Rabu, 16 September 2009
Lebaran
Damai, itulah yang aku rasakan dari dua jam kenjunganku ke rumahnya, dan dia selalu bilang bahwa diapun sedang belajar, dia bukan guruku, dia tidak mau kuanggap sebagai guru. Dia bilang, bahwa seharusnya orang memberi tak perlu takut untuk kehabisan, karena yang memberi pasti akan diberi. Semua harus dibalik dari memberi setelah menerima menjadi memberi dulu dan kemudian serahkan semua kepadaNya, “ikhlas”, hilangkan pamrih katanya. Dan aku hanya bisa mengangguk.
Tiba saatnya aku untuk pamit, dan sekali lagi aku dipeluknya, aku hampir saja menangis bila tidak melepaskan pelukannya, seolah aku bisa mersakan kasih tulus darinya, dan katanya “salam untuk istri dan anak-anak, besok-besok aku yang yang datang kerumah”. Betapa rendah hatinya, aku jauh lebih muda darinya, dan dia ‘guruku’, mau datang kerumahku.
Sebentar lagi Lebaran, dan bagiku Lebaran ini sangatlah indah, damai, dan mungkin lebih indah dan lebih damai dari sebelumnya. Terima kasih ya Tuhan.
Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H
Minggu, 09 Agustus 2009
MELAWAN DENGAN RESTORAN
Aku selalu percaya bahwa Dia memberikan sesuatu tepat pada waktunya. Kemarin secara tidak sengaja aku menemukan buku kecil warna coklat di rak diskon 30% di Gramedia, “Melawan dengan Restoran” karya Sobron Aidit & Budi Kurniawan, aku tertarik. Awalnya aku tertarik karena sejarah adalah hal yang sangat menarik bagiku, Sobron adalah adik dari tokoh Aidit yang konon adalah ‘pemberontak’ di Indonesia. Dan aku tak perduli, mau dia pemberontak atau apapun, aku percaya bahwa sesorang siapapun dia pasti selalu punya sisi lain yang tak pernah diketahui oleh orang lain.
Setalah aku baca beberapa halaman ternyata buku itu menjadi sangat menarik. Diceritakan bagaimana dalam pelarian Sobron dan kawan-kawan berjuang untuk hidup, sampai akhirnya diputuskan untuk membuka restoran masakan dengan modal kemauan dan kayakinan, tanpa uang! Berbagai kesulitan toh akhirnya bisa terselesaikan karena ketulusan dari mereka yang seperjuangan. Dari mulai larangan yang dikeluarkan oleh kedubes RI bagi orang kita untuk makan di restoran itu, aneh! Ya memang kebencian itu selalu mengakibatkan tindakan yang aneh dan tidak masuk akal! Dan akhirnya setelah pak Harto berhenti menjadi presiden, semua larangan itu berubah menjadi sebuah persahabatan yang manis di restoran Indonesia di tengan negeri Prancis itu.
Buku yang indah, penuh inspirasi dan sederhana. Aku sendiri kebetulan akan ‘segera’ membuka usaha mie ayam Jakarta meras sangat beruntung mendapatkan buku indah itu. Terima kasih pak Sobron! Perjuangan yang luar biasa, Semoga semangat kebersamaan & keasabaran itu bisa terjadi di warung kami. Amin.
Semarang, 10 Agustus 09.
Kamis, 13 Maret 2008
Ibu dan Pakde
Waktu itu, berat sekali rasanya. Ibu saat itu hanya punya pikiran kuatkah aku menghadapi semua kejadian ini. Berat sekali rasanya membawa rasa dalam dada ini.
Kalimat itu memaksa aku untuk kembali duduk dikursi makan diseberang kursi tempat ibuku duduk, kami berhadapan. Semua janji bisnis yang sudah kubuat untuk malam ini aku batalkan. Pembicaraan ringan yang biasa kita lakukan berubah menjadi pembicaraan yang menurutku ‘berat’. Suara ibu bergetar saat mengucapkannya.
“Mengapa pakde dipenjara Bu?”
“Tidak tahu nak, ibu masih kecil saat itu, ibu masih kelas lima SD, yang ibu ingat hanya kira-kira 3 hari sebelum kejadian, ada seorang teman dari pakdemu yang menginap di rumah”
“Teman itu siapa?”
“Ibu juga belum pernah melihat sebelumnya, tapi kata nenekmu, dia adalah teman dari pakdemu yang mungkin sedang susah, ya udah biar saja nginep disini kata nenekmu saat itu”
“Setelah pakdemua ditangkap, kakekmu mulai sakit-sakitan, kami saat itu miskin sekali dan susah, kami delapan bersaudara dan semua masih sekolah, pakdemu saat itu sudah SMA, dan sangat pintar, dialah yang ‘digadang-gadang’ oleh kakekmu agar bisa jadi orang dan bisa mengangkat harkat keluarga”
“Lalu pakde ditangkap begitu saja tanpa ada surat penangkapan atau pengadilan?”
“Ibumu juga tidak tahu, nenekmu buta huruf dan kakekmu adalah orang yang paling nrimo, dibeginikan tidak marah, dibegitukan juga tidak marah”
Aku diam membayangkan wajah almarhum kakeku yang sudah meninggal saat aku masih duduk di kelas tiga SD. Matanya cekung, dan memang kakek tidak pernah marah sedikitpun kepadaku, bibirnya selalu tersenyum, siapapun akan merasa damai saat melihatnya.
“Setiap kamis sore kakek selalu bilang ke nenekmu untuk menjemur irisan tempe itu sampai kering agar lebih awet, dan sabtu sorenya, kering tempe itu dikirim ke pakdemu dipenjara” …ibu terdiam dan kulihat matanya mulai berair, aku pegang kedua tangannya, dan tangan kami saling berpegangan di atas meja makan yang beralaskan kaca yang sangat dingin karena sore itu hujan mulai turun.
“Setiap sabtu siang, kakek dan nenekmu naik sepeda menengok pakdemu dan mengantarkan kering tempe kesukaan pakdemu, sampai akhirnya kakekmu sudah tidak sanggup lagi mengayuh sepedanya karena sakit paru-paru”
Ibu berhenti sebentar menarik nafas dalam-dalam, seperti mencoba mengingat rasa tidak enak yang pernah dia rasakan dulu.
“Saat itulah ayahmu datang, dan bahkan sebelum menikah dengan ibu, ayahmu sudah mengambil sebagian tanggung jawabnya, dialah yang memboncengkan kakek atau nenekmu untuk pergi mengantarkan kering tempe untuk pakdemu”
Aku tersenyum mendengar hal itu, ibuku selalu bangga saat menceritakan bagian itu, dan bagiku itu sudah cukup untuk menjadi bukti cinta dari ibuku untuk ayahku, demikian juga sebaliknya.
“Sampai suatu saat, ibu mencuci rantang tempat kering tempe setelah nenekmu pulang dari menengok pakdemu, saat itu ibu merasa aneh, kenapa jari dan telapak tangan ibu menjadi kehitam-hitaman setelah memegang bagian belakang rantang? Ternyata setelah ibu balik, dibagian belakang rantang tersebut pakdemu menuliskan pesan-pesannya. Ibu sangat sedih sekali, berarti selama ini ibu sudah banyak menghapus surat-surat yang pakdemu tuliskan untuk ibu sebagai anak yang paling tua dirumah setelah pakdemu masuk penjara”
Aku sudah tidak sanggup lagi menahan air mataku. Air mata itu mengalir seiring dengan bertambahnya rasa hormatku kepada ibuku. Susah yang kualami sekarang sebagai kepala keluarga tidak ada apa-apanya disbanding dengan betapa sedih, perih dan susahnya ibuku saat itu. Ibu masih duduk di kelas 5 SD saat itu dan dia harus mengambil tanggung jawab perasaan sebesar itu.
“Mengapa pakde harus menuliskannya di rantang? Kan tinggal tulis surat saja atau titip pesan lewat nenek”
“Saat itu, semua surat pasti disortir dan setelah disortir pasti dimusnahkan, tidak perduli apapun isinya, dan pakdemu adalah orang yang bijak dan cerdas, dia tidak kehilangan akal makanya dia tuliskan semua pesannya dibagian belakan rantang dan dia tahu bahwa adiknya pasti akan membacanya”
“lalu mengapa dia tidak titip pesan ke nenek saja”
“Dia tidak ingin menyusahkan orang tuanya, dia tahu orang tuanya sudah cukup menderita dengan memikirkannya”
Aku terbayang wajah pakde yang menurutku memang cerdas, dan aku merasa bahwa sampai saat ini aku sangat tidak cukup memberinya perhatian dan bahkan rasa hormat.
“Apa saja isi surat itu Bu?”
“Banyak, tapi kebanyakan pakdemu meminta ibu untuk selalu membantu kakek nenekmu betapapun capeknya badan ibu, dan lebih sabar dalam membimbing om-om dan tante-tantemu. Dan dia juga meminta ibu agar lebih berhati-hati dalalm bergaul serta giat belajar agar tidak menyusahkan orang tua.
“Cuma itu”
“Ya, dan pakdemu tidak pernah bosan untuk mengulang pesan-pesannya dan ibumu juga tidak pernah merasa bosan untuk membaca pesan-pesan dirantang itu”
Aku menarik nafas agar lebih tenang dan tidak terbawa emosi, sedangkan ibuku sudah terlihat lebih tenang.
“Ibu tidak benci terhadap orang yang memenjarakan pakde?”
“Dulu ya, tapi lama kelamaan ibumu merasa bahwa benci tidak mengobati sakit hati ibu. Semakin ibu membenci ibu semakin tidak tahu kepada siapa orangnya yang harus ibu benci”
AKu menganggukan kepala pelan sekali. Ibuku benar, tidak ada jalan lain selain memaafkan atau tidak memikirannya sama sekali. Lupakan!
Rabu, 16 Januari 2008
Pancasila dan Aku
Aku memperlambat langkahku saat kudengar suara yang kecil tapi tegas dan keras “Pembacaan Pancasila oleh Pembina upacara!” dan aku menoleh ke halaman sekolah dasar di desa yang sedang aku lewati. Temboknya ada beberapa yang terkelupas sehingga terlihat batu bata kering keputihan didalamnya, lubang angin diatas temboknya terbuat dari anyaman besi atau ram-raman yang mulai berkarat, bersahaja, itu saja, karena gedung sekolah itu masih berdiri dan murid-muridnya berdiri tegap melihat kedepan ke arah Pembina upacara.Seorang anak laki kurus dengan seragam pramuka yang kebesaran melangkah menuju Pembina upacara, dan menyerahkan map biru muda berisikan text Pancasila, lalu menempatkan dirinya disebelah kiri kepala sekolah yang menjadi Pembina upacara. Aku bilang kepala sekolah karena dia memang terlihat paling ‘berwibawa’ dibandingkan guru-guru yang lain. Lalu aku mulai mendengar”…Pancasila…satu, Ketuhanan yang maha Esa.” Aku semakin memperlambat langkahku, “dua..Kemanusiaan yang adil dan beradab. Tiga..Persatuan Indonesia. Empat…Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Lima…Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia..” setelah itu sayup-sayup kudengar rentetan acara dari upacara sekolah disenin pagi.
Aku memang sering lewat sekolahan itu saat aku lari pagi, tapi kebetulan pagi itu pas upacara, dan pas naskah Pancasila dibacakan. Dan yang terlintas dibenaku setelah aku mendengar Pancasila dibacakan adalah..kapan aku terakhir sembahyang? Apakah aku sudah cukup adil terhadap anak buahku di kantor, terhadap anak-anaku? Mengapa aku masih berpikir bahwa suku ini lebih hebat dari suku itu dalam hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaanku sebagai akuntan publik. Kenapa aku masih menerima uang titipan dari perusahaan pemerintah atau swasta yang aku audit dan ada kesalahan-kesalahan kecil di administrasinya? Dan lain sebagainya.
Selama ini aku cuma berpikir bahwa aku sudah sukses, aku punya rumah bagus, mobil bagus, aku sehat dan olah raga cukup. Dan yang jelas terakhir aku mendengar Pancasila adalah saat aku masih kuliah kira-kira 18 tahun yang lalu. Dan aku merasa cukup humanis dengan selalu member uang kepada pengemis dan nyumbang ke panti asuhan atau bahkan nyumbang untuk pembangunan tempat ibadah. Hanya saja tiba –tiba aku merasa aku ini belum apa-apa dibanding dengan apa yang aku inginkan sebenarnya ketika aku masih kuliah dulu. Aku ingin jadi orang yang jujur, membangun Negara dan lain sebagainya. Aku dulu juga sering mendemo pejabat yang korupsi baik korupsi kecil maupun besar, bahakan lurah yang terima sogokan pembuatan KTP pun kita demo, kita ingin mewujudkan Negara yang jujur teriaku bareng teman-temanku dulu. Tapi sekarang aku menerima uang dari para pejabat yang aku audit.
Sialan! Pengen cari udara segar malah dapat pikiran kotor yang buat pusing. Pikirku. Dan aku berusaha menghilangkan bayangan itu dari otaku, tapi justru bayangan itu makin menyelimuti otaku.
Sedemikian kuatkah Pancasila itu? Pikirku, sampai aku dibuat pusing saat lari pagi seperti ini. Aku mulai membayangkan para “founding father” Negara ini saat merumuskan Pancasila sebagai dasar Negara ini, bagaimana merkea berdebat, bagaimana mereka berjuang agar Pancasila ini bisa dipakai oleh semua rakyat Negara ini, dari sabang samoai merauke dari berbagai macam kepercayaan dan agama, dengan tujuan agar rakyat punya budi pekerti yang luhur dalam membangun Negara ini. Jiwaku bergemuruh, marah dengan kelakuanku selama ini, tapi aku mikir dari mana aku bisa memperbaiki semua ini?
Sampai dirumah, istriku sudah menyiapkan segelas susu di meja teras, dan anak-anak sudah berangkat sekolah. Biasanya aku langsung minum segelas susu itu, tapi kali ini tidak. “Ma, aku ingin bicara” istriku mengangguk dan duduk dikursi sebelah meja berseberangan denganku.
“Amplop yang kuberikan kemarin masih kau simpan?aku akan mengembalikan ke mereka.”
“Masih mas, mengapa ingin kau kembalikan? Khan kita bisa pakai untuk menyumbang pembangunan mesjid di kampong sebelah”
“Kembalikan saja Ma, untuk sumbangan ke mesjid bisa ambil dari tabungan kita”
Istriku yang sangat penurut hanya mengangguk dan tersenyum sambil melirik kearahku. “Ok mas”
Aku segera mandi, dan selesai mandi aku berdoa di dalam kamarku, aku tahu ini bukan saat orang Islam untuk berdoa, tapi aku ingin bicara dengan Tuhan.
“Tuhan, rasanya aku mulai kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang salah, dulu waktu aku masih belia aku selalu yakin mana yang benar dan mana yang salah. Tapi kini batas itu terasa tipis sekali, atau mungkin aku yang menipiskan batas itu agar aku dapat menikmati kesenangan dunia ini. Batas yang kutipiskan adalah yang penting aku tidak merugikan orang lain dan Negara, karena aku khan hanya menerima amplop terima kasih, yang kalau tidak kuterima yang tetap saja dihabiskan oleh para pengusaha itu, jadi lebih baik kuterima sehingga dapat untuk memperbaiki kehidupan orang banyak yang kusumbang. Tapi aku ingin memperbaiki itu Tuhan, Cuma aku harus mulai dari mana? Untuk mengembalikan semua amplop tersebut pasti akan membuat heboh banyak pihak. Atau mulai hari ini saja Tuhan, dan aku pasti hanya menghebohkan diriku saja, dan uang tersebut tetap kuberikan ke pihak yang layak menerima, dan uang tabunganku tetap akan kusumbangkan kepada ihak yang layak menerima juga. Tuhan aku tidak tahu apakah tindakan yang kulakukan ini benar atau tidak, tapi aku mau berubah menjadi benar tanpa menyusahkan banyak pihak. Dan juga satu lagi Tuhan, terima kasih karena Kau telah kirimkan Pancasila yang sakti ini ke Republik tercinta ini, sehingga aku aku bisa berbicara kepadaMu dipagi seperti ini. Tuhan aku sangat merindukanMu dan aku sangat berbahagia sekali hari ini. Terima kasih Tuhan”
Dab akupun berangkat kerja setelah mencium kening istriku dan anaku yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan. Dan aku juga tidak memencet klakson mobilku saat lampu merah berubah menjadi hijau, dan akupun tidak membuang putung rokok dari dalam mobilku di jalan raya, dan aku juga tidak mengkritik pemerintah saat minum kopi bersama kolegaku. Aku putuskan bahwa semua mulai dari diriku.
