Cuma dia yang masih sering mengunjungiku. Kadang seminggu sekali, kadang sebulan sekali, lebih sering sebulan sekali. Awalnya aku tak begitu perduli dengan apa yang dilakukannya, namun seiring berjalannya waktu, aku jadi perduli. Mungkin ini karena kesadaran. Aku sekarang hidup sendiri. Kutinggalkan desa kelahiranku untuk hidup sendiri. Sebenarnya aku tak ingin sendiri, mereka yang memaksaku. Mereka menghujat ibu dan ayahku. Bahkan hampir membunuhnya kukira. Masih kuingat saat parang tajam berkarat itu menempel dileherku. Katanya “kau yang pergi atau kau sekeluarga habis”. Menurut mereka aku penyebab kericuhan di kampung, namun aku sendiri tak ingat kericuhan apa yang kutimbulkan. Yang bisa kuingat hanya Gondo, anak pak kepala dusun yang juga orang paling kaya didusun meludahi sesaji yang aku taruh di mata air belakang rumah kami. Aku marah, aku hantam kepalanya dengan kepalan tanganku yang keras karena terbiasa membelah kayu, dan dia tersungkur, lalu bangkit dan berlari dengan mata penuh dendam.
Seminggu setelah kejadian itu, rumahku sering didatangi hal-hal yang tidak menyenangkan. Suatu malam tiba-tiba sebongkah batu sebesar dua kepalan tangan menembus genteng rapuh dan jatuh berdegum didepan ibuku yang sedang makan, ibu kaget dan menangis sepanjang malam. Lalu ada taburan garam didepan pintu dan segumpal tanah aneh dibungkus kain putih, kemudian ayam milik ayah mati dengan mulut berbusa. Sampai puncaknya disuatu malam ada sekitar seratus orang yang aku sendiri tak tahu siapa mereka, yang pasti mereka bukan orang dusun sini. Ratusan orang itu berteriak laksana prajurit yang akan menghancurkan lawannya. Kami ketakutan, wajah ibu pucat dan ayah geram menahan amarah.
“ijinkan aku keluar ayah” pintaku. Dan mata itu, sinar mata yang tak akan pernah kulupakan seperti mengatakan bahwa dia ingin menemaniku keluar untuk hadapi orang-orang tak dikenal itu, namun dia juga tak kuasa meninggalkan wanita yang dicintainya duduk lemas dengan wajah pucat. Dan dia Cuma mengannggukan kepalanya, dan aku tahu dihatinya dia berkata “hati-hati nak, Gusti bersamamu”
Dan aku keluar melangkah keluar tanpa membawa apapun untuk melindungi diri. Takut, ya aku sangat takut saat itu, namun aku lebih takut bila aku harus melihat orang-orang yang seperti lupa diri itu menghancurkan ayah ibuku.
“apa maumu?” tanyaku
“kamu orang najis, haram, buat nama desa jadi hancur” kata seorang laki-laki berwajah Sengkuni.
“Ya, kamu kafir penyembah pohon!”
“Dasar bangsat! Penyembah patung, Gusti tak perlu kau beri bunga, jahanam!
“aku tidak menyembah pohon! Aku menyembah Gusti” kataku
“ah…persetan, pokoknya kau harus pergi dari desa ini!”
“ini rumahku, aku lahir disini, tolong jangan suruh aku pergi”
“ah..jangan banyak omong, pergi! Atau kami bakar rumah dan penghuninya!”
Aku kalut, takut, marah dan bingung. Terbayang ayah dan ibu terbakar dalam rumah dan mati. Aku tak mau itu terjadi. Dan orang-orang itu mulai mendorongku, bahkan ada yang mulai melemparkan obor ke halaman rumahku.
“Ya..ya..ya…aku pergi”
Lalu orang-orang itu segera menarik tanganku dan mendorongku sampai aku terjatuh, dan aku terus terjatuh sampai akhirnya aku tersungkur di batas desa dengan hutan angker yang ditakuti warga dusun.aku tersungkur dan tak bangun lagi. Semua sepi. Sampai akhirnya dingin air hujan membangunkanku.
Aku kini sendiri, dan kata mereka juka aku kembali maka ayah dan ibuku akan hilang. Aku sedih, kata ayah hanya Gusti yang berhak menghilangkan manusia, namun kali ini manusia-manusia yang tak kukenal itu mengancam aku akan menghilangkan kedua orang tuaku.
Tangisku kini kering bila mengingat malam itu, tertawapun aku tak sanggup. Aku hanya bisa tersenyum bila dia datang ke gubuku. Aku pernah bertanya mengapa dia tak menikah? Awalnya dia menangis, namun tak menjawab satu katapun, dan akhirnya dia tak pernah mengatakan apapun dan aku tak pernah bertanya apapun. Saat bertemu, kami hanya bicara tentang burung yang berwarna tiga denan paruh putih dan bersungut ungu, tentang lekuk batu yang terbentuk oleh air terjun tempat kita mandi bersama, tentang rimbunnya daun pohon di hutan yang ditakuti oleh penduduk dusun.
Dia yang dulu sangat dekat denganku kini menjadi semakin dekat denganku. Dan perlahan aku tahu bahwa anak kepala dusunpun menginginkan dia, namun dia tak mau hingga akhirnya anak kepala dusun itu memmbenciku sampai ke akar. Dan akhirnya akupun tahu bahwa orang-orang beringas yang hamper membakar rumah kami adalah orang bayaran si Gondo. Tapi sudahlah, aku sudah tercatat di sejarah dusunku sebagai salah satu noda hitam yang memalukan. Dan dengan berjalannya waktu, itu sudah tak menjadi beban pikiranku, lebatnya pohon, beningnya air dan suara burung di hutam ini sudah mengajariku untuk memaafkan semuanya. Dan kudengar aku sudah punya adik perempuan berumur 3 tahun, aku beryukur karena Tuhan telah memberikan pengganti kepada orang tuaku yang aku yakin lebih baik.
Dan kembali lagi tentang dia, katanya dia tak ingin lagi kembali ke dusun. Dia ingin tinggal di hutan bersamaku, terasing dengan dari kebencian untuk bergabung dengan kedamaian katanya. Perlu waktu yang cukup lama untuku untuk mengiyakan permintaannya untuk tinggal bersama di hutan nan lebat dan damai ini. Dan kurasa sudah cukup lama dia membuktikan bahwa kami memang ditakdirkan untuk bersama. Dan bersatulah kami beranak pinak di hutan kami, bersama Tuhan kami kata orang dusun. Dan kata ayahku yang sempat datang untuk memperkenalkan aku kepada adiku yang sudah menginjak remaja “kasihan orang-orang, mereka tetap berpikiran bahwa Gusti mereka dan Gustiku berbeda, entah sampai kapan mereka akan berpikir seperti itu, kita serahkan saja kepada Gusti.
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Kamis, 10 Desember 2009
Senin, 13 April 2009
Puber
Harusnya aku tak menyapanya saat itu. Ya, memang saat itu waktu berlalu begitu cepat dan aku merasa apa yang kulakukan adalah diluar kendali wajarku, aku memang gugup namun ada sesuatu yang memaksa semua itu untuk terjadi. Saat itu kami berpapasan di sebuah mall, aku baru saja beli buah dan dia berjalan dari arah pintu masuk. Jantungku berdegup keras sekali saat aku melihatnya berjalan ke arahku dan aku berharap diapun merasakan hal yang sama. Aku menyapanya dan kami berdua berhenti dan berbicara sebentar di tengah keramaian mall. Dan akhirnya kami memutuskan untuk makan malam bersama di sebuah café di mall tersebut.
“Kau tidak bersama suami dan anakmu?”
“Kamu juga sendiri, keluargamu mana?”
“Anak-anak dirumah dan istriku masih di kantor rapat bareng bosnya”
Kemudian suasana menjadi hening, dikepalaku suara ramai di mall menjadi seperti film bisu, hanya orang-orang yang lalu lalang, dan dia terus menunduk sambil sesekali menengadahkan wajahnya untuk melihatku sekejap dan terus berpaling kea rah yang lain. Dan akhirnya pandangan kita bertaut untuk beberapa saat. Oh uhan dia sangat cantik sekali, lalu bayangan wajah istriku melewati pandanganku berusaha mengalahkan wanita didepanku. Ingin sekali aku kalah dan tetap memikirkan istriku yang memang sangat aku cintai, sampai sekarangpun aku merasa sebagai laki-laki yang beruntung memiliki istri cantik dengan karir yang baik dan anak-anak yang lucu serta baik, aku merasa memiliki keluarga yang bahagia lahir batin. Lalu bayangan istrikupun menghilang dan kembali aku melihat wajahnya yang cantik juga. Aku jatuh cinta lagi.
Kami berdua bercerita tentang keluarga kami masing-masing, dia bercerita tentang suaminya yang karirnya juga sedang melesat, hampir setiap minggu mereka selalu bisa meluangkan waktu untuk pergi ke luar kota bersama, dan dia juga seperti aku merasa sebagai wanita yang beruntung memiliki suami yang baik lahir dan batin serta anak-anak yang baik.
Lalu kami sepakat untuk makan malam bersama lagi minggu depan.
Sepanjang minggu aku tak bisa melepaskan diri dari bayangannya. Bangun tidur, bekerja, bahkan saat bersama istrikupun. Aku merasa terganggu namun akupun juga merasa bahagia. Dan aku tidak ingin kehilangan istriku, aku tak pernah ingin mengecewakan istriku, aku mencintainya.
Dan hari dimana makan malam itu harus terjadi lagi tiba. Pulang kantor aku langsung ke café di lereng bukit yang tenang dan tersembunyi, dan ternyata dia sudah disana dengan sebuah buku novel kelihatannya. Disamping tangan kanannya secangkir kopi yang masih berasap.
“Hai, sudah nunggu dari tadi?”
“Nggak, baru habis baca dua halaman”
“Kau suka baca buku ya?”
“Ya, aku banyak menghabiskan waktuku untuk baca buku selain bekerja dan mengurus keluarga, kamu sendiri?”
“Aku lebih suka menghabiskan waktuku untuk menonton DVD, aku lebih memilih untuk melihat dan mendengar dari pada membaca”
“kalau kau suka membaca, kau pasti akan lebih hebat dari padi kau sekarang” katanya
Dan kami mnghabiskan waktu dengan membicarakan buku-buku yang dia baca dan film-film yang aku tonton. Dan aku merasa sangat terhibur, hatiku bergejolak, adrenalin atau apakah itu namanya terasa memompa aliran darahku. Aku sangat bersemangat dan aku merasa sangat hidup. Dan aku tambah merasa sangat bersalah terhadap istri dan anak-anaku.
Semenjak itu aku hidup diantara dua wanita, istriku dan dia. Aku tidak tahu apakah aku benar-benar jatuh cinta kepadanya, yang jelas aku merasa lebih siap kehilangan dia ketimbang istriku, dari situ aku bisa menilai bahwa cintaku kepada istriku lebih besar dibandingkan dengan rasa ‘sukaku’ kepadanya. Aku bersyukur karena aku masih sangat mencintai istriku. Dan ‘dia’ adalah hiburan bagiku, namun hiburan itu sudah kurasa mengganggu. Perasaan itu sudah hampir sama dengan perasaan saat aku masih mendekati istriku dulu, saat aku belum mengatakan cinta pada istriku dulu. Ya Tuhan, tolong aku, aku takut jatuh cinta lagi. Aku takut tak sanggup menguasai nafsu itu. Aku tetap ingin menjadi suami dari istriku. Namun aku juga ingin beberapa saat bersamanya. Tuhan bantu aku untuk bisa melupakannya, dan dia terlalu kuat dan cantik untuk dilupakan.
Suatu malam saat ritual makan malam bersama lagi.
“Sudah 3 bulan kita melakukan makan malam bersama setiap dua minggu sekali, aku merasa ada yang tidak benar mulai tumbuh di hatiku, bahkan sebenarnya perasaan itu sudah ada jauh sebelum kita melakukan ritual makan malam bersama ini”
“Apa maksudmu dengan perasaan yang tidak benar”
Setelah tiga bulan kita menjalani ritual makan mala mini, cara dan nada bicara antara kita sudah berbeda, aku merasa bahwa kita sangat dekat. Kadang aku ingin sekali menciumnya, namun hal itu tak pernah aku lakukan. Aku menghormatinya dan selain itu aku juga sangat menghormati istriku. Jadi selama itu pula kami hanya makan bersama, bercerita, tertawa tidak lebih dari itu. Selebihnya aku pendam dalam-dalam di hatiku. Aku tidak tahu dengan bagaimana perasaanya, apakah dia juga punya perasaan sama dengan perasaanku. Aku tidak tahu.
“Aku semakin menyukaimu”
“Lalu apa salahnya kalau kita saling menyukai, aku senang kau menjadi teman dekatku”
“itu masalahnya, aku bukan hanya mau menjadi temanmu, aku mulai ingin lebih, aku mulai mencintaimu, maaf kalau aku lancang”
Wajah cantik itu terlihat kaget, dia diam dan matanya berair dan butiran itu mulai menetes, mengalir melewati pipinya yang bersih, dan dia diam. Aku diam, aku bingung.
“Mungkin sebaiknya dulu aku tidak perlu berhenti untuk menggantikan ban mobilmu, dan mungkin adalah suatu kesalahan ketika kita saling bertukar nomor handphone”
“Dan kau anggap juga suatu kesalahan ketika aku mengiyakan untuk makan malam kita yang pertama?”
Wajah lembut itu mulai mengeras, matanya memerah terlihat kecewa.
“Mungkin” jawabku singkat. Aku sudah bertekad dalam hati untuk mengakhiri semua ini. Aku harus kembli sepenuhnya untuk istriku. Aku terlalu mencitai istriku. Biarpun aku juga merasa kalau aku mulai mencintai dia.
Kami berdua diam, saling menunduk. Aku tak tahu apa yang dia pikirkan, dalam pikiranku aku berpikir bahwa aku adalah seorang laki-laki pengecut yang telah mengambil hati istri laki-laki lain. Tidak seharusnya aku seperti itu. Aku seharusnya menghormati dia. Dia sama sekali tidak dicampakan oleh suaminya, dia dicintai dan dihormati oleh suaminya. Hatiku sakit sekali. Lalu bayangan istriku kembali melewati mataku. Aku harus menghendtikan ritual makan mala mini, aku telah mendustai istriku dan suaminya.
“Ini adalah makan malam kita yang terakhir, kalaupun suatu saat nanti kita ditakdirkan untuk bertemu kembali, maka pertemuan itu adalah antara aku dan istriku bersama kau dan suamimu”
Wajah tegangnya sudah mulai berubah, dia sedikit lebih tenang dan mulai bisa menguasai diri. Itu terbaca dari gerakan tubuhnya.
“Sampaikan salamku untuk suamimu bila kau mau, dan akan kuceritakan makan malam terakhir ini kepada istriku agar dia tahu bahwa semua sudah kembali seperti dulu”
Dan kami berpisah malam itu, aku tersenyum mengantar kepergiannya. Dan aku merasa ada bagian dari diriku yang pergi atau hilang. Agak sakit namun aku percaya waktu yang akan menyembuhkan. Lalu nanti akan kuceritakan kepada istriku bahwa aku baru saja makan malam dengan seorang klien yang cantik dan hebat, dan aku bayangkan istriku bertanya dan beri komentar “dia pasti jatuh hati pada suamiku yang hebat ini” . Narsis yah..?? ya begitulah cara kami berdua saling memuji, dan begitulah cara kami untuk saling percaya. Tuhan, terima kasih atas kesadaran awal yang terjadi, dan terima kasih atas Kau berikan aku pasangan yang bisa selalu membuatku sadar. Terima kasih.
“Kau tidak bersama suami dan anakmu?”
“Kamu juga sendiri, keluargamu mana?”
“Anak-anak dirumah dan istriku masih di kantor rapat bareng bosnya”
Kemudian suasana menjadi hening, dikepalaku suara ramai di mall menjadi seperti film bisu, hanya orang-orang yang lalu lalang, dan dia terus menunduk sambil sesekali menengadahkan wajahnya untuk melihatku sekejap dan terus berpaling kea rah yang lain. Dan akhirnya pandangan kita bertaut untuk beberapa saat. Oh uhan dia sangat cantik sekali, lalu bayangan wajah istriku melewati pandanganku berusaha mengalahkan wanita didepanku. Ingin sekali aku kalah dan tetap memikirkan istriku yang memang sangat aku cintai, sampai sekarangpun aku merasa sebagai laki-laki yang beruntung memiliki istri cantik dengan karir yang baik dan anak-anak yang lucu serta baik, aku merasa memiliki keluarga yang bahagia lahir batin. Lalu bayangan istrikupun menghilang dan kembali aku melihat wajahnya yang cantik juga. Aku jatuh cinta lagi.
Kami berdua bercerita tentang keluarga kami masing-masing, dia bercerita tentang suaminya yang karirnya juga sedang melesat, hampir setiap minggu mereka selalu bisa meluangkan waktu untuk pergi ke luar kota bersama, dan dia juga seperti aku merasa sebagai wanita yang beruntung memiliki suami yang baik lahir dan batin serta anak-anak yang baik.
Lalu kami sepakat untuk makan malam bersama lagi minggu depan.
Sepanjang minggu aku tak bisa melepaskan diri dari bayangannya. Bangun tidur, bekerja, bahkan saat bersama istrikupun. Aku merasa terganggu namun akupun juga merasa bahagia. Dan aku tidak ingin kehilangan istriku, aku tak pernah ingin mengecewakan istriku, aku mencintainya.
Dan hari dimana makan malam itu harus terjadi lagi tiba. Pulang kantor aku langsung ke café di lereng bukit yang tenang dan tersembunyi, dan ternyata dia sudah disana dengan sebuah buku novel kelihatannya. Disamping tangan kanannya secangkir kopi yang masih berasap.
“Hai, sudah nunggu dari tadi?”
“Nggak, baru habis baca dua halaman”
“Kau suka baca buku ya?”
“Ya, aku banyak menghabiskan waktuku untuk baca buku selain bekerja dan mengurus keluarga, kamu sendiri?”
“Aku lebih suka menghabiskan waktuku untuk menonton DVD, aku lebih memilih untuk melihat dan mendengar dari pada membaca”
“kalau kau suka membaca, kau pasti akan lebih hebat dari padi kau sekarang” katanya
Dan kami mnghabiskan waktu dengan membicarakan buku-buku yang dia baca dan film-film yang aku tonton. Dan aku merasa sangat terhibur, hatiku bergejolak, adrenalin atau apakah itu namanya terasa memompa aliran darahku. Aku sangat bersemangat dan aku merasa sangat hidup. Dan aku tambah merasa sangat bersalah terhadap istri dan anak-anaku.
Semenjak itu aku hidup diantara dua wanita, istriku dan dia. Aku tidak tahu apakah aku benar-benar jatuh cinta kepadanya, yang jelas aku merasa lebih siap kehilangan dia ketimbang istriku, dari situ aku bisa menilai bahwa cintaku kepada istriku lebih besar dibandingkan dengan rasa ‘sukaku’ kepadanya. Aku bersyukur karena aku masih sangat mencintai istriku. Dan ‘dia’ adalah hiburan bagiku, namun hiburan itu sudah kurasa mengganggu. Perasaan itu sudah hampir sama dengan perasaan saat aku masih mendekati istriku dulu, saat aku belum mengatakan cinta pada istriku dulu. Ya Tuhan, tolong aku, aku takut jatuh cinta lagi. Aku takut tak sanggup menguasai nafsu itu. Aku tetap ingin menjadi suami dari istriku. Namun aku juga ingin beberapa saat bersamanya. Tuhan bantu aku untuk bisa melupakannya, dan dia terlalu kuat dan cantik untuk dilupakan.
Suatu malam saat ritual makan malam bersama lagi.
“Sudah 3 bulan kita melakukan makan malam bersama setiap dua minggu sekali, aku merasa ada yang tidak benar mulai tumbuh di hatiku, bahkan sebenarnya perasaan itu sudah ada jauh sebelum kita melakukan ritual makan malam bersama ini”
“Apa maksudmu dengan perasaan yang tidak benar”
Setelah tiga bulan kita menjalani ritual makan mala mini, cara dan nada bicara antara kita sudah berbeda, aku merasa bahwa kita sangat dekat. Kadang aku ingin sekali menciumnya, namun hal itu tak pernah aku lakukan. Aku menghormatinya dan selain itu aku juga sangat menghormati istriku. Jadi selama itu pula kami hanya makan bersama, bercerita, tertawa tidak lebih dari itu. Selebihnya aku pendam dalam-dalam di hatiku. Aku tidak tahu dengan bagaimana perasaanya, apakah dia juga punya perasaan sama dengan perasaanku. Aku tidak tahu.
“Aku semakin menyukaimu”
“Lalu apa salahnya kalau kita saling menyukai, aku senang kau menjadi teman dekatku”
“itu masalahnya, aku bukan hanya mau menjadi temanmu, aku mulai ingin lebih, aku mulai mencintaimu, maaf kalau aku lancang”
Wajah cantik itu terlihat kaget, dia diam dan matanya berair dan butiran itu mulai menetes, mengalir melewati pipinya yang bersih, dan dia diam. Aku diam, aku bingung.
“Mungkin sebaiknya dulu aku tidak perlu berhenti untuk menggantikan ban mobilmu, dan mungkin adalah suatu kesalahan ketika kita saling bertukar nomor handphone”
“Dan kau anggap juga suatu kesalahan ketika aku mengiyakan untuk makan malam kita yang pertama?”
Wajah lembut itu mulai mengeras, matanya memerah terlihat kecewa.
“Mungkin” jawabku singkat. Aku sudah bertekad dalam hati untuk mengakhiri semua ini. Aku harus kembli sepenuhnya untuk istriku. Aku terlalu mencitai istriku. Biarpun aku juga merasa kalau aku mulai mencintai dia.
Kami berdua diam, saling menunduk. Aku tak tahu apa yang dia pikirkan, dalam pikiranku aku berpikir bahwa aku adalah seorang laki-laki pengecut yang telah mengambil hati istri laki-laki lain. Tidak seharusnya aku seperti itu. Aku seharusnya menghormati dia. Dia sama sekali tidak dicampakan oleh suaminya, dia dicintai dan dihormati oleh suaminya. Hatiku sakit sekali. Lalu bayangan istriku kembali melewati mataku. Aku harus menghendtikan ritual makan mala mini, aku telah mendustai istriku dan suaminya.
“Ini adalah makan malam kita yang terakhir, kalaupun suatu saat nanti kita ditakdirkan untuk bertemu kembali, maka pertemuan itu adalah antara aku dan istriku bersama kau dan suamimu”
Wajah tegangnya sudah mulai berubah, dia sedikit lebih tenang dan mulai bisa menguasai diri. Itu terbaca dari gerakan tubuhnya.
“Sampaikan salamku untuk suamimu bila kau mau, dan akan kuceritakan makan malam terakhir ini kepada istriku agar dia tahu bahwa semua sudah kembali seperti dulu”
Dan kami berpisah malam itu, aku tersenyum mengantar kepergiannya. Dan aku merasa ada bagian dari diriku yang pergi atau hilang. Agak sakit namun aku percaya waktu yang akan menyembuhkan. Lalu nanti akan kuceritakan kepada istriku bahwa aku baru saja makan malam dengan seorang klien yang cantik dan hebat, dan aku bayangkan istriku bertanya dan beri komentar “dia pasti jatuh hati pada suamiku yang hebat ini” . Narsis yah..?? ya begitulah cara kami berdua saling memuji, dan begitulah cara kami untuk saling percaya. Tuhan, terima kasih atas kesadaran awal yang terjadi, dan terima kasih atas Kau berikan aku pasangan yang bisa selalu membuatku sadar. Terima kasih.
Langganan:
Postingan (Atom)
