Lebih sering aku bersujud kepadaMu
Lebih sering aku menyebut namaMu
Lebih sering aku bercerita tentangMu
Lebih sering aku melihat kebesaranMu
Masih saja aku merasa jauh
Masih saja aku kurang percaya kepadaMu
Masih saja aku meragukanMu
Mungkin karena kerjaku tak sekeras dulu
Karena ikhtiarku tak sekeras dulu
Karena semua hanya diotak
Memang untuk dekat denganMu harus dengan kerja
Dengan laku!
Dengan kerja!
Dengan menjadikannya kenyataan!
Aku harus gunakan hatiku
Tuhan, aku mau dekat denganMu
Senin, 28 September 2009
Rabu, 16 September 2009
Lebaran
Seminggu yang lalu aku berkunjung ke seorang sahabat yang bagiku, dia adalah panutan. Seseorang yang biasanya kalau aku kesulitan, dia adalah salah seorang yang aku kunjungi untuk bicara. Sudah lama sekali aku ‘melupakan’ dia, menelponpun aku tak pernah. Dan kemarin aku dipeluknya, dia sekarang tambah sering dan banyak bicara tentang kehidupan, tentang bagaimana kehidupan yang disarankan oleh para Nabi, dan tentang kebenaran. Aku Hindu dan dia Islam, namun kami selalu sepaham, apa yang dia katakan aku selalu setuju, dan apa yang aku ceritakan dia ‘tersenyum’ (itu kalau dia tidak setuju) dan menurutkupun pengalamanku yang aku ceritakan memang tidak pantas serta jauh dari kebenaran.
Damai, itulah yang aku rasakan dari dua jam kenjunganku ke rumahnya, dan dia selalu bilang bahwa diapun sedang belajar, dia bukan guruku, dia tidak mau kuanggap sebagai guru. Dia bilang, bahwa seharusnya orang memberi tak perlu takut untuk kehabisan, karena yang memberi pasti akan diberi. Semua harus dibalik dari memberi setelah menerima menjadi memberi dulu dan kemudian serahkan semua kepadaNya, “ikhlas”, hilangkan pamrih katanya. Dan aku hanya bisa mengangguk.
Tiba saatnya aku untuk pamit, dan sekali lagi aku dipeluknya, aku hampir saja menangis bila tidak melepaskan pelukannya, seolah aku bisa mersakan kasih tulus darinya, dan katanya “salam untuk istri dan anak-anak, besok-besok aku yang yang datang kerumah”. Betapa rendah hatinya, aku jauh lebih muda darinya, dan dia ‘guruku’, mau datang kerumahku.
Sebentar lagi Lebaran, dan bagiku Lebaran ini sangatlah indah, damai, dan mungkin lebih indah dan lebih damai dari sebelumnya. Terima kasih ya Tuhan.
Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H
Damai, itulah yang aku rasakan dari dua jam kenjunganku ke rumahnya, dan dia selalu bilang bahwa diapun sedang belajar, dia bukan guruku, dia tidak mau kuanggap sebagai guru. Dia bilang, bahwa seharusnya orang memberi tak perlu takut untuk kehabisan, karena yang memberi pasti akan diberi. Semua harus dibalik dari memberi setelah menerima menjadi memberi dulu dan kemudian serahkan semua kepadaNya, “ikhlas”, hilangkan pamrih katanya. Dan aku hanya bisa mengangguk.
Tiba saatnya aku untuk pamit, dan sekali lagi aku dipeluknya, aku hampir saja menangis bila tidak melepaskan pelukannya, seolah aku bisa mersakan kasih tulus darinya, dan katanya “salam untuk istri dan anak-anak, besok-besok aku yang yang datang kerumah”. Betapa rendah hatinya, aku jauh lebih muda darinya, dan dia ‘guruku’, mau datang kerumahku.
Sebentar lagi Lebaran, dan bagiku Lebaran ini sangatlah indah, damai, dan mungkin lebih indah dan lebih damai dari sebelumnya. Terima kasih ya Tuhan.
Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H
Rabu, 02 September 2009
AKU
Aku ini sering bingung memikirkan aku
Aku ini maunya banyak
Aku ini maunya menang
Aku ini maunya dipuja
Lalu siapa aku ini
Kalau aku mati, kemanakah aku
Akankah aku ikut mati
Atau aku akan hidup lagi
Dengan bungkus lain
Dari mana aku ini
Apakah ada sejak aku lahir
Ataukah baru mulai dibuat setelahnya
Dan dilukis sesudahnya
Tuhan, bimbing aku untuk berdamai dengan aku
Untuk bisa bersanding dengan aku
Untuk bisa sejalan dengan aku
Di jalanMu
Aku ini maunya banyak
Aku ini maunya menang
Aku ini maunya dipuja
Lalu siapa aku ini
Kalau aku mati, kemanakah aku
Akankah aku ikut mati
Atau aku akan hidup lagi
Dengan bungkus lain
Dari mana aku ini
Apakah ada sejak aku lahir
Ataukah baru mulai dibuat setelahnya
Dan dilukis sesudahnya
Tuhan, bimbing aku untuk berdamai dengan aku
Untuk bisa bersanding dengan aku
Untuk bisa sejalan dengan aku
Di jalanMu
Kamis, 13 Agustus 2009
BULAN BAIK
Kalau bulan ini penuh berkah, lalu bulan yang lainnya apa?
Apa berbuat baik itu harus nunggu bulan yan tepat?
Lalu apa yang kita perbuat di sebelas bulan yang lain?
Tidak lelahkah engkau menunggu sebelas bulan untuk kebaikan?
Aku mau kapan saja
Aku mau setiap saat
Aku mau setiap waktu
Berbakti untuk kelahiranku
Berbakti untuk Dia yang menciptakanku.
Apa berbuat baik itu harus nunggu bulan yan tepat?
Lalu apa yang kita perbuat di sebelas bulan yang lain?
Tidak lelahkah engkau menunggu sebelas bulan untuk kebaikan?
Aku mau kapan saja
Aku mau setiap saat
Aku mau setiap waktu
Berbakti untuk kelahiranku
Berbakti untuk Dia yang menciptakanku.
Senin, 10 Agustus 2009
15 MENIT YANG MENYEJUKAN
Pagi yang indah sekali, biasanya MP3lah yang menemani aku jalan/lari pagi, namun tadi pagi, aku ditemani istriku. Sudah sangat lama kami tidak berolah raga bersama, kami jarang sekali bisa bicara berdua dengan waktu yang berkualitas, bangun pagi dia sudah menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan anak-anak bersama asisten. Namun tadi pagi dia bersedia jalan pagi bersama, kami bangun 15 menit lebih pagi dari biasanya. Setelah membangunkan anak kami agar bisa mandi dan bersiap-siap, kami berkeliling komplek. Dalam 15 menit itu banyak sekali yang kami bicarakan, impian-impian masa depan keluarga, bisnis keluarga, anak-anak dan remeh –temeh lainnya. Dan efeknya luar biasa, sampai sekarang jam 08.45am, aku merasa mendapat energy tambahan yang luar biasa, yang pasti aku merasa makin mencintainya, hatikupun terasa sangat damai, benar-benar 15 menit yang menyejukan dan kami harus lebih sering melakukannya
Terima kasih Tuhan, Kau kirimkan dia tuk menemaniku.
Semarang, 11 Agustus 09.
Terima kasih Tuhan, Kau kirimkan dia tuk menemaniku.
Semarang, 11 Agustus 09.
Minggu, 09 Agustus 2009
MELAWAN DENGAN RESTORAN
Aku selalu percaya bahwa Dia memberikan sesuatu tepat pada waktunya. Kemarin secara tidak sengaja aku menemukan buku kecil warna coklat di rak diskon 30% di Gramedia, “Melawan dengan Restoran” karya Sobron Aidit & Budi Kurniawan, aku tertarik. Awalnya aku tertarik karena sejarah adalah hal yang sangat menarik bagiku, Sobron adalah adik dari tokoh Aidit yang konon adalah ‘pemberontak’ di Indonesia. Dan aku tak perduli, mau dia pemberontak atau apapun, aku percaya bahwa sesorang siapapun dia pasti selalu punya sisi lain yang tak pernah diketahui oleh orang lain.
Setalah aku baca beberapa halaman ternyata buku itu menjadi sangat menarik. Diceritakan bagaimana dalam pelarian Sobron dan kawan-kawan berjuang untuk hidup, sampai akhirnya diputuskan untuk membuka restoran masakan dengan modal kemauan dan kayakinan, tanpa uang! Berbagai kesulitan toh akhirnya bisa terselesaikan karena ketulusan dari mereka yang seperjuangan. Dari mulai larangan yang dikeluarkan oleh kedubes RI bagi orang kita untuk makan di restoran itu, aneh! Ya memang kebencian itu selalu mengakibatkan tindakan yang aneh dan tidak masuk akal! Dan akhirnya setelah pak Harto berhenti menjadi presiden, semua larangan itu berubah menjadi sebuah persahabatan yang manis di restoran Indonesia di tengan negeri Prancis itu.
Buku yang indah, penuh inspirasi dan sederhana. Aku sendiri kebetulan akan ‘segera’ membuka usaha mie ayam Jakarta meras sangat beruntung mendapatkan buku indah itu. Terima kasih pak Sobron! Perjuangan yang luar biasa, Semoga semangat kebersamaan & keasabaran itu bisa terjadi di warung kami. Amin.
Semarang, 10 Agustus 09.
Senin, 06 Juli 2009
Aku & Kamu
Kemarin aku mulai tahu namamu dan kenal kamu
Lalu aku mulai sedikit tahu makanan kesukaanmu
Lalu aku mulai tahu tentang film kesukaanmu
Dan akupun mulai tahu ukuran kaos dan sepatumu
Kemudian aku mulai tahu sedikit tentang hati dan perasaanmu
Lalu aku mulai ingin membahagiakamu
Lalu aku mulai takut kehilangamu
Dan akupun mulai pacaran dengamu
Semenjak itu kamu selalu melekat di hatiku
Lalu aku mulai merasakan sakit gara-gara kamu
Lau aku juga merasa marah gara-gara kamu
Dan aku mulai ingin memilikimu
Dan hari ini kasih, kita menjadi satu
Tuhan, siapapun yang akan Kau panggil dulu
Biarkan kami selalu bersatu, karena itu kehendakMu
Buat Anik & mas Catur, Selamat! Panjenengan berdua pasti dan harus berbahagia beserta keturunanmu nanti karena itulah kodrat manusia, untuk selalu berbahagia.
Semarang, 28 Juni 2009.
Dari Hendry yang berhalangan hadir.
Lalu aku mulai sedikit tahu makanan kesukaanmu
Lalu aku mulai tahu tentang film kesukaanmu
Dan akupun mulai tahu ukuran kaos dan sepatumu
Kemudian aku mulai tahu sedikit tentang hati dan perasaanmu
Lalu aku mulai ingin membahagiakamu
Lalu aku mulai takut kehilangamu
Dan akupun mulai pacaran dengamu
Semenjak itu kamu selalu melekat di hatiku
Lalu aku mulai merasakan sakit gara-gara kamu
Lau aku juga merasa marah gara-gara kamu
Dan aku mulai ingin memilikimu
Dan hari ini kasih, kita menjadi satu
Tuhan, siapapun yang akan Kau panggil dulu
Biarkan kami selalu bersatu, karena itu kehendakMu
Buat Anik & mas Catur, Selamat! Panjenengan berdua pasti dan harus berbahagia beserta keturunanmu nanti karena itulah kodrat manusia, untuk selalu berbahagia.
Semarang, 28 Juni 2009.
Dari Hendry yang berhalangan hadir.
Langganan:
Postingan (Atom)
