Senin, 14 Desember 2009

SEDIH

Yang ada diotaknya Cuma curiga
Yang ad adi hatinya Cuma amarah
Yang ada di mulutnya Cuma makian
Yang ada terdengar olehnya Cuma hasutan

Teringat akan Sengkuni saat dia bicara
Teringat juga Dursasana saat dia tertawa
Tertawa bersama koleganya
Merayakan hasutan yang dipercaya

Aku harus jadi Sengkuni agar hidup enak katanya
Kalau aku jadi Arjuna maka aku akan miskin
Aku pula harus seperti Dursasana, agar hidupku mulya
Karena bila aku jadi Bisma maka aku akan kelaparan, lalu mati tertancap panah

Lupakah aku tentang rakyatku? Tidak!
Lupakah aku tentang janjiku? Tidak!
Justru karena aku ingat rakyat dan janjiku, aku harus begitu!
Arjuna akan memaafkan musuhnya, Bisma akan menangisi lawannya, aku bukan mereka

Sekali lagi untuk Negara aku harus seperti Sengkuni dan Dursasana
Dan terdengar gemuruh tangisan ibu Pertiwi mendengar pengakuan anaknya
Teringat aku kata seorang Nabi “Alangkah baiknya orang-orang sibuk meneliti aib sendiri dengan tidak mengurusi aib-aib orang lain”

Ibu Pertiwi, semoga kami selalu dalam jangkauanmu, agar bila kami menjauh, masih bisa kau tetap merengkuh kami.

Kamis, 10 Desember 2009

Gustiku, Gustimu

Cuma dia yang masih sering mengunjungiku. Kadang seminggu sekali, kadang sebulan sekali, lebih sering sebulan sekali. Awalnya aku tak begitu perduli dengan apa yang dilakukannya, namun seiring berjalannya waktu, aku jadi perduli. Mungkin ini karena kesadaran. Aku sekarang hidup sendiri. Kutinggalkan desa kelahiranku untuk hidup sendiri. Sebenarnya aku tak ingin sendiri, mereka yang memaksaku. Mereka menghujat ibu dan ayahku. Bahkan hampir membunuhnya kukira. Masih kuingat saat parang tajam berkarat itu menempel dileherku. Katanya “kau yang pergi atau kau sekeluarga habis”. Menurut mereka aku penyebab kericuhan di kampung, namun aku sendiri tak ingat kericuhan apa yang kutimbulkan. Yang bisa kuingat hanya Gondo, anak pak kepala dusun yang juga orang paling kaya didusun meludahi sesaji yang aku taruh di mata air belakang rumah kami. Aku marah, aku hantam kepalanya dengan kepalan tanganku yang keras karena terbiasa membelah kayu, dan dia tersungkur, lalu bangkit dan berlari dengan mata penuh dendam.

Seminggu setelah kejadian itu, rumahku sering didatangi hal-hal yang tidak menyenangkan. Suatu malam tiba-tiba sebongkah batu sebesar dua kepalan tangan menembus genteng rapuh dan jatuh berdegum didepan ibuku yang sedang makan, ibu kaget dan menangis sepanjang malam. Lalu ada taburan garam didepan pintu dan segumpal tanah aneh dibungkus kain putih, kemudian ayam milik ayah mati dengan mulut berbusa. Sampai puncaknya disuatu malam ada sekitar seratus orang yang aku sendiri tak tahu siapa mereka, yang pasti mereka bukan orang dusun sini. Ratusan orang itu berteriak laksana prajurit yang akan menghancurkan lawannya. Kami ketakutan, wajah ibu pucat dan ayah geram menahan amarah.
“ijinkan aku keluar ayah” pintaku. Dan mata itu, sinar mata yang tak akan pernah kulupakan seperti mengatakan bahwa dia ingin menemaniku keluar untuk hadapi orang-orang tak dikenal itu, namun dia juga tak kuasa meninggalkan wanita yang dicintainya duduk lemas dengan wajah pucat. Dan dia Cuma mengannggukan kepalanya, dan aku tahu dihatinya dia berkata “hati-hati nak, Gusti bersamamu”
Dan aku keluar melangkah keluar tanpa membawa apapun untuk melindungi diri. Takut, ya aku sangat takut saat itu, namun aku lebih takut bila aku harus melihat orang-orang yang seperti lupa diri itu menghancurkan ayah ibuku.
“apa maumu?” tanyaku
“kamu orang najis, haram, buat nama desa jadi hancur” kata seorang laki-laki berwajah Sengkuni.
“Ya, kamu kafir penyembah pohon!”
“Dasar bangsat! Penyembah patung, Gusti tak perlu kau beri bunga, jahanam!
“aku tidak menyembah pohon! Aku menyembah Gusti” kataku
“ah…persetan, pokoknya kau harus pergi dari desa ini!”
“ini rumahku, aku lahir disini, tolong jangan suruh aku pergi”
“ah..jangan banyak omong, pergi! Atau kami bakar rumah dan penghuninya!”
Aku kalut, takut, marah dan bingung. Terbayang ayah dan ibu terbakar dalam rumah dan mati. Aku tak mau itu terjadi. Dan orang-orang itu mulai mendorongku, bahkan ada yang mulai melemparkan obor ke halaman rumahku.
“Ya..ya..ya…aku pergi”
Lalu orang-orang itu segera menarik tanganku dan mendorongku sampai aku terjatuh, dan aku terus terjatuh sampai akhirnya aku tersungkur di batas desa dengan hutan angker yang ditakuti warga dusun.aku tersungkur dan tak bangun lagi. Semua sepi. Sampai akhirnya dingin air hujan membangunkanku.

Aku kini sendiri, dan kata mereka juka aku kembali maka ayah dan ibuku akan hilang. Aku sedih, kata ayah hanya Gusti yang berhak menghilangkan manusia, namun kali ini manusia-manusia yang tak kukenal itu mengancam aku akan menghilangkan kedua orang tuaku.

Tangisku kini kering bila mengingat malam itu, tertawapun aku tak sanggup. Aku hanya bisa tersenyum bila dia datang ke gubuku. Aku pernah bertanya mengapa dia tak menikah? Awalnya dia menangis, namun tak menjawab satu katapun, dan akhirnya dia tak pernah mengatakan apapun dan aku tak pernah bertanya apapun. Saat bertemu, kami hanya bicara tentang burung yang berwarna tiga denan paruh putih dan bersungut ungu, tentang lekuk batu yang terbentuk oleh air terjun tempat kita mandi bersama, tentang rimbunnya daun pohon di hutan yang ditakuti oleh penduduk dusun.

Dia yang dulu sangat dekat denganku kini menjadi semakin dekat denganku. Dan perlahan aku tahu bahwa anak kepala dusunpun menginginkan dia, namun dia tak mau hingga akhirnya anak kepala dusun itu memmbenciku sampai ke akar. Dan akhirnya akupun tahu bahwa orang-orang beringas yang hamper membakar rumah kami adalah orang bayaran si Gondo. Tapi sudahlah, aku sudah tercatat di sejarah dusunku sebagai salah satu noda hitam yang memalukan. Dan dengan berjalannya waktu, itu sudah tak menjadi beban pikiranku, lebatnya pohon, beningnya air dan suara burung di hutam ini sudah mengajariku untuk memaafkan semuanya. Dan kudengar aku sudah punya adik perempuan berumur 3 tahun, aku beryukur karena Tuhan telah memberikan pengganti kepada orang tuaku yang aku yakin lebih baik.

Dan kembali lagi tentang dia, katanya dia tak ingin lagi kembali ke dusun. Dia ingin tinggal di hutan bersamaku, terasing dengan dari kebencian untuk bergabung dengan kedamaian katanya. Perlu waktu yang cukup lama untuku untuk mengiyakan permintaannya untuk tinggal bersama di hutan nan lebat dan damai ini. Dan kurasa sudah cukup lama dia membuktikan bahwa kami memang ditakdirkan untuk bersama. Dan bersatulah kami beranak pinak di hutan kami, bersama Tuhan kami kata orang dusun. Dan kata ayahku yang sempat datang untuk memperkenalkan aku kepada adiku yang sudah menginjak remaja “kasihan orang-orang, mereka tetap berpikiran bahwa Gusti mereka dan Gustiku berbeda, entah sampai kapan mereka akan berpikir seperti itu, kita serahkan saja kepada Gusti.

Minggu, 06 Desember 2009

MATI

Tubuh itu terbujur kaku
Kepala dan kakinya terikat agar bisa membujur bagus
Dan tanganya kadang dipaksa memegang perut
Dia seperti patung yang berkulit lembut

Roh telah keluar dari jasadnya
Berusaha lagi mencapaiNya
Beberapa pintu akan dilaluinya
Dan semua tergantung dari semasa hidupnya

Akankah rohku menyesali segala kesalahan dalam hidupku
Akankah rohku berencana memperbaiki kehidupan selanjutnya
Sedikitpun aku tak mengerti akan hal itu
Yang aku tahu, ketika aku hidup, aku masih bisa menyesali dan bisa memperbaiki.


Note : minggu, 7 Desember kemarin pak Susilo, bapaknya Oni meninggal. Semoga perjalanan pak Susilo lancar dan berbahagia bersamaNya. Banyak aku belajar darinya, kesederhanaan, perjuangan, kejujuran dan kepasrahan dalam kehidupan. Selamat jalan pak Susilo.

Rabu, 18 November 2009

NURANI

Kataku, hidup ini indah
Tentang katamu, aku mencoba tuk tak perduli
Karena kupercaya bahwa Dia indah
Karena kupercaya bahwa Dia baik

Sering kumerasa bahwa kita perlu jadi elang
Karena saat jadi bangau, sang pemimpin tak lagi bijak
Karena saat jadi manusia, sang pemimpin tak lagi perduli
Saat kujadi elang, kubisa tentukan arahku sendiri. Tak perlu ku mengekor

Kadang bosan aku mendengar
Mendengar suara harimau, namun yang ternyata dia anjing
Mendengar suara malaikat, namun ternyata dia iblis
Jadi sudah saatnya kudengarkan hati kecilku, untuku dan orang sekitarku

Aku berdoa semoga bangau, mulai dengarkan anaknya
Aku berdoa semoga manusia, mulai dengarkan hatinya
Aku berdoa semoga harimau tak berubah ke anjing
Dan aku berdoa semoga malaikat terasa jelas olehku

Minggu, 01 November 2009

ADAKAH MILIKU?

Banyak para pemuka agama dan orang kaya saat melepaskan sebagian harta mengatakan bahwa ini adalah titipan Allah, jadi sudah selayaknya kalau kita bersedekah. Mereka benar 100%, dan aku ingin seperti itu. Bisa melepaskan apa saja yang ada padaku kapan saja dan dimana saja. Kekuasaan, harta, benda, anak, orang tua, apapun, siapapun dan berapapun bisa kita lepaskan, karena semua itu adalah ‘titipan’ Tuhan. Namun aku merasa tak mampu, aku selalu masih merasa bahwa aku masih menginginkannya, dan saat kehilangan sedikit saja aku masih merasa gusar.

Mungkin itu karena aku manusia, mungkin kalau malaikat bisa begitu. Manusia punya beragam rasa, rasa senang, sayang, ingin punya, takut, dan rasa-rasa yang lain. Namun toh kita telah diberiNya pikiran untuk menentukan rasa yang mana yang akan kita pakai, kita bisa menentukan. Bila ada saja sedikit kasih dalam hatiku kita, berarti kita punya kesempatan untuk mengembangkannya menjadi lebih besar. Semakin besar kesadaran kita akan kasih, pasti akan menjadikan kita melupakan kata “miliku dan punyaku”. Semua perlu dilatih dan dibiasakan, dari sedikit dahulu.

Oleh sebab itu sebelum mengucapkan bahwa “ini semua titipan Allah” sebaiknya dipikirkan kembali. Apakah kalimat tersebut keluar dari hati atau dari otak kita? Selalu pikirkan “adakah miliku?”

TRUK SAMPAH VS MOBIL DINAS PEJABAT

Dari senin sampai jumat hidung ini selalu saja terpolusi oleh bau menyengat yang berasal dari truk sampah yang sudah jauh didepanku, dan bila ingin terbebaskan, aku harus memacu sepeda motor agar bisa melewatinya.

Hampir separo dari semua truk sampah yang aku pernah salip bak kayunya berlubang semuanya, ada yang kayunya kropos, ada yang sudah miring karena kelebihan beban. Yang pasti hamper semuanya meneteskan air disepanjang jalan yang dilewatinya sehingga aroma pagi menjadi semakin seru antara polusi dan bau busuk sampah basah. Aku Cuma berpikir mungkin pemerintah kehabisan dana untuk perbaikan sehingga harus menunggu anggaran tahun depan untuk memperbaikinya. Namun tiba-tiba terdengar kabar bahwa mobil dinas dari para pejabat tinggi diperbaharui! Ini gila!! Atau mungkin aku yang bodoh karena tak tahu tentang pembukuan dan anggaran. Katanya, ini semua sudah dianggarkan. Pertanyaannya adalah apa kalau sudah dianggarkan itu harus dihabiskan? Apa tidak bisa dialihkan barang sedikit untuk perbaiki atau untuk beli bak sampah yang sudah tak layak pakai itu.

Aku berdoa, semoga pemerintah lebih memperhatikan hal-hal kecil yang mengakibatkan hal besar bagi masyarakat. Bila mereka mau, mereka pasti bisa.

Kamis, 22 Oktober 2009

MAMI

Tadi pagi aku diciumnya
Bahagia sekali aku
Biasanya aku dicium saat ada sesuatu
Namun tadi, dia menciumku begitu saja

Aku bahagia
Karena aku sudah mulai mencium tangannya
Karena sudah mulai bisa mengangguk saat dia bicara
Karena sudah mulai bisa memberikan cucu yang bisa buat dia tertawa

Memang banyak impianku untuknya
Mungkin nanti tidak semua terjadi
Mungkin nanti hanya sebagian kecil terjadi
Aku bahagia, karena apapun yang terjadi adalah kehendakNya

Entah sudah berapa doa yang dia panjatkan untuku
Yang pasti, tak terhitung
Entah sudah berapa pujian yang dia ucapkan untuku
Yang pasti, tak teringat

Aku bersyukur dilahirkannya
Aku bersyukur dirawatnya
Aku bersyukur dicubitnya
Dan aku bersyukur diharapkannya.

Terima kasih Tuhan, atas Mami yang luar biasa untuku.