Minggu, 10 Februari 2008

I am the happiest person in the earth

Kalimat yang sangat menggelitik, saya dapatkan dari tag line e-mail seorang sahabat saya yang banyak memberikan inspirasi kepada kami. Sangat powerfull! Dalam sebuah seminar yang saya ikuti, kita disarankan untuk memberikan masukan kepada diri kita setiap pagi saat kita bangun tidur. Masukan yang kita berikan adalah seperti apa hari selama 24 jam nanti menjadi kita inginkan. Tentu saja semua dari kita menginginkan hari yang enak, seperti dapat proyek, dapat lotre, dapat nilai yang bagus, dapat pujian dari atasan atau apa saja yang mengenakan hati kita. Dengan memasukan kalimat positif seperti “I am the happiest person in the earth” saat bangun tidur misalnya, berarti kita sudah belajar menjadi nahkoda dalam hidup kita, kita mau menjadi orang yang sangat berbahagia. Hidup kita tidak sekedar mengalir dan ditentukan oleh nasib, tapi kita yang harus menjadi nahkoda dari nasib hidup kita. Saat mengucapkan, ucapkan dengan tersenyum dan keyakinan dalam hati yang paling dalam, Anda pasti akan merasakan gejolak positif dalam perasaan Anda yang akan membawa Anda menjadi orang yang paling berbahagia sepanjang hari.

Dalam buku “Who will cry when you die” Robin Sharma menceritakan tentang “Platinum 30” yang artinnya saat kita bangun pagi yang pertama kali harus kita lakukan untuk mendapatkan hidup berkualitas sepanjang hari adalah meluangkan waktu 30 menit untuk membaca hal yang positif selama 15 menit lalu kemudian meditasi selama 15 menit. Yang artinya sama dengan menanamkan hal yang sangat positif selama 30 menit setiap hari. Kalau 1 minggu itu sama dengan 3.5 jam. Dan artinya dalam setahun Anda cuma menyisihkan waktu Anda selama 7.58 hari dari 365 hari dalam setahun untuk menanamkan hal positif dalam otak dan hati. Kalau masih mengalami kesulitan, coba bandingkan dengan waktu yang Anda gunakan untuk menonton acara TV gossip atau sinetron, lalu coba pikirkan kira-kira mana lebih berguna? Saya sendiri sampai saat ini masih belajar untuk menjadi lebih disiplin terhadap diri saya sendiri tentang “Platinum 30”. Dan saya percaya bahwa saya pasti bisa, karena saya mau menjadi orang yang paling berbahagia di dunia ini.

Semarang, 11 Februari 2008

Rabu, 06 Februari 2008

“Merokok” vs. “Ndableg”

Bagi orang yang belum pernah merokok komentar mereka adalah “apa sih enaknya merokok?” lalu jawab si perokok “kau belum tahu enaknya merokok, makanya kau tidak tahu”

Lalu si tidak perokok berkata dan bertanya “Kau sudah tahu bahwa merokok itu tidak sehat, tapi mengapa kau masih merokok?” jawab si perokok “nanti kalau saya berhenti merokok kasihan buruh pabrik rokok dan cukai Negara nanti berkurang drastis dan akhirnya Indonesia nggak bisa bayar hutang”

Dan masih banyak jawaban-jawaban konyol dan bodoh dari mereka yang masih merokok demi membela kenikmatan yang mereka dapatkan dari merokok. Aku katakan itu konyol dan bodoh karena kurang lebih terakhir tiga tahun yang lalu aku berhenti mengatakan hal-hal bodoh tersebut. Aku berhenti merokok, ya aku berhenti melakukan hal yang sudah aku lakukan kalau tidak salah mulai saat aku duduk di kelas satu SMP kalau tidak salah.

Definisi dari “ndableg” adalah melakukan seuatu yang tidak diperbolehkan atau tidak disarankan dengan sengaja atau tidak sengaja, atau istilah kerennya “cuek”. Sebagai eks perokok saya pernah ndableg dalam urusan merokok. Ndableg terhadap diri sendiri dan juga ndableg terhadap orang lain yang dirugikan misalnya, ibu-ibu yang pernah duduk disebelah saya ketika naik bis, anak-anak kecil yang pernah berada disekitar, bisa anak kita sendiri, keponakan, anak tetangga atau anak-anak orang lain yang pernah berdekatan dengan kita dan harusnya bisa hidup lebih panjang tetapi terkurangi hak hidupnya karena asap rokok kita, yang harusnya mereka bisa bermain keesokan harinya tapi tidak bisa karena sakit alergi asap dari asap rokok yang kita keluarkan.

Dan aku merasa sangat beruntung bisa berhenti merokok, bagaimana caranya berhenti merokok, caranya hanya ada dua jangan beli rokok dan jangan minta rokok kalau tidak punya rokok. Dan bila anda memutuskan untuk masih merokok, silakan karena itu pilihan anda, saran saya hanya gunakan asap itu untuk anda sendiri, jangan berikan ke orang lain apalagi anak anda atau pasangan hidup anda. Merokoklah diruangan tersendiri atau yang penting saat anda sendiri dan tidak berdekatan dengan orang lain. Dengan begitu anda sudah menjadi orang yang bertanggung jawab terhadap apa yang anda lakukan.

Selamat bagi yang sudah berhenti merokok dan yang baru saja memutuskan untuk berhenti.

Selamat juga bagi yang belum tapi sudah memutuskan untuk tidak merugikan orang lain dengan merokok “sendirian” di tempat tersendiri.

Selamat juga kepada mereka yang masih “ndableg” memutuskan untuk terus merokok dimana saja dan kapan saja karena dulu saya juga begitu dan saya doakan semoga anda cepat insyaf, he…he…he…

Semarang, 7 February 2008. Selamat tahun baru “tikus” semoga semuanya selalu berubah menjadi lebih baik.

Senin, 04 Februari 2008

Kebahagiaan

Aku baru saja belajar tentang sebuah makan kebahagiaan dari anaku yang kedua “Dena”. Nama lengkapnya Ni Made Purnama Komang, dia lahir tepat saat bulan purnama, dan wajahnyapun sangat cerah seperti bulan purnama yang menerangi malam gelap.

Sabtu sore menjelang malam, 2 Februari 2008. Dalam hati aku sudah memutuskan untuk tidak sembahyang hari raya Kuningan di pura Giri Natha Semarang, hujan gerimis mulai tambah membesar, dan istriku sibuk menyiapkan banten atau sesaji yang akan kita pakai untuk persembahan. Luhde anaku yang pertama terlihat males-malesan, tidak seperti biasanya yang mana dia sangat dan selalu bersemangat untuk apapun acaranya, apalagi ke Pura dimana dia bisa bertemu dengan teman-teman bermain selain teman sekolah, dan Nyoman anaku yang ketiga sakit perut “mencret” mungkin masuk angin. Sedangkan Dena tiduran di kursi teras karena dia baru saja bangun dari tidur siang yang kesorean.

“Dena, kita sembahyang dirumah saja ya, nggak usah ke Pura khan hujan? Kataku kepadanya sambil setengah memaksakan kehendak seperti biasanya orang tua kalau mau memaksakan sesuatu kepada anaknya.

Terlihat bibirnya agak maju, yang mana itu tandanya dia tidak setuju, dan matanya seolah mengatakan bahwa dia ingin sekali ke Pura. “Khan bisa naik mobil pak?” serunya lirih.

Lalu terdengar telepon, dan kata Rati “mbaknya Dena”, nenek mau bicara. Ditelepon mamiku memintaku untuk menjemputnya, karena dia sudah mberusaha menelpon taxi selalu penuh, dan papi sudah berangkat duluan ke Pura karena Papi selalu datang awal untuk menyiapkan pelengkap upacara seperti bunga, air suci, sound system dll. Dan tidak mungkin aku sebagai anak menolak permintaan orang tuaku, lalu aku putuskan untuk segera berangkat, menjemput mamiku, dan Yosie istriku tinggal dirumah untuk menemani Nyoman.

Sepanjang perjalanan aku merasa tegang dan tidak nyaman, mungkin karena separo hatiku pengennya dirumah “belum ikhlas” dan yang pasti aku takut mobilku mogok, karena mobil Daihatsu zebraku ini kalau kena banjir atau genangan yang agak tinggi suka mogok, jadi aku merasa nggak enak banget. Sementara Luhde dan Dena selalu menyanyi mengikuti semua lagu yang terdengar di radio, sampai akhirnya separo perjalanan Dena mengatakan seusatu yaitu membuat kepalaku serasa dipukul oleh kepalan tangan yang sangat padat.

“Bapak kok tidak terlihat bahagia, kenapa?”

Aku merasa sedikit ‘blank’ mendengar pertanyaan seperti itu, lalu aku katakana kepadanya, “Bapak bahagia Den, sangat bahagia” sambil kupaksakan diriku tersenyum.

“Tapi wajah bapak tidak bahagia”

Aku rasanya mau menangis, perasaanku nggak karuan, menyesal, marah, campur aduk. Hanya karena pengen tidur dan takut mogok aku sudah memperlihatkan wajah yang tidak enak dipandang kepada kedua anaku, merusak suasana ceria yang mereka tunjukan. Dan aku yakin Sang Hyang Widhipun sangat sedih melihat itu, sampai-sampai Dia berbicara melalui anaku untuk memperingatkanku.

Lalu aku bilang ke anaku “Maafkan bapak, bapak tadi tegang sekali karena bapak takut mobilnya mogok, dan sekarang bapak merasa sangat berbahagia, sangat bahagia karena memiliki anak-anak yang hebat seperti Luhde dan Dena”

Dan perjalananpun lancar, lalu kami sembahyang d Pura bersama dengan umat lain termasuk papi mamiku. Lalu kami pulang.

Malam itu aku mendapatkan salah satu arti bahagia yang sangat sederhana dari anaku, yaitu lakukan semuanya dengan ikhlas dan pasrahkan semuanya kepadaNya. Dan aku semakin yakin untuk selalu berusaha lalui hari-hari dengan sesuatu yang lebih baik dari hari kemarin sesedikit apapun agar hidup ini bisa lebih punya makna dan berguna bagi orang-orang disekitar kita.

Semarang, 4 Februari 2008

Kamis, 31 Januari 2008

Kasih adalah komitmen

Kalimat itu sudah sering sekali aku dengar dari sahabatku. Dia seorang praktisi di dunia pendidikan, bukan sebagai guru tetapi sebagai direktur dari yayasan sebuah sekolah yang sangat bergengsi. Dan lucunya dia tidak lulus S1, tapi membawahi banyak guru dan kepala sekolah yang sekolahnya tinggi-tinggi. Makanya aku merasa nyaman bersahabat dengan dia sejak kami bujangan, karena aku juga bukan orang sekolahan.

Kasih adalah komitmen, dan aku menerjemahkannya menjadi perkawinan adalah komitmen, dan sama juga bahwa kasih kepada anak adalah komitmen. Dan pernah juga saya baca dan dengar kalimat “mencintai apa adanya” atau “unconditional love”. Juga seperti yang pernah diajarkan oleh Gandhi “mereka yang berjiwa lemah tak akan mampu memberi seuntai maaf tulus. Pemaaf sejati hanya melekat bagi mereka yang berjiwa tangguh”.

Kalau pengalaman pribadi saya dalam berkeluarga dan mempraktekan ajaran-ajaran dari para guru dan sahabat yang saya anggap guru adalah sangat sulit sekali melakukan semua itu, tapi saat kita berhasil melakukan secuil saja dari ajaran kasih itu, perasaan damai dan bahagia benar-benar memenuhi jiwa. Kami sering menyelesaikan masalah bukan dengan duduk berdua untuk kemudian membicaran masalah, yang mana biasanya bukan keluar solusi tapi malah memperlebar masalah, karena masing-masing dari kita merasa benar, tapi kami malah keluar untuk makan bersama ketiga anak kami, untuk kemudian saling melayani, dan bermain bercanda dengan anak-anak kami. Disaat itulah saya merasa bahwa saya sangat membutuhkannya untuk berbahagia bersama anak-anak dan juga “asisten” di rumah. Setelah itu biasanya pembicaraan yang tadinya kaku bisa jadi lumer karena anak-anak kami yang melumerkan kekakuan diantara kami. Dan setelah itu kata dan sikap cinta mulai keluar dari hati kami.

Kembali lagi ke komitmen, yang namanya komitmen asalnya selalu dari diri kita sendiri, seperti kata pepatah, untuk dicintai kita harus mencintai, untuk disukai kita harus menyukai, untuk dihormati kita harus dihormati. Jadi ada baiknya bagi kita untuk mulai melihat Kediri kita sendiri, dan mulai memikirkan tentang apa yang bisa kita rubah dari diri kita untuk mendapatkan kasih dan kebahagiaan yang kita inginkan.

Seperti kata Adnan Khrisna “Be joyfull and share your joy with other”

Rabu, 23 Januari 2008

Slamet "Catatan pinggir" Goenawan Muhamad

24 januari 2008,

Kemarin malam baca majalah Tempo yang terakhir, setelah bolak-balik halaman dan membaca beberapa artikel yang kebanyakan dipenuhi berita sakitnya Jendral tertinggi negara kita, akhirnya kuputuskan membaca catatan pinggirnya Pak Goenawan Muhamad yang selalu menyentuh hati, kali ini judulnya "Slamet".
Setelah membaca beberapa alinea mata ini sulit sekali untuk diajak melek, dan ternyata memang sudah jam 1 pagi, akhirnya aku ketiduran.
Pagi harinya aku bangun jam 5 dan aku melihat majalah Tempo itu masih disamping kepalaku, setelah ritual minum air putih satu gelas seperti biasa perutku bereaksi dan aku langsung nongkrong di WC untuk ritual berikutnya sambil meneruskan membaca catatan pinggir yang tadi malam belum terselesaikan. Ternyata isinya menyedihkan, diceritakan seorang Slamet yang jualan gorengan di Jakarta memutuskan untuk bunuh diri karena tidak kuat menahan bebean pikiran utang yang semakin menumpuk karena himpitan ekonomi ditambah harga kedelai yang nggak karuan. Dia nggak bisa bayar uang sekolah anaknya. dan ironisnya rumah Selamet dekat sekali dengan kantor sebuah Direktorat pertanian dan perdagangan yang mengontrol semua "policy" tentang naik turunnya harga hasil pertanian.
Aku sedih, tapi aku putuskan untuk tertawa, karena sedih dipagi hari sama saja dengan membunuh kebahagiaan yang akan kudapatkan selama sehari nanti. Dan aku memutuskan untuk lebih banyak belanja ke warung tetanggaku yang mungkin harganya selisih 500 perak. Itu keputusan kecil yang aku ambil di pagi hari. Mungkin kecil kalau yang melakukan cum aku, tapi kalau yang melakukan banyak orang, aku yakin ekonomi negara ini akan lebih merata. Memang belanja di Indomaret, Alfamaret, Giant, Carefour, hypermart lebih hemat, tapi coba pikirkan seberapa besar nilai penghematan tersebut dibandingkan dengan nilai uang yang kita pakai untuk belanja hal-hal yang sebenarnya tidak kita perlukan. So, sekali lagi aku akan lebih banyak belana di warung tetanggaku agar ekonomi kampungku menjadi lebih baik.

I'm sure that I'm gonna have a great day today.

Senin, 21 Januari 2008

Galungan Januari 2008

Selasa, 22 Januari 2008. nanti malam bulan Purnama dan aku bersama istri dan ketiga anaku akn pergi ke Pura untuk sembahyang, dan besok kami juga akan ke Pura untuk sembahyang bersama karena besok hari raya Galungan. Saat Galungan di Semarang, kadangan aku mendengar suara ketukan pisau manghajar cabe, bawang dan bumbu dapur lainnya diatas telenan kayu di tengah ramainya anak-anaku mempersiapkan sekolah paginya. Kalau di Bali, aku masih aingat saat masih kuliah disana, kita semua libur dan semuanya berbahagia seperti layaknya idul fitri di bumi Jawa. Rindu?? ya aku rindu suara itu, aku rindu bau daging mentah yang diurap jadi satu dengan nangka dan sedikit darah, dan aku juga rindu tape yang selalu disediakan saat kita silaturahmi di rumah saudara saat Galungan.

Makna Galungan sendiri bagiku sudah mulai berubah, kalau dulu saat bujangan di Bali. Aku paling suka Galungan karena saatnya kita buat Lawar bersama-sama, lalu kemudian menikmatinya bersama-sama sambil minum tuak sampai pantat kita tidak bisa menyangga perut kita yang kekenyangan dan kepala kita yang muter karena kebanyakan minum tuak. Aku sangat menikmati saaat seperti itu. Saat mulut bersendawa mengeluarkan suara yang keras dan bau yang tidak enak, itu juga menyenangkan. Tapi sekarang, aku mulai bersyukur kalau aku tidak menginginkan suasana seperti itu lagi, aku cuma mikir apa yang nanti dipikirkan ketiga anaku saat melihat Bapaknya mengumbar nafsu makan dan minumnya sampai ketiduran. Sekarang yang aku rindukan adalah saat aku, istriku, dan ketiga anaku berpakaian adat Bali bersama-sama ke pura Giri Natha, berkumpul dengan sesama umat Hindu di Pura, mendengarkan Darma Wacana dan bersembahyang bersama. Paling tidak aku bisa menanamkan pada ketiga anaku bahwa penting sekali untuk mengucapkan terima kasih kepadaNya melalui alam semesta ini, yaitu dengan sesaji. Sesderhana itulah pengertianku tentang Galungan dan sesaji. Dan untuk minum tuak dan makan lawarnya, aku rasa bisa dilakukan jangan pas Galungan dan aku selalu berharap untuk tidak kebablasan. Semua demi makna Galungan, yaitu kemenangan kebaikan melawan ketidakbaikan.

Kamis, 17 Januari 2008

Wayan dari Seberang (Bag 6)

ARYA “JD”

Superman is dead!! Ya Superman memang sudah mati, jadi banyak orang jahat yang berkeliaran. Banyak pencoleng, penipu. Dulu, kira-kira sepuluh tahun yang lalu ketika aku masih SMA, aku selalu dengan bangga menceritakan pada teman-temanku dari luar Bali bahwa, di Bali aman banget, di halaman rumah kalau kita ninggalin sepeda motor dengan kunci kontak yang masih nempel di sepeda motor, nggak bakalan hilang! Kanapa? Karena orang Bali takut karma! Tapi sekali lagi itu dulu, sekarang kalau kita melakukan hal itu ya sama saja ngasi sajen untuk para pencoleng itu. Menurut pengamat itu terjadi karena banyak pendatang dari luar Bali, ada yang bilang karena sekarang cari uang tambah susah. Aku sendiri nggak begitu ngerti kenapa, tapi menurutku yang jelas mereka Cuma mau gampangnya untuk dapat uang, dan nggak perduli dengan kesusahan orang lain. So…dari pada dipikirin lebih baik kujadikan inspirasi untuk lukisan saja. Teman-temanku sering bilang aku antik karena lukisanku adalah tentang kehidupan sehari-hari yang terbilang nggak umum, tapi tetap dengan gaya Bali seperti yang terlihat di Sukawati hanya saja dari segi ukuran, obyek yang aku lukis nggak terlihat rumit, contohnya adalah lukisanku dengan judul “kecurian sepeda motor”, di situ aku melukis 3 obyek, yaitu laki-laki sebagai ayah, perempuan sebagai ibu dan anak perempuan kecil yang sedang menghitung lembaran uang dengan wajah sedih karena mereka masih harus nyicil motor yang minggu kemarin dicuri. Ya uang gaji mereka cukup atau pas banget untuk makan sehari-hari, sekolah anak, mebanten dan nyicil motor, jadi cicilan motor itu ibarat tabungan buat mereka. Dan sekarang mereka harus membayar cicilan motor ditambah dengan ongkos transport untuk si ayah berangkat kerja. Dan lebih bodohnya lagi lukisan itu laku dibeli kolektor gila dari Surabaya dengan harga yang fantastis menurutku yaitu lima puluh juta Man!! Dengan uang lima puluh juta di tangan langsung kulunasi cicilan sepeda motor Yamaha Jupiter kakaku, dengan tujuan agar yang ada di gambar itu tidak terjadi dikeluarga dekatku, lalu dua puluh juta kuberikan ibu dan ayahku dan sisanya yang dua puluh juta aku pakai untuk beli motor BMW tahun 50, sepeda gunung, minum bareng teman-teman dan untuk beli 10 kanvas, cat serta kuas, dan beberapa “JD” atau Jack Daniels minuman kesukaanku.

Namaku Arya, lengkapnya I Gede Arya Pratama, dan biasa dipanggil Arya JD, karena kebiasaanku minum Jack Daniel setiap hari dengan takaran tentunya, yaitu satu sloki sebelum makan siang dan satu sloki sebelum makan malam. Kadang-kadang suka kebanyakan minumnya, terutama kalau pas ada tamu atau teman yang dating dan mereka suka minum dan saat lagi melukis. Sehari-hari yang kulakukan adalah sembahyang di sangah, melukis, mencari obyek foto yang bagus, dan nongkrong bareng teman-teman club sepeda motor antic di Sanur. Dan aku sangat menikmati hidupku, uang akupun nggak susah-susah banget untuk mendapatkannya, lukisanku cukup lumayan laris dengan harga sekitar 5 sampai 20 jutaan (kadang lebih, cuma nggak sering). Dengan begitu hidupku makmur dan boros dan banyak teman yang mendekat, mungkin karena aku suka bayarin mereka minum.

Hanphone di kantongku mengeluarkan bunyi lagu …………milik Superman is Dead, band rock dari Kuta Bali yang akhirnya bisa masuk pasar nasional, dan khusus deprogram kalau ada telepon dari sahabatku, Dayu Kenanga.

“Hai Dayu”

“Om swastiyastu Arya, lagi dimana?”

“Lagi nongkrong di Sukawai, hunting moment yang tepat buat inspirasi lukisan”

“Kalau aku lagi di Yogya, aku pengen ketemu sama kamu nanti setelah pulang”

“Anytime Dayu, just call me first”

“Thanks Ya”

“Pengen ngomongin apa sih Dayu? Kelihatannya penting banget?”

“Cuman mau ketemu, dan ngajak kamu pergi ke Bedugul, sudah lama nggak kesana”

“Ok, kamu yang nyetir ya…khan aku nggak punya mobil, ntar hilang cantikmu kalau naik BMW ku”

“Ah..Arya, aku nggak pernah malu kamu boncengin BMW mu, cumin kamu yang nggak pernah mau boncengin aku”

“Ha..ha…ha…someday, aku pasti boncengin kalau aku sudah ganti jog belakangnya”

“Ok, see yu next week”

Aku dan Dayu bersahabat sejak SMA, dia cantik, tapi sedikitpun aku nggak pengen jadikan dia sebagai pacarku, aku lebih suka dengan gadis bule dengan kulit yang putih kemerahan kena sinar panas matahari. Dan karena itu maka sekarang aku pacaran dengan Jenifer, anak dari pengusaha Australia yang jatuh cinta dengan Bali, terutama dengan aku, Arya JD.

Bagiku Jenifer adalah segalanya, dia sekarang memiliki dan mengelola sebuah hotel kecil 20 kamar dengan kolam renang kecil berbentuk oval, restoran dan bar open air, dan setiap sore setiap hari senin, rabu dan jumat dia mengajar kursus bahasa inggris gratis di restoran itu. Murid-muridnya berfariasi, ada yang SMP, SMA, kuliah bahkan ada beberapa orang tua dengan umur diatas 35th. Di hari senin dia mengajarkan teorinya, seperti tata bahasa atau istilah kerennya grammar. Dan di hari rabunya di selalu melalukan bedah buku bahasa inggris, dari mulai buku anak-anak bergambar sampai novel. Kemudian di hari umatnya mereka betul-betul bersenang-senang karena Jenifer selalu menyelenggarakan hal-hal yang menarik seperti bagaimana membuat coctal, demo memasak oleh salah satu Cheffnya, atau berenang, atau diskusi tentang Bali dan kebiasaan dan kebudayaannya.

Dia sudah kurang lebih 6 bulan melakukan hal ini, ini membuat kelian banjar tempat dia tinggal sekaligus hotelnya menjadi sangat senang, karena sekarang banyak anak-anak muda yang tadinya menganggur bisa kerja part timer di tempat Jeniffer menjadi bar tender atau guide saat tamu dari hotelnya membutuhkan. Itu semua adalah hasil dari bimbingan Jeniffer. Nama hotelnya adalah Bali Banget hotel.

Siang itu panas matahari terasa enak sekali, mungkin ini karena aku tidak takut jadi hitam. Seperti biasa aku nyantai banget pakai sarung bali dengan corak batik coklat tua, dan baju lengan pendek motif bunga warna biru laut. Aku mengendarai BMW ku menuju ke hotel Bali banget. Soarang sekuriti dengan seragam sarung dan saput poleng hitam putih khas bali menyambutku.

“Om swastiastu Bli Arya” sambutnya sambil menyangkupkan kedua tangannya didepan dada.

“Om Swastiastu Bapa Mendra, Jeniffer ada?

“Ada bli, lagi berenang”

“Ok, tiyang langsung saja swimming poll”

“Nggih, durus..silakan Bli”

Bap Mendra adalah jagoan yang sangat disegani di wilayah situ, orangnya sangat sopan, tapi memang biasanya kalau jagoan sudah sampai pada tingkat yang cukup tinggi orangnya cenderung sopan, dan yang sok-sok itu biasanya jagoan yang tanggung.

Aku paling suka saat berenang bareng dia karena aku nggak pernah bosan melihat tubuh Jeniffer, aku sering bilang sama dia kalau keindahan tubuh Jeniffer Lopes adalah satu grade dibawah keindahan tubuhnya. Lalu katanya…”Dasar Seniman!”

Jenifer tidur di kursi kolam renang dengan kaca mata hitam, aku tahu dia tidur menikmati mathari siang itu. Dan sengaja aku berjalan memtar agar tidak terlihat olehnya, dan aku langsung ikut tidur di kursi yang berada disampingnya ikut menikmti panasnya matahari, dan aku ketiduran.

Tiba-tiba kurasakan ada seseorang menindihku dan menciumku, bibirnya hangat sekali dan aku tahu dia Jenifer.

“Jangan disini Jenifer”

“I’m just kissing your lips”

“Ya, tapi jangan disini, nggak enak dilihat karyawanmu”

“Ok, aku tahu kau mau, tapi aku menghargai Ke-balianmu, dan itu yang menyebabkan aku jatuh cinta sama kamu”

Dan dia beringsut dan berbaring disebelahku, kursi santai kolam renang itu pas banget untuk kami berdua, Jenifer memiliki tubuh semampai dengan tinggi 170 cm dan berat 50 kg. sangat sempurna dimataku, sekali lagi lihatlah Jenifer Lopez, nah seperti itulah tubuhnnya. Dan aku sendiri nggak besar dan nggak kurus, 176cm dengan berat 69 kg.

“Dayu ngajak ke Bedugul minggu depan setelah dia pulang dari yogy, kau bisa ikut”

“Of course I should go, aku nggak mau Dayu selalu disampingmu”

“Kamu selalu cemburu, she will never fall in love to me, dia Ida Ayu, dan aku sudra”

“Ya, but kamu sudra yang berhati bangsawan”

“Terserah kamu, aku lapar, kamu masak apa?”

“Mbok Made tadi masak sop dan ayam goring, ada sambel mentah kesukaanmu kok”

“O, makan sekarang yuk”

Dan kami makan siang, ngobrol tentang lukisan, tentang rencana Jenifer untuk ngajak aku pameran di Melbourne, dan dia bilang kalau ayahnya bisa bantu. Dan dia bilang kalau nanti menikah pengen punya anak 4 agar nama Bali bisa dipakai semuanya, yaitu, Gede, Made, Nyoman dan Ketut. Ya, kami berencana untuk menikah tahun depan. Kedua orang tua kami sudah setuju, Cuma aku saja yang kadang belum pengen untuk menikah. Kita berdua saat ini bisa dibilang sudah hidup bersama, aku sering tidur di rumahnya dan Jenifer juga sering tidur dirumahku. Semua saudaraku sudah tidak ada lagi yang memprotes apa yang aku lakukan. Aku selalu bilang ke mereka, this is my life, and I’m taking responsible of what I’m doing, I love her, and I will marry her when I want it to.

Aku pacaran dengan Jenifer kurang lebih sudah 2 tahun, kami bertemu di gallery miliku, saat itu dia dan orang tuanya sedang berlibur di Bali dan mereka masuk ke galeryku saat mereka jalan mau makan siang. Saat itu aku melihatJenifer sebagai gadis yang sangat cerdas dan global pikirannya, orang tuanyapun sangat santun. Mereka banyak bertanya tentang lukisanku, mengapa berbeda gaya dengan lukisan Bali pada umumnya? Dan banyak hal, sampai akhirnya aku diundangmakan malam di Hyat Sanur, tempat dia menginap bersama keluarganya. Jenifer anak tunggal, dan orang tuanya seorang pengusaha properti yang sukses di Melbourne. Mereka sudah berkali-kali ke Bali, pertama ketika Jenifer masih 3 tahu, kedua saat 12 tahun,ketiga saat 15 tahu, dan yang keempat sekarang saat usianya sudah 22 tahun. 22 tahun adalah usia dimana seorang wanita menuju matang secara kemandiriannya, dan secara bentuk tubuh, tang kedua adalah saat wanita itu mulai melhirkan anaknya yang pertama, ada dua resikonya, pertama menjadi tidak terkontrol alias overweight, kedua menjadi semakin berisi atau sintal tepatnya. Malam itu kami bicara banyak tentang Bali, kehidupan kita dan banyak sekali, sampai akhirnya Jenifer minta ijin kepada orang tuanya untuk jalan ke Bedugul denganku, dan orang tuanya mengijinkan, sambil berpesan,

“Arya, she is the only diamond we have, you take care of her”

Dan aku langsung jawab tanpa basa-basi

“I will sir”

Dari situlah hubungan kami terbina, dan Jenifer mulai sering bolak-balik ke Bali. Setelah menyelesaikan S2 Busines menagementnya di Australia dia memutuskan untuk tinggal di Bali dan akhirnya oleh ayahnya dia dibelikan sebuah cottage untuk dia kelola.

Siang itu setelah makan siang kami bercinta di kamar Jenifer, dan malamnya kami makan malam di pantai jimbaran. Makan sea food dan melihat lampu pesawat-pesawat boeing naik turun dari landasan ke langit membawa dating dan pergi orang-orang yang ingin menikmati keindahan Bali.

Lanjutkan ke bagian 7>>