, muak dengan hidupku sendiri. Uang aku cukup, orang tuaku selalu mencukupi segala kebutuhan finansialku. Problemku klasik, Papaku sibuk bekerja dan sibuk dengan pacar barunya, dan Mamakupun nggak mau kalah, dia juga mau kawin lagi saat itu, dan aku dengar dia sudah punya dua anak dari laki-laki barunya. Aku anak nomor tiga, dan kedua kakaku sibuk dengan urusannya sendiri. Mulai SMA aku tinggal di asrama, dan setelah kuliah, mulai saat itulah aku mulai liar dan aku menikmatinya. Terakhir aku pergi ke gereja adalah saat Natal di elementary school. Dan setelah itu aku mulai tidak bersahabat dengan Tuhan. Tapi aku selalu merasa bahwa Tuhan selalu mau menjadi sahabatku.

Negara pertama yang menjadi tujuanku saat aku memutuskan pergi adalah Thailand, sepuluh bulan aku disana belajar menjadi bartender dari orang amerika yang tinggal disana, aku bekerja dibar miliknya selama 3 bulan sampai akhirnya aku bertemu dengan Kelly, gadis berkebangsaan Inggris yang liar dan selalu membuatku bergairah untuk bercinta dengannya. Tapi dia tidak mencitaiku, setelah 1 bulan tinggal bersamaku dia pindah tinggal bersama lelaki Belanda kaya yang punya bisnis di Thailand. Dan aku hidup tanpa cinta lagi, sampai aku bertemu dengan Tom, backpacker dari New Zeland yang bercerita kalau Bali adalah pulaunya para Dewa yang penuh dengan cinta, katanya aku pasti menemukan cinta disana. Tom adalah seorang Hindu, setiap pagi dia duduk bersila di teras depan kamarnya untuk benafas teratur dan mulutnya menggumamkan sesuatu yang aku tidak mengerti. Tapi yang penting bagiku, dia baik. Tom bercerita bahwa gadigadis di Bali sangat baik dan cantik dan Tom juga bilang bahwa di Bali hampir semua orang beragama Hindu seperti dia. Aku Cuma berpikir, kalau orang Hindu yang laki-laki seperti Tom saja baiknya minta ampun, apalagi yang wanita. Dan aku mulai punya pikiran untuk pindah dan tinggal di Bali. Setelah beberapa hari aku memikirkannya, akhirnya kuputuskan Aku akan berangkat ke Bali. Aku menelpon ayahku minta untuk dikirimi uang buat beli ticket pesawat keBali. Aku sangat berbahagia, hanya satu yang aku benar-benar inginkan saat di Bali nanti,yaitu ada seorang gadis Bali yang mau menyiapkan makan pagiku sebelum aku pergi dan saat malam tidur, bercerita dan bercinta denganku tanpa kemudian meninggalkanku untuk tidur dengan laki-laki lain seperti si brengsek Kelly.

20 Desember 2002, aku berangkat ke Bali dengan berbekal 1 backpack, lonely planet about Bali, dan keinginan mencari cinta. Didalam pesawat aku bermimpi tidur disamping Mamaku dan dia mencium keningku sebelum dia meninggalkan kamarku, I love this dream, biarpun Mamaku brengsek karena kawin lagi dan punya anak dari laki-laki selain ayahku, tapi bagaimanapun dia adalah ibu yang melahirkanku. Dan 2 anak yang dilahirkanny dari laki-laki lain itu adalah adik tiriku. Kata Mamaku saat aku telepon beberapa hari yang lalu mereka sudah kelas 6 dan kelas 9. Namanya Bill dan Nancy.

Hujan sangat deras sekali ketika pesawat turun di landasan airport Ngurah Rai, Bali. Di terminal kedatangan aku melihat namaku tertulis di papan nama yang dipegang seorang wanita dengan kulit coklat muda (kalau orang Indonesia bilang sawo matang) she is so sweet. Aku langsung lambaikan tangan pada wanita itu. Dan dia langsung berlari menemuiku.

“Welcome to Bali Mr. Robinson, let me take you backpack”

Aku sangat terkejut mendengarnya, dan berkata.

“Of course I won’t let you take my backpack, My father will kill me when he knows a beautifull lady like you take my bag”

“Ok, then let’s follow me”

Dan aku lihat warna merah dipipinya semakian merah seperti gadis-gadis lugu yang malu saat dipuji oleh lelaki. Dia mempersilahkan aku masuk sambil mengatakan sesuatu kepada sopirnya yang aku tidak mengerti artinya.

Mobil van merk Toyota yang luas tempat duduknya ini ini meluncur pelan meintasi gerimis di pulau Bali.

“Berapa lama Anda akan tinggal di Bali Mr. Robinson?

“Tidak tahu, mungkin sebulan, mungkin dua bulan, mungkin setahun atau mungkin selamanya”

“Ok” jawabnya tanpa menengok sedikitpun ke arahku, mungkin dia malu.

Jawabannya sangat sopan sambil mengangguk, dalam hatiku mungkin semua orang hotel selalu diajari untuk mengerti semua yang diucapkan oleh tamunya biarpun terdengar aneh.

“Kalau anda asli dari sini? Namamu siapa?

“Saya Ketut, lengkapnya Ni Ketut Mawar, dan saya asli Bali”

“OK”

“Kita akan segera sampai, setelah belokan di depan, Hotel Hard Rock ada tepat disebelah kanan dengan pemandangan pantai kuta yang eksotik.”

“Ya, saya sudah lihat di brochure dan internet tentang Hard Rock Kuta, makanya saya memutuskan untuk tinggal disini”

Pintu mobil Toyota ini dibuka oleh seorang pria muda yang sopan, dan Ketut, gadis Bali yang “sweet” mengajaku masuk ke lobby dan sekarang aku memperbolehkan tasku dibawa oleh orang lain karena dia pria “bellboy”

“Have a nice stay in Hard Rock Mr. Robinson, and here’s my card, call me if you need me to help you to see more about Bali” kata Ketut.

“OK, Ketut, thank you “ kataku sambil mengulurkan tangan dan memberinya tip.

Aku segera menyelesaikan proses check-in dan masuk ke kamar hotel. Bell boy yang mengantarku bercerita banyak tentang hardrock dan kuta, aku Cuma manggut-manggut, aku sedang tidak mood untuk segala kesenangan itu, aku sudah cukup puas dengan pataya di Thailand, wanita, alcohol dan ganja semua lengkap disana. Dan disini aku memutuskan untuk mencari sesuatu yang lain yaitu Bidadari yang sesungguhnya, dan aku akan berusaha. Uang yang diberikan ayahku katanya cukup untuk 1 bulan tinggal di hardrock dan makan 1 tahun plus tinggal di rumah sederhana di Bali katanya, dan aku percaya karena ayahku punya beberapa rekan bisnis yang tinggal di Bali. Aku merasa sangat beruntung punya orang tua yang selalu bisa memberi apa yang aku minta.

Dua hari sudah aku di Bali dan hampir separo waktuku aku gunakan untuk tidur, dan aku merasa nyaman sekali dengan bau dupa yang dibakar oleh pegawai hotel saat mereka meletakan bunga dan buah di beberapa tempat di hotel. Saat membauinya aku merasa sangat nyaman, dan otaku rasanya tenang sekali, dan aku tidak ingin pergi ke bar sedikitpun selama dua hari itu. Saat malam aku berjalan ditepi pantai kuta dan tiduran memandang langit yang keberulan sering gelap karena mendung, jadi hanya kutemukan beberapa bintang diatas sana. Memang luar biasa sinar bintang itu, segelap apapun langitnya, bila ada satu bintang saja yang bersinar dia akan terlihat. Dan aku ingat apa kata ayahku bahwa kalau langit hitam itu ibarat dunia keluargaku tepatnya sisi gelap keluargaku dan bintang-bintang kecil itu adalah perbuatan-perbuatan baik kita kita lakukan. Jadi seberapapun jeleknya orang kalau dia melakukan perbuatan baik yang sangat kecil sekalipun itu pasti akan dilihat oleh Tuhan, biarpun tidak oleh semua orang. Tuhan…ya, sudah lama aku tidak berbicara kepadaNya. Mengenai terlihat atau tidak biontang itu, dikarenakan ada sebagian orang yang saat melihat akan tertutup oleh gelapnya langit atau kejelekan orang yang dilihatnya, tapi ada sebagian orang yang langsung bisa melihat bintang itu, dan bisa melihat satu titik kebaikan saja diantara lautan kejelekan adalah orang yang sangat bijaksana. Ok, dad, aku akan berusaha melakukan hal-hal yang berguna apapun itu.

Hari ketiga aku di Bali, aku masih disekitar pantai kuta, banyak orang yang berlatih surfing, katanya sebentar lagi mau ada lomba yang diselenggarakan oleh sebuah produsen pakain surfing internasional. Beberapa hari sebelum aku meninggalkan Australia, aku memberikan papan surfing kesayanganku pada sahabatku di. Ada sedikit perasaan untuk mencoba lagi, untuk ikut bermain lagi tapi aku tidak tahu, ada terlintas dipikiranku apakah ini nantinya berguna untuku? Dan aku meneruskan berjalan menyusuri pantai dan mampir ke sebuah restoran di tepi pantai untuk makan disana. Pelayan di restoran itu sangat ramah, dia bercerita bahwa lomba ini termasuk cukup besar dan hadiahnya besar. Dan aku sama sekali tidak tertarik dengan hadiah uang yang besar itu, aku sudah cukup mendapat banyak dari ayahku. Lalu dia juga bilang bahwa selain dapat uang juga bisa digaet untuk jadi brand ambassador yang tugasnya adalah mempromsikan produk itu dan ikut mempromosikan olah raga surfing. Nah ini yang membuat aku berfikir, Sangat sederhana, kalau aku bisa menang dan bergabung menjadi brand ambassador setidaknya aku bisa ikut menyumbangkan keahlianku untuk diajarkan kepada orang-orang dan akhirnya menjadi orang yang berguna. Satu-satunya keahlian yang kumiliki adalah surfing. Sejak lulus kuliah aku tidak pernah bekerja secara formal, dan dari kecil permainan yang kulakukan adalah surfing, sekarang umurku baru 19 tahun, aku masih punya waktu untuk latihan karena lombanya adalah 1 bulan lagi. Aku harus melakukan sesuatu.

Memang bila ada sedikit saja keinginan dipikiran kita kadang Tuhan memberi respon dengan sangat cepat sekali, begini ceritanya. Aku kembali berjalan menyusuri pantai menuju ke kerumunan anak-anak muda yang duduk diatas surfingnya.

“Hai, aku mencari pelatih surfing yang paling hebat disini”

“kamu siapa? Katanya keras sambil tersenyum lebar

“Aku Steve, aku mau belajar surfing” aku merasakan bau alkohol dari mulutnya

“kalau Cuma belajar main bisa dengan aku, namaku Waveday”

“Aku mau yang terbaik disini Wave” Dalam hati aku berkata siapa yang mau belajar dari seorang pemabuk di siang hari.

“Kau meremehkan aku Steve, kalahkan aku”

“Aku malas wave, aku hanya mau bertemu dengan yang terbaik”jawabku kesal ”berapapun aku bayar”

Wajah wave memerah, dan dia perintahkan salah seorang temannya untuk memberikan papannya kepadaku.

“Now, kau membuat aku marah, ambil papan itu dan ikut aku ke air”

Ingin sebal sekali melihat wajah hitam yang menjadi merah karena alcohol itu, aku tidak takut sedikitpun biarpun aku orang baru disini. Ayahku selalu mengajarkan aku untuk berani terhadap apapun. Akhirnya kuambil juga papan itu dan berlari bersamanya ke air.

aSenbenarnya aku agak menyesal menuruti permintaan Waveday, tapi sekarang masalahnya aku terlanjur memegang papan surfing yang cukup lama aku tinggalkan dan aku sudah berlari menuju kea rah bibir pantai.

Aku mulai tidur dipapan dan mengayunkan tangan ke dalam air menuju ketengah, pukulan ombak kecil kearah kepalaku seperti menyadarkan aku untuk lebih fokus dan waspada. Oleh ayahku, aku selalu ditekankan untuk waspada dan focus saat berada di air, jangan pikirikan yang lain, jangan pikirkan lawanmu, tapi lihat dan ikuti arus ombak yang ada, dan cari ombak yang besar. Aku terus mengaunkan tangan. Aku mendengar sayup-sayup suara Waveday berteriak-teriak kearahku dan terdengar seperti ejekan, aku berusaha tidak memikirkan. Aku sangat focus sekarang. Lalu air terasa mulai seperti tenang, itulah saat kita mulai membalikan papan dan meluncur mengikuti gulungan ombak. Aku sudah berdiri dipapan surfing warna kuning milik teman Waveday. Darahku mengalir sangat kencang sekali, ombak itu begitu tinggi, jantungku berdegup keras sekali, dan aku sangat menyukai suasana seperti ini, aku merasa sangat berarti, sangat hidup. Aku arahkan papanku ke gulungan di samping kiri dan aku berhasil memasukinya, suara air itu sangat gemuruh, dan aku berada di dalam lubang gulungan ombak yang meluncur kea rah pantai. Aku terus mengarahkan papan itu untuk bisa keluar dari lubang itu sebelum dia mengecil dan menghantamku, akhir lubang itu terlihat begitu jelas, tapi rasanya berat dan sulit sekali untuk menuju kesana, tanpa aku sadari aku mengatakan “God, please help me to finish it” dan setelah itu aku merasakan seperti ada yang mendorongku untuk meluncur lebih cepat dan akhirnya keluar dari gulungan ombak tersebut, dan kumainkan papan itu mengikuti ombak kecil yang mendorongku ke arah pantai. Aku lihat sekelilingku, Wave tidak kelihatan, dan dipantai kulihat beberapa temannya membanting topinya dan beberapa lagi berteriak sambil menunjuk ke arahku, lebih tepatnya kebelakangku. Aku berhenti dan duduk diatas papan dan mencoba melihat kesekeliling dan aku tak menemukan Wave. Seharusnya dia ada dibelakangku. Shit!! Seharusnya aku tidak meladeni ajakannya, khan dia habis minum! Tiba-tiba aku sadar dan merasa bersalah, aku telah berlomba dengan orang mabuk. Aku berenang kembali menyusuri tempat aku meluncur dans esekali menyelam. Akhirnya aku melihat papan surfing warna putih yang digunakan Wave terapung kira-kira 50 meter dari tempatku. Aku ayunkan tangan sekuat tenagaku menuju kepapan itu dan langsung kulepas tali papan yang mengikat kakiku, dan aku menyelam karena tidak kulihat Wave diatas air. Terlihat Wave melayang dibawah surfingnya sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Aku tarik dia ketatas, dan aku berusaha mengaitkan tangannya kepapan surfing agar kepalanya bisa diatas air. Kudorong papan itu kearah pantai yang kira-kira jaraknya masih 50 meter, aku tidak bisa berpikir aku hanya berusaha mengayuhkan dua kaki dan satu tanganku agar cepat bisa ke pantai. Aku bisa melihat beberapa penjaga pantai melompat ke air dan berenang kearah kami. Berat sekali rasanya mengayunkan tangan dan kakiku.

“Kamu bodoh Dave, dan kau harus hidup untuk membayar kebodohanmu ini” teriaku ke wajah Dave.

Dan akhirnya para penjaga pantai itu yang mengambil Dave dan membawanya ke pantai, dan aku berenang kembali mengambil papanku yang sudah terbawa ombak sekitar 25 meter kearah laut dan kembali mengayuh ke pantai sekuat tenaga.

Aku lihat di panati banyak orang mengerumuni Wave, aku langsung menerjang menyibak sekumpulan orang-orang itu, dan berlutut di kaki Dave, aku guncang-guncangkan kakinya sambil berteriak memintanya untuk sadar. Penjaga pantai itu terus memberinya nafas buatan dan menekan dadanya. Dan akhirnya Wave memuntahkan air dari mulutnya. Aku lega dan penjaga itu segera membawa Wave ketepi pantai untuk dibawa ke rumah sakit. Semua teman Wave dengan sepeda motor mengikuti mobi yang membawa Dave. Dan aku bingung harus berbuat apa, aku Cuma bisa melihat semua orang mulai melakukan aktifitas seperti biasa dan aku berdiri di trotoar melihat sampai mobil yang membawa Wave hilang dari pandangan.

Oh..apalagi ini, seumur hidupku aku belum pernah dihadapkan dengan masalah sekritis ini, hamper saja aku melihat orang yang berada didekatku, bahkan bermain bersamaku meninggal. Aku melihat hiasan Natal dan sayup-sayup lagu natal di Lobby hotel tempatku tinggal. Disana ada pohon Natal dan dibawahnya ada hiasan segerombolan orang yang berlutut didepan bayi yang didampingi oleh ayah ibunya. Yesus…sudah lama aku tidak berbicara dengannya. Setelah mama dan papaku berpisah aku relative hidup sendiri dan mulai hidup dengan keinginanku sendiri, waktu itu aku merasa bahwa aku mulai tidak memerlukan Tuhan karena aku merasa bisa bahagia tanpanya, semua keinginanku dikabulkan oleh ayahku dan aku sangat bahagia saat itu. Dan baru saja aku melihat batas antara kehidupan dan kematian yang sangat tipis. Wave baru saja bersenang –senang dengan teman-temannya di bar, lalu bertemu denganku dan kita berlomba, dan Wave tenggelam. Lalu bisa selamat. Mungkin saja bila aku tidak melihat tanda yang diberikan oleh teman Wave aku pasti akan terus meluncur sampai pantai dan Wave sudah mati didasar laut. Aku belum mau mati Yesus, kataku dalam hati. Aku masih ingin menemukan wanita yang akan menyiapkan makan pagiku dan menjadi teman tidurku untuk selamanya sampai matiku.

“di mana gereja terdekat yang menggunakan bahasa inggris? Tanyaku kepada receptionis

“Oh ada, sebentar ya” lalu dia menuliskan sebuah alamat pada selembar kertas dan menjelaskan bagaimana aku bisa sampai disana.

“Ok, kalau begitu tolong pesankan taxi, setengah jam lagi aku akan turun dari kamarku”

“Yes, mr. Robinson”

Gereja itu cukup besar dan ada ukiran-ukiran yang aku lihat juga digedung-gedung lainnya. Aku masuk ada beberapa orang berkulit coklat disana tapi kebanyakan adalah sama seperti aku. Lalu ritual sebuah misa dimulai dan orang yang berbicara didepan masih muda, bicaranya menarik, tapi aku tidak bisa menangkap semuanya. Yang ada dipikiranku adalah ingatan saat aku digandeng oleh mama dan papaku di hari minggu berjalan masuk ke gereja yang selalu kita kunjungi setiap minggu. Aku sangat merindukan hal itu.

“Kau akan menemukan apa yang kau cari, bila kau percaya. Yesus tidak akan pernah tidur demi membahagiakan umatNya. Dia akan selalu mencarikan yang terbaik untuk umatNya.” Itu sedikit yang kuingat dari sekian banyak kata yang diucapkan oleh Pendeta muda itu.

Ya..aku pasti akan mendapatkan wanita yang menyiapkan makan pagiku dan menemaniku tidur selama hidupku…pasti. Lalu aku pulang sebelum misa itu selesai..dan aku merasa sangat yakin dan berbahagia. Langkahku tersa lebih ringan, dan aku teringat lagi akan Wave, bagaimana dia sekarang? Aku panggil taxi dan meminta sopir untuk mengantarku ke pantai dimana aku bertemu Wave siang tadi. Malam sangat cerah sekali, tidak hujan dan suara music hinar binger terdengar dari pub-pub yang berada disepamjang jalan dekat pantai. Aku berjalan pelan sambil melihat seksama ke dalam pub dan resto yang aku lewati.

“Hey, Steve, sini kamu” terdengar teriakan dari sebuah restoran pizza yang tidak terlalu besar, dan Wave terlihat melambaikan tangan kearahku sambil memegang botol beer ditangan kirinya.

Aku langsung menuju ketempatnya dan menyambar telapak tangannya dengan keras.

“You are crazy Wave”

“And you are brave my man, I like you”

“Wave, aku Cuma minta jangan mabuk saat berselancar, berbahaya”

“Ok..Ok….ayuk bergabung dengan kita”

Aku langsung berkenalan dengan beberapa temannya, ada Wayan Palmer, Made Board dan Ketut Stone. Katanya mereka menambahi nama belakang mereka agar terdengar lebih cool saat bergaul dengan para surfer lain dan lebih menjual. Malam itu aku menemukan duniaku, aku merasa sangat senang bergaul dengan mereka dan aku putuskan untuk belajar surfing dari Wave yang ternyata adalah seorang juara local tahun yang lalu dan dia disponsori oleh salah satu merk pakaian surfing yang sangat terkenal. Dan aku terus berlatih dibawah bimbingan Wave, yang ternyata sangat serius orangnya, dia melatihku dengan sangat keras dengan jadwal yang sangat ketat. Dan aku memutuskan untuk pindah ke sebuah rumah yang kusewa selama setahun sehingga dengan sisa uangku aku bisa hidup tanpa beban selama setahun. Dan aku putuskan untuk sesekali membantu Wave melatih surfing untuk para tourist. Pap, Mam, now I get what I want. Aku bekerja melakukan apa yang aku suka, uangnya memang tidak seberapa, untuk makan dan nongkrong di bar sudah habis. Tapi aku sudah mulai belajar untuk punya tabungan. Sisa uang yang diberikan ayahku masih tetap berada pada tempatnya yaitu di bank. Wave yang nama aslinya adalah Wayan Ombak , banyak mengajarkan hal-hal yang menurutku sangat luar biasa kepadaku. Usianya lima tahun diatasku, tapi kebijaksanaannya luar biasa kalau dia tidak minum, tapi saat minum minta ampun, dia berubah 180 derajat menjadi orang yang liar. Dan dia sangat setia kawan. Dia peranakan campuran, ayahnya adalah orang Bali asli sedangkan Mamanya adalah orang Jepang yang sudah menjadi warga Negara Indonesia. Mereka memiliki sebuah took souvernir dan restaurant Jepang yang cukup ramai di Kuta. I start to love Bali and forget about a lady who will prepare my breakfast and always sleeping beside me, sampai di suatu pagi saat aku di pantai aku melihat seorang Mawar sedang bermain pasir bersama kawan wanitanya.

“Hai Mawar, kau masih ingat denganku? Aku Steve, yang pernah kau jemput di airport”

“Oh, hai Mr. Steve, ya pasti aku masih ingat, kau memberi aku uang tip yang lumayan besar”

“Jangan panggil aku mister Mawar, panggil Steve, dan ini?”

“Hai, aku Dayu”

“Hai Dayu, I’m Steve”

“Steve, kau datang waktu itu kalau tidak salah bulan desember ya?”

“Ya, tidak terasa sudah 3 bulan aku di Bali”

“Masih tinggal di Hard Rock?”

“No, aku sudah sewa rumah di daerah Legian”

“Kau pasti suka Bali Steve, sampai 3 bulan sudah kau tinggal disini”

“Ya, aku suka dan ada yang aku cari disini. Mawar, aku masih menyimpan kartu namamu, aku akan telepon kau nanti, aku pergi dulu, itu temanku sudah menunggu aku untuk pergi”

Sialan Wave memanggil aku keras sekali dan menyuruhku cepat-cepat ke mobil, padahal aku masih ingin bicara banyak dengan Mawar. Ternyata dia sangat cantik di saat bebas dan menggunakan celana pendek dan kaus putih ketat.

Itulah momentum yang luar biasa dalam hidupku dan sejak saat itu kami sering makan malam bersama, dan pegi ke gereja bersama.

Kamis, 17 Januari 2008

Wayan dari Seberang (Bag 6)

ARYA “JD”

Superman is dead!! Ya Superman memang sudah mati, jadi banyak orang jahat yang berkeliaran. Banyak pencoleng, penipu. Dulu, kira-kira sepuluh tahun yang lalu ketika aku masih SMA, aku selalu dengan bangga menceritakan pada teman-temanku dari luar Bali bahwa, di Bali aman banget, di halaman rumah kalau kita ninggalin sepeda motor dengan kunci kontak yang masih nempel di sepeda motor, nggak bakalan hilang! Kanapa? Karena orang Bali takut karma! Tapi sekali lagi itu dulu, sekarang kalau kita melakukan hal itu ya sama saja ngasi sajen untuk para pencoleng itu. Menurut pengamat itu terjadi karena banyak pendatang dari luar Bali, ada yang bilang karena sekarang cari uang tambah susah. Aku sendiri nggak begitu ngerti kenapa, tapi menurutku yang jelas mereka Cuma mau gampangnya untuk dapat uang, dan nggak perduli dengan kesusahan orang lain. So…dari pada dipikirin lebih baik kujadikan inspirasi untuk lukisan saja. Teman-temanku sering bilang aku antik karena lukisanku adalah tentang kehidupan sehari-hari yang terbilang nggak umum, tapi tetap dengan gaya Bali seperti yang terlihat di Sukawati hanya saja dari segi ukuran, obyek yang aku lukis nggak terlihat rumit, contohnya adalah lukisanku dengan judul “kecurian sepeda motor”, di situ aku melukis 3 obyek, yaitu laki-laki sebagai ayah, perempuan sebagai ibu dan anak perempuan kecil yang sedang menghitung lembaran uang dengan wajah sedih karena mereka masih harus nyicil motor yang minggu kemarin dicuri. Ya uang gaji mereka cukup atau pas banget untuk makan sehari-hari, sekolah anak, mebanten dan nyicil motor, jadi cicilan motor itu ibarat tabungan buat mereka. Dan sekarang mereka harus membayar cicilan motor ditambah dengan ongkos transport untuk si ayah berangkat kerja. Dan lebih bodohnya lagi lukisan itu laku dibeli kolektor gila dari Surabaya dengan harga yang fantastis menurutku yaitu lima puluh juta Man!! Dengan uang lima puluh juta di tangan langsung kulunasi cicilan sepeda motor Yamaha Jupiter kakaku, dengan tujuan agar yang ada di gambar itu tidak terjadi dikeluarga dekatku, lalu dua puluh juta kuberikan ibu dan ayahku dan sisanya yang dua puluh juta aku pakai untuk beli motor BMW tahun 50, sepeda gunung, minum bareng teman-teman dan untuk beli 10 kanvas, cat serta kuas, dan beberapa “JD” atau Jack Daniels minuman kesukaanku.

Namaku Arya, lengkapnya I Gede Arya Pratama, dan biasa dipanggil Arya JD, karena kebiasaanku minum Jack Daniel setiap hari dengan takaran tentunya, yaitu satu sloki sebelum makan siang dan satu sloki sebelum makan malam. Kadang-kadang suka kebanyakan minumnya, terutama kalau pas ada tamu atau teman yang dating dan mereka suka minum dan saat lagi melukis. Sehari-hari yang kulakukan adalah sembahyang di sangah, melukis, mencari obyek foto yang bagus, dan nongkrong bareng teman-teman club sepeda motor antic di Sanur. Dan aku sangat menikmati hidupku, uang akupun nggak susah-susah banget untuk mendapatkannya, lukisanku cukup lumayan laris dengan harga sekitar 5 sampai 20 jutaan (kadang lebih, cuma nggak sering). Dengan begitu hidupku makmur dan boros dan banyak teman yang mendekat, mungkin karena aku suka bayarin mereka minum.

Hanphone di kantongku mengeluarkan bunyi lagu …………milik Superman is Dead, band rock dari Kuta Bali yang akhirnya bisa masuk pasar nasional, dan khusus deprogram kalau ada telepon dari sahabatku, Dayu Kenanga.

“Hai Dayu”

“Om swastiyastu Arya, lagi dimana?”

“Lagi nongkrong di Sukawai, hunting moment yang tepat buat inspirasi lukisan”

“Kalau aku lagi di Yogya, aku pengen ketemu sama kamu nanti setelah pulang”

“Anytime Dayu, just call me first”

“Thanks Ya”

“Pengen ngomongin apa sih Dayu? Kelihatannya penting banget?”

“Cuman mau ketemu, dan ngajak kamu pergi ke Bedugul, sudah lama nggak kesana”

“Ok, kamu yang nyetir ya…khan aku nggak punya mobil, ntar hilang cantikmu kalau naik BMW ku”

“Ah..Arya, aku nggak pernah malu kamu boncengin BMW mu, cumin kamu yang nggak pernah mau boncengin aku”

“Ha..ha…ha…someday, aku pasti boncengin kalau aku sudah ganti jog belakangnya”

“Ok, see yu next week”

Aku dan Dayu bersahabat sejak SMA, dia cantik, tapi sedikitpun aku nggak pengen jadikan dia sebagai pacarku, aku lebih suka dengan gadis bule dengan kulit yang putih kemerahan kena sinar panas matahari. Dan karena itu maka sekarang aku pacaran dengan Jenifer, anak dari pengusaha Australia yang jatuh cinta dengan Bali, terutama dengan aku, Arya JD.

Bagiku Jenifer adalah segalanya, dia sekarang memiliki dan mengelola sebuah hotel kecil 20 kamar dengan kolam renang kecil berbentuk oval, restoran dan bar open air, dan setiap sore setiap hari senin, rabu dan jumat dia mengajar kursus bahasa inggris gratis di restoran itu. Murid-muridnya berfariasi, ada yang SMP, SMA, kuliah bahkan ada beberapa orang tua dengan umur diatas 35th. Di hari senin dia mengajarkan teorinya, seperti tata bahasa atau istilah kerennya grammar. Dan di hari rabunya di selalu melalukan bedah buku bahasa inggris, dari mulai buku anak-anak bergambar sampai novel. Kemudian di hari umatnya mereka betul-betul bersenang-senang karena Jenifer selalu menyelenggarakan hal-hal yang menarik seperti bagaimana membuat coctal, demo memasak oleh salah satu Cheffnya, atau berenang, atau diskusi tentang Bali dan kebiasaan dan kebudayaannya.

Dia sudah kurang lebih 6 bulan melakukan hal ini, ini membuat kelian banjar tempat dia tinggal sekaligus hotelnya menjadi sangat senang, karena sekarang banyak anak-anak muda yang tadinya menganggur bisa kerja part timer di tempat Jeniffer menjadi bar tender atau guide saat tamu dari hotelnya membutuhkan. Itu semua adalah hasil dari bimbingan Jeniffer. Nama hotelnya adalah Bali Banget hotel.

Siang itu panas matahari terasa enak sekali, mungkin ini karena aku tidak takut jadi hitam. Seperti biasa aku nyantai banget pakai sarung bali dengan corak batik coklat tua, dan baju lengan pendek motif bunga warna biru laut. Aku mengendarai BMW ku menuju ke hotel Bali banget. Soarang sekuriti dengan seragam sarung dan saput poleng hitam putih khas bali menyambutku.

“Om swastiastu Bli Arya” sambutnya sambil menyangkupkan kedua tangannya didepan dada.

“Om Swastiastu Bapa Mendra, Jeniffer ada?

“Ada bli, lagi berenang”

“Ok, tiyang langsung saja swimming poll”

“Nggih, durus..silakan Bli”

Bap Mendra adalah jagoan yang sangat disegani di wilayah situ, orangnya sangat sopan, tapi memang biasanya kalau jagoan sudah sampai pada tingkat yang cukup tinggi orangnya cenderung sopan, dan yang sok-sok itu biasanya jagoan yang tanggung.

Aku paling suka saat berenang bareng dia karena aku nggak pernah bosan melihat tubuh Jeniffer, aku sering bilang sama dia kalau keindahan tubuh Jeniffer Lopes adalah satu grade dibawah keindahan tubuhnya. Lalu katanya…”Dasar Seniman!”

Jenifer tidur di kursi kolam renang dengan kaca mata hitam, aku tahu dia tidur menikmati mathari siang itu. Dan sengaja aku berjalan memtar agar tidak terlihat olehnya, dan aku langsung ikut tidur di kursi yang berada disampingnya ikut menikmti panasnya matahari, dan aku ketiduran.

Tiba-tiba kurasakan ada seseorang menindihku dan menciumku, bibirnya hangat sekali dan aku tahu dia Jenifer.

“Jangan disini Jenifer”

“I’m just kissing your lips”

“Ya, tapi jangan disini, nggak enak dilihat karyawanmu”

“Ok, aku tahu kau mau, tapi aku menghargai Ke-balianmu, dan itu yang menyebabkan aku jatuh cinta sama kamu”

Dan dia beringsut dan berbaring disebelahku, kursi santai kolam renang itu pas banget untuk kami berdua, Jenifer memiliki tubuh semampai dengan tinggi 170 cm dan berat 50 kg. sangat sempurna dimataku, sekali lagi lihatlah Jenifer Lopez, nah seperti itulah tubuhnnya. Dan aku sendiri nggak besar dan nggak kurus, 176cm dengan berat 69 kg.

“Dayu ngajak ke Bedugul minggu depan setelah dia pulang dari yogy, kau bisa ikut”

“Of course I should go, aku nggak mau Dayu selalu disampingmu”

“Kamu selalu cemburu, she will never fall in love to me, dia Ida Ayu, dan aku sudra”

“Ya, but kamu sudra yang berhati bangsawan”

“Terserah kamu, aku lapar, kamu masak apa?”

“Mbok Made tadi masak sop dan ayam goring, ada sambel mentah kesukaanmu kok”

“O, makan sekarang yuk”

Dan kami makan siang, ngobrol tentang lukisan, tentang rencana Jenifer untuk ngajak aku pameran di Melbourne, dan dia bilang kalau ayahnya bisa bantu. Dan dia bilang kalau nanti menikah pengen punya anak 4 agar nama Bali bisa dipakai semuanya, yaitu, Gede, Made, Nyoman dan Ketut. Ya, kami berencana untuk menikah tahun depan. Kedua orang tua kami sudah setuju, Cuma aku saja yang kadang belum pengen untuk menikah. Kita berdua saat ini bisa dibilang sudah hidup bersama, aku sering tidur di rumahnya dan Jenifer juga sering tidur dirumahku. Semua saudaraku sudah tidak ada lagi yang memprotes apa yang aku lakukan. Aku selalu bilang ke mereka, this is my life, and I’m taking responsible of what I’m doing, I love her, and I will marry her when I want it to.

Aku pacaran dengan Jenifer kurang lebih sudah 2 tahun, kami bertemu di gallery miliku, saat itu dia dan orang tuanya sedang berlibur di Bali dan mereka masuk ke galeryku saat mereka jalan mau makan siang. Saat itu aku melihatJenifer sebagai gadis yang sangat cerdas dan global pikirannya, orang tuanyapun sangat santun. Mereka banyak bertanya tentang lukisanku, mengapa berbeda gaya dengan lukisan Bali pada umumnya? Dan banyak hal, sampai akhirnya aku diundangmakan malam di Hyat Sanur, tempat dia menginap bersama keluarganya. Jenifer anak tunggal, dan orang tuanya seorang pengusaha properti yang sukses di Melbourne. Mereka sudah berkali-kali ke Bali, pertama ketika Jenifer masih 3 tahu, kedua saat 12 tahun,ketiga saat 15 tahu, dan yang keempat sekarang saat usianya sudah 22 tahun. 22 tahun adalah usia dimana seorang wanita menuju matang secara kemandiriannya, dan secara bentuk tubuh, tang kedua adalah saat wanita itu mulai melhirkan anaknya yang pertama, ada dua resikonya, pertama menjadi tidak terkontrol alias overweight, kedua menjadi semakin berisi atau sintal tepatnya. Malam itu kami bicara banyak tentang Bali, kehidupan kita dan banyak sekali, sampai akhirnya Jenifer minta ijin kepada orang tuanya untuk jalan ke Bedugul denganku, dan orang tuanya mengijinkan, sambil berpesan,

“Arya, she is the only diamond we have, you take care of her”

Dan aku langsung jawab tanpa basa-basi

“I will sir”

Dari situlah hubungan kami terbina, dan Jenifer mulai sering bolak-balik ke Bali. Setelah menyelesaikan S2 Busines menagementnya di Australia dia memutuskan untuk tinggal di Bali dan akhirnya oleh ayahnya dia dibelikan sebuah cottage untuk dia kelola.

Siang itu setelah makan siang kami bercinta di kamar Jenifer, dan malamnya kami makan malam di pantai jimbaran. Makan sea food dan melihat lampu pesawat-pesawat boeing naik turun dari landasan ke langit membawa dating dan pergi orang-orang yang ingin menikmati keindahan Bali.

Lanjutkan ke bagian 7>>

Wayan dari Seberang (Bag 5)

DAYU KENANGA

Namaku Dayu Kenanga, lengkapnya Ida Ayu Kenanga Wangi, seperti biasanya pagi-pagi aku bangun untuk mulai hariku. Hari ini aku tidak mebanten, tugas itu kuserahkan pada Ni Loka, pemambantu dirumah yang sudah ‘mengabdi’ di griya tempat tinggalku selama 30 tahun, jadi dia lebih lama tinggal dirumah ini ketimbang aku. Setelah cuci muka, aku menyisir rambutku yang panjangnya kalau diurai kedepan bisa menutupi buah dadaku, cukup panjang untuk ukuran gadis seusiaku di jaman pemansan global seperti sekarang ini. Tapi aku suka rambutku. Aku keluar dari kamarku dan berjalan ke ruang makan malalui kebun yang kata temanku seperti hotel bintang lima, ya memang rumahku cukup besar, luasnya sekitar 1000m2 dan seperti rumah khas bangsawan bali ‘griya’ terpisah-pisah dan penuh dengan ukiran yang berlapiskan prada emas, tapi aku sendiri tidak merasa bangga akan hal itu, Cuma kawanku yang selalu memuji ketika mereka main atau menginap dirumahku. Pembantu dirumahku ada 6 orang, masing-masing punya tugas sendiri-sendiri. Dan dulu aku punya satu yang tugasnya Cuma mengurusi diriku saja, tapi semenjak kelas satu SMA, aku perintahkan dia untuk tidak pernah lagi mengurusku kecuali aku minta. Ya, aku hidup seperti putrid raja, dan memang aku putrid seorang keturunan raja.

“Kamu bangun kesiangan Dayu?’ Tanya Ibuku

“Ya, aku harus tidar pagi untuk menyiapkan proposal ke Pemda dan pakaian untuk perjalanan ke Yogya hari ini”

“Berapa hari kamu rencana ke Yogya”

“Mungkin satu minggu, karena tiyang rencana sekalian belajar dari kelompok PKK disana yang katanya sukses di bidang jasa rias pengantin”

“Dayu, Aji sama sekali tidak keberatan kamu melakukan semua ini, Cuma kamu harus ingat, kamu adalah penerus tunggal keluarga kita, kapan kamu mau member jawaban tentang Gus Putra?” Tanya Aji Gus Raka.

“Aji, tiyang belum bisa jawab, ini masalah hati”

“Hati bisa mengikuti setelah ada kemauan Dayu”

“Di dunia profesionalisme Aji betul, tapi ini masalah pasangan hidup, beda Aji”

“Aji bisa mengerti Dayu, tapi kamu juga harus mengerti bahwa kita punya keluarga besar yang kita wakili”

“Nggih Aji, tapi apakah hidup kita akan ditentukan oleh apa kata sudara kita yang belum tentu perhatian dengan masa depan kita?, Aji sendiri yang banyak membantu keluarga tidak pernah memaksakan kehendak terhadap orang lain apalagi saudara”

“Ehm…penerbangan kamu ke Yogya jam berapa Dayu?” kata Ibu menyela pembicaraan yang selalu berujung dengan kekesalan satu sama lain.

“Jam 09.00 Bu”

Aku merasa beruntung memiliki orang tua yang cukup moderat terhadap perkembangan jaman, mereka tidak pernah memaksakan kemauannya terutama yang menyangkut tradisi bahwa aku harus menikah dengan orang yang sederajat denganku ‘bangsawan’. Ya, sebagian teman dan saudaraku bilang bahwa aku beruntung, tapi sebagian lagi bilang bahwa keluargaku tidak bisa menjaga tradisi dan menurunkan derajat keluarga. Beberapa keputusan yang diambil ayahku tidak sejalan dengan apa kemauan mereka kebanyakan yang katanya menjaga tradisi. Ayahku memiliki manager pemasaran di kantornya Dayu Ika, dia dikucilkan oleh keluarga besar griya karena menikah dengan Gede Bajra orang kebanyakan alias ‘sudra’. Tapi kata ayahku, menikah itu adalah masalah hati, bukan masalah derajat. Setelah menikah Dayu ‘dibuang’ tapi oleh ayah, dia disuruh datang kerumah. Aku masih ingat, saat Dayu Ika menangis dipelukan Ibuku, dan Bli Gede duduk tegak diam, dan aku bisa merasakan betapa sesak dadanya berjuang atas nama cinta. Saat itu Bli Gede masih sebagai seorang guide dengan gaji pas-pasan dan belum punya rumah. Ayahku memberikan masukan kepada mereka untuk kontrak rumah sendiri, dan meminta Dayu Ika untuk ikut membantunya di kantor. Dan sekarang, Dayu Ika menjadi orang kepercayaan ayahku, Bli Gede memiliki restaurant khas Bali yang jadi langganan para turis asing berkat promosi teman-teman turis asing yang pernah dia layani saat liburan di Bali. Dan saudara ayahku tetap pada pendiriannya untuk mengucilkan mereka.

Pak Ari sopir keluargaku sudah siap didepan, dan aku masuk duduk disampingnya. Mobil meluncur dan aku lambaikan tangan kepada ibuku yang selalu berada didepan rumah saat aku pergi kemanapun. Aku sangat mencintai ibuku.

“Berapa hari di Yogya Dayu?”

“Paling lama satu minggu pak Ari, dan nanti saya telepon pak Ari kalau saya sudah tahu jadwal pulangnya”

“Dayu, tiyang sering dapat titipan salam dari Gus Raka, kalau pas ke griya temple mengantar titipan Ibu, katanya dia hanya mau pacaran sama Dayu”

“Pak Ari, sudah berapa kali bapak ngomong seperti ini ke saya, dan tolong sampaikan ke dia, suruh dia ngomong sendiri ke Dayu!, tiyang nggak suka laki-laki yang nggak gentle, beraninya ngomong ke orang lain, nggak berani ngomong sendiri”

“Nggih Dayu, selalu tiyang sampaikan ke Gus seperti yang Dayu pesan ke tiyang, dan selalu dia bilang nanti bila saatnya tiba”

Aku diam, sebel, karena ini bukan yang kedua kali atau ketiga kali, Gus Raka selalu menggunakan kekuasaannya untuk segala kepentingannya termasuk bilang cinta sama aku, dan terus terang aku mulai muak dengan gaya feodalismenya yang sudah nggak jamannya lagi. Sebenarnya orangnya ok, cakep, kaya, cukup pandai, sekolahnya juga cukup OK, Cuma gayanya yang buat aku nggak sreg, tapi ayahku beberapa kali menyinggung dia saat makan malam bersama. Dari cara Aji berbicara, terlihat sekali kalau dia menginginkan aku untuk berpacaran dengan Gus Raka dan nantinya menikah. Kami adalah saudara jauh, ayah Gus Raka adalah saudara jauh yang menjadi saudara karena perkawinan adik ayah dengan salah satu kerabat ayahnya Gus Raka. Ah..lebih baik aku pikirkan perjalananku ke Yogya dari pada buang energy memikirkan hal yang menurutku belum perlu dipikirkan.

Handphoneku bergetar…

”selamat pagi”

“Hai Dayu! Jam berapa sampai di Yogya, nanti aku jemput” suara yang keras dari seberang sana sangat nyaring terdengar, Laksmi, lengkapnya Ni Made Laksmi, sahabatku dari mulai SMA dulu yang kini sudah menetap di Yogya, menikah dengan pria pilihannya yaitu Erwin dari Yogyakarta yang berprofesi sebagai Wedding singer, atau penyanyi untuk acara perkawinan yang skalanya besar di Yogyakarta. Dan Laksmi sendiri menjalankan bisnis network marketing dan terbilang sudah mulai menuai kesuksesannya.

“jadwalnya sih jam 11.00 nanti landing di Yogya, kamu lagi dimana?”

“Aku lagi nungguin Sari di sekolahannya, khan dia sudah play group sekarang”

“Ya ampun, keponakanku sudah sekolah”

“Kali ini kamu mau nggak nginep dirumahku? Jangan di hotel”

“Nggak enak sama Erwin Laks, aku banyak muter-muter sampai malam, nanti malah ngrepotin”

“Kamu selalu begitu Dayu, ok kita bicara nanti saja, see U at the airport”

“Ok Laks, da….”

Dan aku sudah sampai di pintu depan check in domestic Ngurah Rai airport, aku sisipkan lipatan uang seratus ribuan kekantong baju depan pak Ari.

‘Nggak usah ngomong apa-apa, itu buat liburan sama anak-anak ke Tiara Dewata besok minggu, Suksma Pak Ari, samapai ketemu minggu depan”

Mulut pak Ari yang tadinya terbuka mau mengatakan sesuatu langsung tertutup, dan tersenyum. Dari senyumnya saja aku sudah bisa membaca bahwa dalam hatinya dia mengucapkan terima kasih yang luar biasa besarnya kepadaku dan Dia yang punya hidup.

Duduk dia dalam pesawat, aku langsung masukan earphone ke telingaku dan memejamkan mata menikmati U2..but I still haven’t found what I am looking for…”

Lanjutkan ke bagian 6>>

Wayan dari Seberang (Bag 4)

PERJALANAN II

Sudah dua minggu aku melakukan perjalanan ini, warna kulitku mulai gelap, dan kaki tanganku mulai mengeras seiring dengan terlatihnya ototku setiap hari. Dan yang penting aku sudah tidak pernah merasa mual, pusing atau sesak selama perjalanan seperti yang kualami waktu di Besakih 10 hari yang lalu. Mungkin kini aku mulai bisa mengukur batas kekuatanku sehingga aku selalu beristirahat sebelum rasa yang menyakitkan itu dating. Dan yang paling penting adalah aku sudah mulai menikmati perjalanan ini dengan hati yang sangat damai, aku bertemu banyak orang, aku melihat banyak kejadian, aku mendengar banyak cerita, dan aku mendapatkan IMPIAN. Ya, impian itulah yang ternyata membuatku semangat. Aku sangat yakin sekali bahwa aku akan mendapatkan wanita pendampingku di Bali dalam waktu yang aku sendiri tidak mengerti, tapi adrenalin semangat itu terasa sekali mengaliri darahku..and it’s beautiful day…kata Bono U2.

Ini hari ke dua aku bermalam di home stay tepi danau Bedugul. Aku sangat mencitai tempat ini, saat pagi hujan gerimis menembusi kabut tipis yang berada ditengah danau, udaranya yangan dingin kira-kira 15 derajat celcius, dingin! Untuk ukuran orang Indonesia kelahiran Semarang yang panas seperti aku. Sekitar danau masih hijau, masih cukup terjaga, hanya memang villa-villa baru sudah mulai cukup banyak bermunculan. Pagi itu aku memutuskan untuk berjalan kaki ke warung dipingir danau untuk sarapan mie rebus campur telor. Dan minum susu panas campur telor ayam mentah.

Pipi gadis penjaga warung itu memerah karena hawa dingin Bedugul, umurnya kira-kira 18 tahun, dia tidak banyak bicara wajahnya serius dan terus melakukan pekerjaaan apa saja di warung itu. Sementara pria yang membantunya mengangkat yang berat-berat seperti seember air badannya tinggi tegap dan kulitnya coklat kehitaman karena terbakar sinar matahari, sering mincing di tengah danau mungkin pikirku. Mereka berdua adalah pasangan suami istri muda yang belum dikarunia anak, mereka kawin muda beberapa saat setelah lulus SMA, dan sekarang mengontrak sebidang tanah untuk mereka pakai sebagai warung untuk penghidupan mereka sehari-hari. Mereka sangat bersahaja dan menurutku mereka jauh lebih bijaksana dari pada teman-temanku yang sudah lulus S1 atau S2 tapi sampai sekarang masih nganggur karena belum dapat kerjaan, dan mereka tidak malu-malu untuk tetap tinggal dirumah orang tuanya setelah orang tuanya mengeluarkan beaya ratusan juta rupiah untuk beaya sekolah mereka. Aku menikmati sekali ngobrol dengan pasangan ini, Namanya Ketut Rati dan Made Bajra. Ketut yang terlihat pendiam ternyata sangat periang saat menceritakan bagaimana dia pertama kali bertemu dengan suaminya saat numpang angkutan desa bersama, katanya dia memang sudah sering memperhatikan Bli Made, karena dia selalu mengalah terhadapa penumpang lainnya sehingga dia akhirnya bergelantungan di pintu belakan angkutan sambil membantu menggendong bawaan ibu-ibu yang ada di dalam angkutan. Sampai suatu saat hujan deras, dan angkutan yang mereka terperosok di kubangan lumpur, Made dan beberapa lelaki harus mendorong agar roda mobil bisa naik dari kubangan itu. Memang mobil bisa naik tapi wajah dan tubuh para pendorong itu penuh dengan cipratan lumpur, lucu sekali dan kata Ketut secara tidak sadar dia memberikan sapu tangannya kepada Made untuk mengusap lumpur dari wajahnya. Wajahku berubah serius saat mendengarkan cerita yang luar biasa romantisnya itu. Dan katanya wajah Made saat itu juga bengong saat disodori sapu tangan, tapi dia menerima dan membersihkan wajahnya dari lumpur.

“Bli Wayan, hanya satu kata yang membuat hati tiyang berdebar saat itu, Suksma..katanya”

Lalu semua kembali seperti biasanya tapi tidak untuk kami berdua, yang tiyang rasakan saat itu adalah, tiyang jadi semangat bersekolah, karena pengen bertemu dengan Bli Made dan hidup tiyang merasa lebih indah dan bergairah kerana nggak tahu, tiyang hanya merasa yakin bahwa hidup tiyang nanti akan bahagia karena punya suami seperti Bli Made.

Mendengar cerita itu, Made hanya tersenyum dengan mata berbinar memangdani istrinya. Dan aku, sulit sekali menceritakan perasaanku, tapi kira-kira seperti ini, indah sekali cerita cinta dan kehidupan mereka, mereka orang desa yang fasilitasnya jauh lebih sedikit disbanding aku yang orang kota, dan mengapa aku tidak memiliki cerita seindah cerita mereka. Aku iri?? Ya! Tapi aku tidak mau mengakuinya, tapi aku harus belajar untuk bersyukur bersama mereka atas kehidupan yang sudah mereka ceritakan.

“Kalau Mas Wayan, bagaimana? Pacarnya orang mana?” Tanya Ketut.

“Aku belum punya?”

“Mana mungkin orang seganteng mas Wayan belum punya” kata Made sambil tertawa kecil sebagai tanda tidak percaya.

“Ya, aku belum punya, makanya cariin dong Made”

“Mas Wayan harus cari sendiri, pasangan yang kita dapatkan sendiri dari hasil pencarian kita sendiri jauh lebih baik dari pada yang dicarikan oleh orang lain”

Sialan, pikiranku seperti ditampar balik oleh jawabanku yang basa-basi tadi, ya tentu aku harus mencari sendiri, dan aku memang sedang mencari, mengejar gadis di dalam mimpiku.

“Ya, kalian betul, aku memang harus cari sendiri, nanti kalau sudah dapat aku ajak dia kesini”

“Baik, kami tunggu lo Mas Wayan”

Dan kami meneruskan obrolan kami tentang hal lain, setelah beberapa pelanggan masuk dan ikut larut dalam hangatnya suasanya warung mie rebus di pinggir danua Bedugul.

Matahari mulai naik dan udara hangat mulai terasa masuk disela-sela udara yang dingin tadi, dan gerimis serta kabut tipis juga mulai ikut hilang, aku naik angkutan mengelilingi bukit menuju ke lokasi wisata danau Bedugul dari sisa yang lain yaitu ke pintu utama. Aku memutuskan untuk menghabiskan siang di restoran bamboo di pinggiran danau sambil mentransfer dan merapikan ke laptop gambar-gambar foto yang kuambil saat perjalannku dua minggu mengelilingi Bali. Tidak terasa ternyata, aku menyimpan sekitar 859 gambar tentang perjalananku, dari mulai pemandangan, arsitektur, landscape, sampai manusia, aku rapikan filenya dengan nama-nama yang mudah diingat, dan beberapa gambar favorit dengan hasil yang baik aku pisahkan. Aku harus apakan gambar2 ini pikirku? Apakah akan kubuat hanya untuk diriku? Nggak boleh, harus aku share ke banyak orang agar siapa tahu orang lain bisa mendapatkan gunanya dari perjalananku ini. Berarti jalan keluarnya adalah “blog”. Tepat pk. 11.00 pagi menjelang siang, aku memutukan untuk membuat blog dengan judul “Bali masih sehat, dan Bali akan sehat”. Keren juga pikirku, rencananya akan kubuat dalam dua bahasa “Bali is healthy and will always be healthy”


Lanjutkan ke bagian 5>>

Wayan dari Seberang (Bag 3)

PERJALANAN

Tiga hari sudah aku mengunjungi keluarga-keluarga dekatku, ayahku selalu menekankan bahwa aku tidak boleh kemanapun sebelum mengunjungi semua keluarga dekatku., setelah itu baru boleh melakukan yang lain. Dan sekarang saatnya untuk mempersiapkan perjalananku. Aku pinjam sepeda motor milik Pasih untuk ke Denpasar mencari sepeda. Setelah pilih-pilih, aku putuskan beli sepeda gunung Pollygon seharga 1 juta, dan kulengkapi dengan peralatan seperti tas samping, lampu dan perlengkapan perjalanan jauh lainnya. Dan aku juga beli tenda+sleeping bed untuk berjaga-jaga kalau pas kamalaman di jalan.

Siang itu aku ditepi pantai semawang sanur, aku duduk di sebuah café, aku minum bir sambil merencanakan perjalanku diatas selembar peta pulau Bali. Sanur, aku lingkari desa yang dulunya kecil dan bermetaforfosis menjadi sebuah kota kecil dan berbagai keramaian dan memiliki puluhan hotel berbintang. Ada dua pilihan ketimur atau kebarat dulu?.....kuambil sekeping uang receh 500an dan kuputar diatas meja, timur bila angka dan barat bila garuda yang muncul. Kutindih uang yang beroutar itu dengan tangan kananku, dan kubuka…..”500”..langsung kuarahkan pena ke Gianyar, Klungkung, dan Karangasem. Dan kuteruskan melingkari pulang Bali sampai di Bedugul, kemudian Singaraja, Negara, Tabanan, Tanah Lot, Kuta, Nusa Dua dan akhirnya kembali ke Sanur. Sengaja aku tidak merencanakan dimana aku akan bermalam, karena aku benar-benar belum tahu. Dan yang terakhir adalah..aku harus beli kaca mata, dan aku ingin yang agak bagus, makanya langsung aku genjot sepedaku ke Denpasar dank e sebuah optic di sebuah Mal di dekat jalan Jend. Sudirman, sekalian aku beli sebuah buku saku panduan perjalanan keliling pulau Bali.

Siang itu nggak begitu ramai, dan di hall utama ada banyak ibu-ibu yang duduk dan memperhatikan seorang wanita yang “cukup lumayan” menurutku, dia begitu bersemangat berbicara sambil tangannya terus memijat wajah dari seorang ibu yang duduk didepannya. Aku berhenti sebentar dan memperhatikannya, dia berbicara dengan sangat lembut tapi aku merasa ada semangat yang besar dalam suara itu, dan aku terus memperhatikan.

Katanya “Bahwa kulit harus dipelihara, dan saat ibu-ibu dapat melakukan semua ini, ibu pasti bisa melakukannya dirumah untuk cari uang tanpa harus menunggu mendapatkan uang dari suami, kita wanita harus mandiri, tapi kalau dikasi uang suami yang terima saja..” (semua pengunjung yang mendengarkan tertawa) khan bisa ditabung atau untuk hal lain yang berguna”

Boleh juga pemikiran anak ini (aku bilang anak karena setelah kuperhatikan dia kurang lebih seumurku). Aku putuskan untuk tetap diam dan mendengarkan, sampai akhirnya…”Pak, bisan bantu saya” kata wanita itu sambil menunjuk ke arahku.

“Saya?”

“Ya, anda”

Aku mengangguk dan maju kedepan ke arahnya.

“Ibu-ibu sekalian, suami dirumah juga bisa diajak untuk membantu, misalnya…ee..bapak namanya siapa ya? Aduh minta ampun…matanya itu dan dia ternyata cantik sekali…..”namanya siapa gus? Tanyanya sekali lagi sambil senyum-senyum, dan semua pengunjung tertawa mentertawakan aku.

“e..e..saya Yanto”

“Dari jawa ya mas?”

“Ya, semarang”

“OK, mas Yanto tolong ambilkan……setelah itu aku Cuma melakukan semua yang dia minta sampai acara selesai dan kami bersalaman, dan dia bilang “terima kasih mas Yanto”

Dan aku Cuma bilang “OK, sama-sama” dan aku pergi meninggalkannya sambil berfikir bahwa kelihatannya aku pernah melihat gadis ini, hanya dimana? Aku sendiri lupa, tapi dia “ jegeg sajan”

Dan aku segera meneruskan rencanaku untuk beli sunglasses untuk perjalananku.

Sore itu, udaranya sedikit mendung, dan aku mempersiapkan sepedaku dan semuanya, dan setelah semua beres, aku mandi dan memakai sarung dengan kancut didepan, plus selendang untuk pergi ke Sanggah bersembahyang untuk mohon restu perjalananku besok.

Pagi-pagi aku sarapan nasi campur Bali, dan minum vitamin. Dan setelah pamitan ke Bapa Roti, Me Made, Pasih dan Tukad aku mengayuh sepedaku ke arah baypass Sanur Padanggalak, aku kayuh sepedaku perlahan sambil menyapa beberapa tetangga yang sedang menyapu jalan depan rumahnya, lagu U2 “with or without you” mengawali perjalananku. Ya, Bono adalah orang luar biasa, pengaruhnya besar, perjuangannya untuk rakyat miskin dunia juga luar biasa, sayangnya banyak temanku yang jadi penganut “Bonoisme” yaitu berjuang melalui petisi-petisi yang dikirim lewat internet, konser musik amal yang hasilnya disumbangkan dan lain-lain yang sejenis dengan hal-hal itu. Bukan aku tidak setuju, cuman bayangkan kalau semuanya berjuang seperti itu, kapan mentasnya orang-orang miskin tersebut, makanya aku ambil jalan lain yaitu buka warung bakso yang sekarang 10% dijalankan oleh Parman dan Budi assitennya. Dan aku sudah mulai bisa mersakan yang namanya “passive income” yang ditransfer oleh mereka diakhir bulan, mulai bulan ini. Ceritanya sebelum berangkat ke Bali, aku ajarin Parman untuk bisa membuat pembukuan sederhana, yaitu pengeluaran berapa dan pemasukan berapa, dan sisanya itu untung untuk kita bagia bertiga setelah dikurangi “tabungan perusahaan” atau istilah kerennya penyusutan sebesar 10% dari keuntungan.

“10% ini akan jadi banyak dan kita bisa buka cabang lagi di Tegal tempat asalmu” kataku kepada Parman, dan terlihat wajahnya sangat sumringah. Itu caraku mengentaskan kemiskinan, dan memang Cuma dua orang yang terkena efek secara langsung, tapi yang nggak langsung aku yakin banyak, contohnya : ibu Puji penjual sawi, pak Bejo penjual daging sapi, Supri tukang parker didepan warung bakso kita, belum saudara-saudara Parman yang sering dikirimi uang untuk beaya sehari-hari dan sekolah. An kata Parman adiknya sekarang sudah mulai buka warung kelontong di kampunya Tegal dengan modal dari uang yang setiap bulan dia kirimi. Dan semenjak saat itu aku percaya bahwa sekecil apapun yang kita lakukan atau berikan efeknya adalah tidak sependek apa yang kita pikirkan.

Matahari pagi itu hangat sekali, dan aku mulai mengayuh sepedaku dengan cukup cepat, dan pantai sanur disebelah kanan jalan terlihat tenang dengan riak ombak kecilnya, kemudian aku mengambil jalan kesebelah kanan memutar menuju ke bypass menuju ke Batubulan, lancer sekali perjalanan ini tak terasa aku sudah di pertigaan patung “No Problem” yaitu bayi raksasa. Ini disebut patung no problem karena dulu ada sticker yang dijual bebas dengan gambar bayi lucu dan ada tulisan no problem dibawahnya. Dan aku meluncur kea rah kota ubud, dan makan siang disana. Ubud tidak banyak berubah akhir-akhir ini, masih tetap tenang dengan vila-vila super mahalnya, tentunya bagi aku, tapi bagi orang-orang kaya uang segitu nggak ada apa-apanya. Bayangkan uang 5 juta hanya dipakai untuk nginap semalam. Ada juga sih yang murah yang Cuma 100 ribuan dan sebenarnya kamarnya nggak jauh beda sama-sama ada kasurnya, sama-sama ada kamar mandinya, sama-sama ada terasnya. Yang membuat beda adalah nilai Rupiah (beli) dari ketiga hal tersebut beda, dan yang melayani juga beda. Ya itulah kehidupan ada yang mahal ada juga yang murah, ada yang kaya ada juga yang miskin, ada yang rajin ada juga yang malas, dan aku mulai ambil kesimpulan bahwa yang namanya perfect world itu bukannya semua sama tapi dimana ada keseimbangan antara sesuatu yang berlawanan, jadi aku memang harus berhadapan dengan semua itu. Setelah makan siang kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Kintamani, dan aku menginap disana. Aku menginap di sebuah homestay milik dari sepasang suami istri yang masih muda menurutku kira-kira 35 tahunan dan punya 2 anak yang pertama Putu kelas 5 SD dan yang kedua Kadek kelas 2 SD. Sang suami sambil menjalankan bisnis homestaynya juga melukis dirumah dan sang istri seperti wanita Bali pada umumnya menghabiskan waktunya untuk melayani Tuhan dan keluarga, pagi bangun pergi ke pasar dan pulang sampai dirumah menyiapkan sarapan untuk suami dan kedua anaknya. Dan setalah itu membersihakan rumah dan homestaynya, dan kemudian “mejahitan” (menyiapkan sesaji) disamping suaminya yang sedang melukis. Dua malam aku menginap disana, aku habiskan waktuku untuk beramain bola bersama Putu dan teman-temannya, naik ke gunung Batur dan berendam di kolam hangat dipinggir danau Batur, tempat yang sangat indah. Dan aku berkesempatan mengajari suami istri tersebut membuat bakso sendiri, dan mereka senang sekali. Dan pagi itu aku pamit dan mereka berempat melambaikan tangan didepan rumahnya, dan aku merasa hatiku sangat hangat sekali. Medan kali ini cukup berat, jalan menuju ke pura Besakih naik turun, beberapa kali aku harus turun dan mendorong sepedaku karena jalan naik yang cukup tinggi dan panjang, tapi pemandangannya indah sekali. Dan akhirnya aku sampai di Pura Besakih, dan langsung aku terlentang diatas kursi panjang sebuah warung makan Bali. Paru-paru ini rasanya mau meledak dan kaki serta pantat serta tangan terasa sangat tegang sekali. Ibu pemilik warung itu langsung keluar, “ada apa gus? Kamu nggak papa, saya panggilin dokter ya” katanya gugup

“Nggak usah..nnnggak uss..sah Bu..” jawabku sambil kesulitan bicara karena nafas yang naik turun ini. Kepalaku rasanya pening sekali dan isi perut rasanya mau keluar. Dan dalam keadaan seperti ini aku terbayang ayahku, ibuku yang tidka pernah tahu kalau aku melakukan perjalanan ini, aku lupa pamit ke mereka, aku terbayang Parman sedang jualan bakso, dan tiba-tiba aku merasa takut sekali dengan keadaanku, aku merasa bahwa aku tidak melakukan banyak hal untuk membuat mereka kedua orang tuaku berbahagia, aku sibuk dengan pencarianku sendiri, dan aku ingin sekali pulang….

Yang pertama kali kulihat adalah bedeg anyaman bamboo warna coklat mengkilat karena vernis, pertama samar-samar dan terus berubah menjadi nyata, lalu kulihat meja kecial disebelah kanan dengan alat pengukur tekanan darah diatasnya dan beberapa suntikan yang masih disegel, aku di ruang kerja seorang bidan atau dokter! Begitu saja pikirku. Aku berusaha untuk bangun, tapi kepala ini berat sekali, dan seorang perawat menyingkapap korden pembatas, “Sudah bangun bli Wayan? Katanya sambil menyentuh jidatku seperti seorang ibu menyentuh jidat anaknya yang sakit panas, aku mengangguk.

“Istirahat dulu saja, bli Wayan ada di puskesmas desa Besakih, tadi pingsan didepan warung Me Gita, dan saya Kadek, perawat disini, sebentar tiyang ambilkan mie rebus panas ya”

Dan aku Cuma mengangguk lemas, kepalaku rasanya masih berputar. Sekarang aku mulai ingat, aku bersepada semangat sekali dari Kintamani, dan jalannya naik turun, aku minum terlalu sedikit dan sarapan terlalu sedikit Cuma roti tawar dan telur rebus saja, aku paksakan diriku untuk cepat sampai di Besakih, dan akhirnya aku sampai di depan sebuah warung, lalu ada wanita yang menanyaiku dan setelah itu aku seperti sekarang ini di kamar puskesmas ini.

“Mbok Kadek, tolong minta air putih hangat” teriaku lirih.

Nggak lama, Kadek dating membawa segelas teh hangat segelas,”minum the manis hangat saja biar cepat pulih”

Aku minum cepat sekali, keinginanku hanya satu, cepat sembuh, dan mekemit di Besakih.

“Bli wayan mau ke kamana? Dari jawa ya? Tadi saya sempet lihat ktp-nya” semua itu diucapkan dekat logat Bali yang jelas “the” nya, terdengar seperti nyanyian ditelingaku.

“Ya dari Jawa”

“Naik sepeda dari Jawa?”

“Tidak, dari Sanur”

“Trus setelah ini mau kemana?”

“Mekemit di Besakih, dan terus keliling Bali”

“Pengen tahu Bali ya Bli?

Aku mengangguk.

Mbok Kaded keluar dan masuk lagi membawa mie instant rebus yang panas.

“Wayan makan mienya dan kalau mau nginap disini silakan sudah saya sampaikan ke penjaga malam disini tentang Wayan, saya pulang dulu nanti malam saya kesini untuk cek kesehatan Wayan” Aku merasa lebih nyaman dengan panggilan tanpa “Bli” karena aku rasa umur Kadek tidak jauh berbeda denganku. Aku makan mie rebus itu panas-panas, dan setelah itu aku tidur lagi.

Suara dentingan sendok beradu piring membangunkan aku, tampak Kadek dengan kebaya dan jarik sederhana, berselendang batik tua kecoklatan, dan potongan bunga kamboja di telinganya. Dia tampak lain dengan pakaian putih perawatnya tadi sore.

“Sudah enakan Wayan?

“Ya” dan aku sudah mulai bisa bangun dan duduk di tempat tidur. Lalu aku coba untuk turun dan berjalan dan aku merasa jauh lebih baik dari tadi sore, kuteruskan berjalan mengikuti Kadek ke ruang depan di lorong tunggu pasien.

“Tiyang sudah lapor ke Kelian banjar melaporkan tentang Wayan, dan mungkin nanti beliau akan datang menengok, semua peralatan wayan ada dirumahnya”

Tidak lama kemudian ada 3 orang laki-laki dating dan akupun langsung berdiri menyambutnya.

“Om Swastiastu”

“Om Swastiastu”

Nyoman Ringin, Made Brata dan Gina, mereka bertiga adalah pengurus Banjar dimana aku berada. Kami bicara, dan aku memperkenalkan diri dan sedikit menjelaskan tentang tujuan perjalananku. Dan mereka menjelaskan bahwa mereka menyimpan semua perlengkapanku karena prosedur keamanan banjar saja. Mereka luar biasa sambutannya dan semua menawarkan rumahnya sebagai temoat aku menginap, dan aku memutuskan untuk menginap di puskesmas saja. Dan ternyata Kadek adalah anak kedua dari Bapak Nyoman Ringin, kelian Banjar disini. Setelah lulus sekolah perawat di Surabaya memutuskan untuk kembali kedesanya dan bekerja di puskesmas sebagai tenaga honorer.

“Honorer kan uangnya sedikit, mengapa tidak bekerja di jawa saja agar dapat uang banyak?’ tanyaku.

“Sebenarnya bukan Cuma karena itu, tapi karena pacarnya orang sini yang buka artshop di Besakih” kata pak Nyoman.

Aku tersenyum dan mengatakan “Pacar Kadek sangat beruntung”

“Dan Wayan sendiri…e..maaf…pacarnya orang mana?” pak Nyoman terlihat menyesal menanyakan hal itu kepadaku, tapi sudah terlanjur.

“saya belum punya pak Nyoman, teman banyak tapi nggak tahu saya belum ada yang sreg”

“Jadi belum pernah pacaran?” tanyanya polos

“Kalau cuman pacaran-pacaran sih pernah” aku mulai merasa nyaman tinggal disini pembicaraan mulai mengalir deras sekali tanpa kompromi. Mereka orang desa yang sangat polos dan aku orang kota yang belajar untuk jadi polos. Sampai akhirnya pak Gina angkat bicara.

“Cari orang Bali saja mas Wayan, agar tetep jadi orang Bali dan sudah ngerti aturan-aturan sebagai orang Bali. Dari pada nanti dapat orang Jawa trus nanti tidak mau ikut Hindu, lama kelamaan Mas Wayan pasti ikut istri demi keutuhan keluarga”

“Khan agama semuanya sama pak Gina?” tanyaku

“Ya memang betul semua sama, Cuma bagaimana nanti para leluhur yang ditinggal, nanti malah masa depan mas Wayan nggak kebenaran”

Orang Bali sangat percaya dan sangat menghormati leluhurnya, dan itulah salah satu alas an mengapa sampai sekarang ini aku masih sebagai orang Hindhu. Aku tidak tahu banyak tentang agama Hindhu tapi aku sangat percaya dan menghormati para leluhurku. Itu saja.

Pak Brata yang umurnya lebih muda ikut bicara.

“Kalau menurut saya, orang Bali juga nggak kalah cantik dengan orang Jawa lho Mas Wayan, coba mulai sekarang buka mata lebar-lebar saat melakukan perjalanan keliling ini, boleh mencari spiritual tapi perlu juga refreshing yang segar-segar”

Dan kami semua tertawa.

Tidak terasa sudah jam 11.00 malam, dan ketiga pria itu pamit dan mempersilahkan aku untuk beristirahat.

Aku tidak bisa langsung tidur, aku masih memikirkan semua pembicaraan tadi dan juga Kadek. Memang orang Bali nggak kalah cantik dengan gadis pulau lain di negri ini. Wajah Kadek terlintas di benaku, khas Bali dengan wajah bulat rambut hitam sebahu, pinggul bulat jelas terlihat saat dia mengenakan kebaya tadi sore, pinggangnya juga ramping dan bunga putih di telinganya itu yang membuat wajahnya enak sekali untuk dibayangkan. Dan…Tapi dia sudah punya pacar Yan!!! Tiba-tiba bagian dari diriku bicara di kepalaku. Dan aku tersenyum sambil memukul pelan pikiranku yang mulai liar ini. Selimut di puskesmas ini cukup tebal untuk membuatku tidur nyenyak semalam tanpa terbangun.

Pagi yang sangat cerah, selesai mandi aku menemui Kadek di kantor Puskesmas, aku ucapkan terima kasih dan aku bilang kalau aku mau cari home stay dekat Besakih dan juga aku meninggalkan nomor handphone dan alamat rumah Pamanku di Sanur. Dan dia tersenyum tulus sekali, dan dalam hati aku berucap selamat untuk pacar dari wanita Bali yang setia ini.

Sebelum cari home stay aku mampir di warung tempat aku pingsan kemarin dan sebagai ucapan terima kasih aku sarapan disana. Ibu itu banyak cerita tentang kondisi Besakih sekarang ini, katanya kalau disbanding dengan beberapa tahun yang lalu sebelum bom meletus di Kuta, ya jauh sekali. Hanya sanya mimic wajahnya sedikitpun tidak menunjukan rasa sedih atau kecewa karena berkurangnya jumlah turis. Katanya, hanya orang bodoh yang mengaku kalau ngebom itu tindakan yang benar menurut agama. Dan aku setuju dengan ibu yang Cuma lulus SMP ini. Atas sarannya aku langsung menuju ke Besakih home stay yang terletak tidak jauh kurang lebih 100m dari Pura Besakih. Stelah check in, aku ganti dengan sarung berkancut tengah, saput kuning dan kaus putih, selendang batik pemberian Ibuku dan udeng batik yang kupinjam dari Tukad. Aku pergi ke Pura Besakih untuk sembahyang. Genitri yang kubeli di pasar seni Sanur aku kalungkan di leherku dan kumasukan ke dalam kaus agar tidak terlalu mencolok, malu rasanya dilihat orang banyak nanti dikira orang yang tahu banyak tentang agama, intinya aku merasa belum percaya diri didepan umum dengan barang yang satu ini, mungkin aku takut dikira terlalu agamis.

Pura Besakih memang luar biasa, aku baru kalau tidak salah 3 kali mengunjungi pura ini, dan sekarang adalah yang ke empat. Kunjungan yang ketiga adalah ketika aku masih duduk di bangku SMA, itu sudah bertahun-tahun yang lalu, dan sekarang perasaan yang sama masih terasa dalam hatiku. Aku merasa belum kenal dengan ‘yang disini’ hatiku merasa gelisah tapi yakin bahwa ‘mereka’ akan menerimaku. AKu langsung menuju ke bagian utama pura, yaitu sebauh tempat terbuka beralaskan batu dengan 3 padmasana yang tinggi mewakili adanya Sang Hyang widhi di Besakih. Aku ambil bunga dan aku bersila tepat didepan padamasana yang berada di tengah, dan aku mulai hening.

Aku belajar tentang ‘hening’ dari seseorang yang kukenal di kampus, Bambang namanya, orangnya kecil terlihat rapuh namun jangan lihat matanya, saat kita lihat tubuhnya yang terpikir adalah betapa lemahnya orang ini, tapi setelah kita bertatapan dengan matanya, sirna sudah semua kelemahan dibenak kita, yang ada adalah keyakinan, keteduhan dan kesabaran. Dari kecil dia sudah belajar tentang kejawen dari seorang tua yang tinggal di kampungnya, dank arena dia bersahabat dengan orang tua itu, maka setiap orang tua tersebut berbicara kepada para pengikutnya Bambang selalu berada disampingnya, mendengarkan semuanya. Samapi akhirnya dia bisa memiliki kemampuan untuk menyembuhkan orang dengan sentuhan tangannya dan dengan doanya. Kata Bambang semua adalah atas kehendakNya. Dia tidak pernah ke gereja, ke mesjid , ke pura, ke wihara ataupun ke tempat-tempat ibadah pada umumnya, tapi dia selalu ke gunung, ke pantai dan ketempat-tempat yang menurutku adalah tempat yang cocok untuk berwisata menenangkan pikiran. Menurutnya tempat ibadah adalah sama dengan ketenangan hati, katanya kita semua boleh beribadah dimana saja, dan akupun beribadah dimana saja, hanya saja yang kau lihat adalah aku merenung dan bicara kepada Tuhan di gunung dan di pantai, tapi sesungguhnya aku bicara kepadaNya dimana saja.

Secara hati dan sikap Bambang tidak ada duanya, hanya saja dia nggak pernah bisa pacaran lama, karena dia tidak pernah bisa menjawab ketika ditanya oleh orang tua pacarnya saat apel yang keberapa kali tentang “agamamu apa nak Bambang?” dia tidak pernah menjawab, karena memang gurunya tidak pernah memberitahukan tentang hal itu, katanya ke beberapa teman dekatnya salah satunya aku, “aku memang tidak punya agama, tapi aku percaya akan adanya Allah pemilik alam semesta ini. Dan karena birokrasi dan lain-lain di KTPnya tertulis HINDU. Aku pernah bertanya kepadanya, mengapa kau tuliskan Hindu di KTPmu, jawabnya, Hindu adalah yang paling mirip dengan apa yang aku jalani.

Setelah melantunkan Tri Sandya dan mebakti, aku melakukan apa yang diajarkan oleh Bambang yaitu hening, aku serahkan semuanya kepadaNya, semua kegelisahanku dan kesenanganku. Aku sendiri tidak tahu apakah aku sudah mencapai apa yang namanya hening, karena Bambang bilang bahwa bila nanti saatnya tiba maka kau akan tahu, karena aku sendiripun belum tahu. Bambang tidak pernah menyiarkan apa yang dia percayai, dia hanya menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Menurutnya kepercayaan itu tidak bisa disiarkan,tapi harus dilakukan. Kami sering ngomong kalau sebaiknya dia jadi dukun “psikologi modern” karena gayanya yang klenik dan petuahnya yang sangat bijak. Dalam hening itu aku merasa melakukan perjalanan…lalu…

Orang tua itu tersenum kepadaku dan berbicara “Anak muda, kau lihat wanita yang sedang mengembalakan rusa di pinggir sungai itu? Dia juga sama seperti kau di sedang mencari, mungkin kau bisa bersama-sama dengannya dalam pencarian itu” Dan aku melihat seorang wanita dengan pakaian semua serba putih, wajahnya tenang, dan terlihat dia mencuci pakaian dengan tenang dan senang, dan dia menoleh sebentar ke arahku dan tersenyum.

Orang tua itu meneruskan pembicaraannya,”manusia memang harus mencari, karena saat mencari itulah menjadi saat yang penting baginya, tapi kau tidak boleh lupa untuk membagi karena disitulah bahagia itu ada”

Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun, aku takjub dengan orang tua itu, dan aku takjub dengan ketenangan wanita yang terus memberi makan rusa, sangat damai dan semua rusa itu terlihat sangat menghormatinya. Dan suara gesekan sapu lidi di luar kamarlah yang membangunkan aku dari mimpi yang damai itu. Mencari!...ya…memang aku harus mencari.

Aku terhenyak dari heningku….dia dating lagi..ya mimpi yang dulu kudapatkan sekarang datang dalam heningku. Satu step lebih tinggi dari mimpi ke hening. Siapa orang tua itu dan siapa wanita itu. Bambang pernah bilang kepadaku kalau aku dilindungi oleh leluhurku, yang selalu mendampingiku dan membantuku. Aku sulit sekali memahami apa yang dikatakan Bambang, agar mudah aku simpulkan bahwa dia ‘guardian angel’ untuku. Aku pernah mendesak Bambang tentang cirri-ciri leluhurku yang mendampingiku, dia Cuma bilang “rambutnya digelung diatas seperti rambut Mahapatih Gajah Mada, dan tubuhna terbungkus kain putih seperti para Mpu di jaman Majapahit. Dan manusia memang selalu mencari yang termudah untuknya, naluri, maka kusimpulakn bahwa orang tua dalam mimpi dan heningku adalah leluhurku. Lalu siapa wanita itu?


Panas matahari pk. 10.00 pagi sudah mulai terik, aku masih ingat ketika aku SMP dan berlibur ke Bali. Matahari jam 10.00 pagi masih terasa enak dikulit, tapi sekarang..minta ampun panasnya. Aku segera berdiri dan berjalan ke depan untuk ‘nunas tirta’

‘Pemangku’ tua itu berjalan pelan sekali, dia tersenyum kepadaku dan akupun membalasnya..”Om Swastiyastu” kataku sambil mengatupkan kedua telapak tanganku didadaku, dan diapun membalasnya

“Om Swastiyastu..sudah mebakti anak muda?”

“Sampun Pemangku, tiyang mau nunas tirta”

Lalu orang tua itu mulai mencipratkan air suci kekepalaku tiga kali, kemudian menuangkan air suci ke tanganku tiga kali untuk kuminum dan satu kali kuusapkan kewajahku, lalu mencipratkan tia kali lagi ke kepalaku. Dia tersenyum saat memberiku bunga yang kusisipkan di telingaku dan beras untuk kutempel didahiku dan di leherku lalu kumakan sisanya.

“Apa yang kau cari anak muda?” katanya

Sekali lagi aku terhenyak, dari mana dia bisa tahu aku aku sedang mencari sesuatu. Aku tidak langsung menjawab, hanya memandangnya sambil berkerut.

“Manusia memang harus mencari agar dia mendapat, karena burungpun harus terbang untuk mendapat biji untuk dia makan”

“Tiyang tidak tahu harus mulai dari mana Mangku”

Matanya tetap teduh dan dia menganguk-anggukan kepalanya

“Nanti malam jam 11.00 Bapak mau mekemit disini, silakan kalau mau ikut” lalu dia pergi dan melakukan kesibukannya untuk memberikan air suci kepada umat yang bersembahyang disitu.

Aku diam dan kupandangi Padmasana dari bagian bawah sampai bagian atasnya sampai akhirnya aku melihat matahari tepat berada diujung Padmasana. “apakah ini jalan menuju pencarianku Sang Hyang widhi?”

Jam 10.45 malam aku keluar dari penginapan dengan jaket tebal menahan udara dingin di lereng gunung Agung, aku berjalan ke Pura Besakih. Cahaya lampu yang temaram dibantu sinar bulan yang cukup terang menciptakan bayangan-bayangan tipis Pura yang sangat besar dan luar biasa…sangat indah. Aku masuk ke Pura dan Pemangku tua itu sudah duduk bersila didepan padmasana, dan setelah mengambil bunga aku ikut duduk disebelahnya, agak jauh kira-kira 2 meter disebelah kirinya, aku takut menggangu keheningannya. Dan aku pun sembahyang, aku tidak meditasi tapi aku duduk diam, melek dan menunggu Pemangku tua itu menyelesaikan keheningannya. 15 menit sudah aku duduk dan Pemangku itu tetap diam dalam heningnya, akhirnya tepat dimenit ke 17 dia bergesar dan berdiri. Dia melihatku dan berkata ,

“Ikuti aku”

Aku mengikutinya danpa mengeluarkan sau suarapun, suasananya sangat hening, seharusnya damai, tapi ada sedikit perasaan takut menyelimuti diriku. Di Bali banyak cerita-cerita mistik yang cenderung menakutkan dan menakut-nakuti orang. Dan akhirnya dia berhenti disebuah bale-bale yang cukup besar dan dia dudk bersila disana. Akupun mengikutinya dan duduk disampinya.

“Seharusnya kau sudah menemukan yang kau cari, ehm..ehm..siapa namamu?”

Dehamannya berat sekali seperti suara orang yang sangat berwibawa.

“Tiyang Yanto, Mangku”

“Sebetulnya kau sudah menemukan apa yang kau cari Yanto”

“Aku tidak mengerti apa maksud Mangku, Mangku tidak mengenal saya dan begitu juga sebaliknya, tapi Mangku tahu apa yang saya cari, bagaimana bisa?”

“Tidak ada yang tidak bisa di dunia ini bila Sang Hyang Widhi menginginkannya, ikuti mimpimu dan teruskan perjalananmu”

Dan tanpa menunggu respon dariku Pemangku tua itu berdiri dan berjalan meninggalkan aku, jalannya sekarang cepat sekali, seperti melayang.

Siapa yang harus aku cari, orang tua dalam mimpiku, kalau memakai pemikiran Bambang jelas nggak mungkin karena dia adalah leluhurku, lalu gadis berpakaian putih itu…dimana aku bisa bertemu dengan dia, dan Pemangku itu bilang bahwa sebenarnya aku sudah menemukan apa yang aku cari, siapa dia. Pikiranku nggak karuan arahnya, dia melayang kemana-mana dan akhirnya aku tertidur karena lelah dengan pikiranku sendiri.

Lanjutkan ke bagian 4>>

Wayan dari Seberang (Bag 2)

Petualangan Wayan Putra

Mau mengeluh sampai kapan? Keluhanmu, pencarianmu justru menjauhkanmu dari Tuhan. Begitu sibuknya manusia mencari Tuhan, sampai Tuhanpun terlupakan. Padahal yang sedang dicari berada dalam rumah sendiri.

PULANG

Terminal Ubung masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Cuma bedanya jarang sekali orang bule terlihat sekarang, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya sekarang. Mungkin ini efek dari bom yang diledakan oleh orang2 gila yang menurutku sok ngerti tentang kebenaran, padahal apa sih artinya kebenaran? Sampai sekarang aku masih yakin bahwa aku belum ngerti tentang kebenaran yang absolut. Dan puji syukur kuliah akhirnya bisa kuselesaikan sebulan yang lalu, berkat bantuan beberapa dosen yang sudah mulai bosen melihatku di kampusku.

Semua tawaran dari calo, kernet dan sopir aku Cuma tanggapi dengan senyum dan kalimat “nggak pak, Suksma.” Dalam pikiranku Cuma ada sepiring Nasi Babi guling depan terminal yang Ayahku selalu mengajaku untuk makan disana setiap saat turun dari bis di terminal Ubung ini. Makanlah aku disana. Kali ini aku nggak nambah, aku mulai belajar untuk berhenti makan sebelum kenyang seperti petuah-petuah para PeDharma Wacana yang sering kudengar saat sembahyang bersama di Pura Girinatha di semarang.

Nikmat sekali babi guling ini, apalagi kulitnya yang agak keras tapi mudah patah dan kemripik kalau orang jawa bicara.

Bemo pertama yang kutemui setelah aku keluar dari warung ‘Be’ guling langsung kunaiki. Denpasar ngga banyak berubah secara fisik, sejak bom Bali Cuma jalannya yang tambah macet, sepeda motor tambah banyak, hanya sekarang jarang terlihat mobil-mobil model terbaru yang lewat, padahal dulu saat pariwisata sedang top-topnya mau cari mobil baru apapun di Bali ada. Jadi kesimpulannya bagus juga krisis pariwisata ini, jadi pembelajaran masyarakat diBali untuk berlatih tidak konsumtif.

Aku tinggal di rumah adik ayahku Bapa Roti namanya, seorang guru di sebuah SMP negri di Denpasar, dan karena istrinya adalah wanita yang kreatif, membantu ekonomi keluarga dengan cara berjualan pakaian dan kain di pasar Kumbasari Denpasar, secara ekonomi keluarga tersebut agak menonjol. Dan keluarga ini menurutku juga luar biasa, disaat krisis seperti ini mereka masih bisa bertahan dan cenderung sedikit meningkat. Saat kondisi Bali sepi dari wisatawan, suami istri ini tidak trus diam dan meratapi kondisi yang buruk itu. Tapi mereka bicarakan kesulitan-kesulitan tersebut bersama dengan anak-anaknya. Mereka memiliki dua anak laki-laki, Pasih dan Tukad. Yang mereka harapkan dari pemberian nama tersebut adalah agar anak-anak mereka bisa saling mengisi dan saling membantu dikemudian hari. Pasih artinya pantai dan Tukad artinya sungai. Terus terang saya kagum terhadap om saya yang satu ini, cara dia hidup dan berbicara benar-benar memperlihatkan seseorang yang sudah membaca ratusan buku (dan dimengerti serta dilakukan intisari terbaiknya). Nah..dalam pembicaraan tersebut Tukad yang bekerja sebagai seorang supervisor receptionist di hotel bintang lima di nusa dua punya ide untuk mencoba memasarkan kain-kain khas Bali ke luar negeri melalui relasi-relasi yang dia kenal (tamu-tamu hotel). Singkat cerita semua setuju, dan mereka gotong-royong bekerja dan mulai menyiapkan surat-surat penawaran dan brochure serta contoh kain yang akan dikirim keluar. Di dalam surat itu Tukad dengan lugasnya meminta tolong kepada tamu kenalannya untuk dibantu dalam menjual kai-kain tersebut. Dan perlu diketahui Tukad adalah seorang pemuda yang ‘sepengetahuanku’ tidak pernah mengeluh dan gampang sekali membantu seseorang biarpun dia nggak kenal, dan hasil akhirnya mereka dapat memulai export barang ke Sidney, Belanda, dan beberapa Negara di Eropa. Memang nilainya belum besar dan belum satu container penuh di setiap pengiriman, tapi bagiku hal tersebut sudah merupakan hal yang luar biasa, dengan cara yang sederhana ‘mau minta tolong’ bisnis antar Negara bisa terjadi.

‘Om swastiyastu’ sapaku ketika memasuki pintu gerbang rumahnya yang kecil khas Bali.

‘Eii..Wayan’ seru Bibiku dengan logat Balinya yang kental.’Mari..mari masuk, Meme meneruskan mebanten dulu ya, Tut, tolong buatin bli Wayan the panas’ serunya kepada salah seorang pembantunya.

Meme Made masih sama seperti biasanya, hangat, polos dan bersahaja dengan kain dan beju kebaya sederhana sebagai pakaian sehari-hari.

Teh panasku datang dan seperti biasa disertai jajan Uli dan Bantal, dan langsung kumakan kedua jajan itu dan nikmat sekali the hangatnya.

Lima menit sudah aku merebahkan tubuh di teras salah satu bangunan dirumah tersebut, Sanur memang selalu adem, dan gaya rumah Bali yang dibangun terpisah-pisah memang menurutku dirancang agar empunya dan tamu rumah tersebut betah untuk tinggal disana. Tapi apa daya, generasi sekarang pasti sulit sekali untuk bisa membagun rumah seperti ini, bagaimana bisa, mau ambil rumah perumnas dengan nyicil saja kesulitan.

‘Apa kabar Yan?’ seru Me Made sambil ikut duduk di lantai disebelahku, aku langsung bangun.

‘Baik Me, Me Made sekeluarga sendiri bagaimana?’

‘Baik, kami selalu baik, selama kita percaya, pasti Sang Hyang Widhi selalu beri yang terbaik untuk kita’

Jawaban dan Me Made ataupun suaminya selalu membuat hatiku nyaman, dan adem sekali mendengarnya. Religius, tapi tidak terdengar munafik karena aku bisa melihat keseharian mereka yang memang bersahaja, tenang dan tidak berlebihan.

‘Sana kamu istirahat dulu, mau mandi trus tidur dulu atau bagaimana terserah Wayan, yang jelas Me Made seneng banget dapat telpon dari ayahmu, dan kasih tahu bahwa kamu mau tinggal di Bali dan cari rejeki disini, kamarmu seperti biasa, dan handuk juga sudah Me Made sediakan disana.

Aku masuk kamar mandi, dan merebahkan tubuhkan di kasur yang terlihat mengundang, niatnya sih sebentar, tapi ternyata rasa capek tak bisa dibohongi, aku tertidur sampai hari sore.

Malamnya kami kumpul makan malam bersama, dua sepupuku sekarang terlihat lebih matang dari dua tahun yang lalu kita bertemu. Memang kesulitan akan mengakibatkan satu hal dari dua kemungkinan yang ada, pertama orang itu akan bertambah kuat dan matang karena dia mau bertempur dan tidak mau mengalah terhadap kesulitan itu, dan yang kedua orang tersebut akan semakin tenggelam karena dia mendalami atau istilah kerennya mempelajari kesulitan itu, sehingga semakin lama dia semakin stress karena semakin dalam kita memikirkan kesulitan itu, ya semakin kita sulit untuk mendapatkan jalan keluar. Maka lompatlah dari kolam kesulitan. Tukad seperti biasa terlihat tenang dan melayani kami semua, dan Pasih juga masih semangat sekali bicaranya meledak-ledak tapi punya rasa hormat, dan mata mereka memancarkan semangat hidup, menyatakan bahwa mereka punya harapan untuk sesutau yang lebih baik.

‘Yan, pacaramu orang jawa ya? Orang jawa khan cantik-cantik’ kata Pasih

‘Belum punya Sih’

‘Belum punya atau belum tahu mau pilih yang mana? Katanya sambil tertawa terbahak-bahak dan yang lain ikut tertawa. Tidak salah ayahku memintaku untuk menjadikan rumah ini sebagai persinggahan pertama di Bali sebelum aku berkunjung ke rumah saudaraku yang lain. Makan malam itu berjalan dengan sangat hangat, kami saling bertukar cerita, dan akhirnya aku menjelaskan tentang tuuanku ke pulang ke Bali, dan mereka sangat senang, tapi mereka kaget setelah mendengarkan rencanaku bahwa aku akan keliling Bali naik sepeda dan mendaki gunung Agung sendirian dan mekemit di Besakih kira-kira dua hari lagi.

Yan, apa kamu yakin dengan rencanamu itu? Sudah pasti semua uwak disini tidak akan memperbolehkan kau melakukan hal itu, dan sudah pasti kau akan tetap pergi biarpun dilarang, seperti dulu saat bapakmu pergi ke Jawa, kata Bapa Roti sambil menghembuskan nafas panjang kegelisahan.

Kami semua diam, aku diam karena aku tidak akan melawan pamanku secara verbal.

Lalu Me Made angkat bicara, “apa yang kamu cari Yan?”

“Wayan hanya ingin belajar Me, nggak lebih”

“Kau sudah belajar dari sekolah, dan dari hidupmu sampai kau punya warung bakso”

“Itu nggak cukup Me, aku merasa ada hal lain yang akan dan harus aku ketahui”

“Tapi…..” belum Me Made meneruskan kalimatnya, Tukad menyela.

“Biarkan Wayan ngomong tentang apa yang dia mau Me”

Semua diam dan melihat ke aku, setelah sebentar melihat ke Tukad, dan aku menjadi sangat tegang sekali untuk mengutarakan apa yang benar-benar menjadi tujuanku, sebenarnya aku ke Bali bukan karena aku disuruh Ayahku, disuruh pergi kemanapun aku akan mau akrena aku akan mencari TUHAN disitu. 22 tahun umurku, tapi aku merasa belum mengenal Tuhan, aku ingin berkenalan denganNya. Selama ini aku Hindu dan ya tentu aku pergi ke Pura untuk sembahyang, tapi aku juga nggak pernah merasa canggung untuk masuk ke Masjid, Wihara, Gereja Klenteng atau tempat apa saja dimana manusia “katanya” bisa bertemu dan bicara dengan Tuhan. Ini tujuanku sekarang. Tapi aku mersa malu dan canggung untuk mengungkapkan hal itu kepada saudara2ku, sampai kemudian…”aku ingin belajar hidup Me”

“Yan, kau bicara seolah-olah kau sudah berumur hamper 40, dimana kebanyakan anak seumurmu masih sekolah belajar fisika, matemateka dan ekonomi, dan terus terang Bapa mersa senang dan sekaligus kawatir dengan apa yang engkau akan lakukan” kata Bapa Roti. “Tapi semua terserah kamu, dengan usiamu memang kamu harus mulai belajar untuk hidup sama seperti jaman ayah dan pamanmu dulu, anak sekarang banyak yang nggak ngerti diupnya itu harus seperti apa? Tapi kau sudah mulai tahu, pergilah dan mintalah pada kami apa yang bisa kami berikan untuk perjalananmu”

“Terima kasih Pa Roti”

“Rencana kamu mau keliling berapa hari Yan?” Tanya Pasih

“Nggak tahu Sih, aku merdeka, aku belum punya tanggungan, pacar saja aku belum punya, mungkin seminggu mungkin dua minggu, aku akan sms setiap hari untuk kasi tahu dimana posisiku”

“Yan, aku pengen ikut” kata Tukad

“Tapi aku ingin sendiri”

Semua tambah diam ketika aku menjawab seperti itu, dan makan malam yang hangat itu mulai berubah menjadi makan malam yang dingin. Dan aku tidur.

Orang tua itu tersenum kepadaku dan berbicara “Anak muda, kau lihat wanita yang sedang mengembalakan rusa di pinggir sungai itu? Dia juga sama seperti kau di sedang mencari, mungkin kau bisa bersama-sama dengannya dalam pencarian itu” Dan aku melihat seorang wanita dengan pakaian semua serba putih, wajahnya tenang, dan terlihat dia mencuci pakaian dengan tenang dan senang, dan dia menoleh sebentar ke arahku dan tersenyum.

Orang tua itu meneruskan pembicaraannya,”manusia memang harus mencari, karena saat mencari itulah menjadi saat yang penting baginya, tapi kau tidak boleh lupa untuk membagi karena disitulah bahagia itu ada”

Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun, aku takjub dengan orang tua itu, dan aku takjub dengan ketenangan wanita yang terus memberi makan rusa, sangat damai dan semua rusa itu terlihat sangat menghormatinya. Dan suara gesekan sapu lidi di luar kamarlah yang membangunkan aku dari mimpi yang damai itu. Mencari!...ya…memang aku harus mencari.

Lanjutkan ke bagian 3>>