Kamis kemarin adalah hari yang menurutku sangat berarti bagiku, dan aku percaya bahwa kamis kemarin adalah hari yang penuh kenangan untuknya.
Sama sekali aku tidak merencanakan untuk libur, seperti biasa ritual pagi yang “kemrungsung” atau gedebak-gedebuk, bagi anda yang punya anak dua atau lebih dan masih kecil-kecil pasti tahu yang saya maksud. Dan setelah Yosie berangkat bareng Luhde dan Dena tinggalah aku menemani Nyoman yang hari itu sakit, lemas dan nggak mau makan. Dia terus memeluku, dan aku bilang ke dia bahwa aku hanya bisa menemaninya sampai jam 07.00 karena harus berangkat kerja, dan dia tidak bereaksi. Kira-kira jam 06.45 Nyoman bilang, “Bapak nggak usah kerja, temani Nyoman saja”. Nyoman ngomong seperti itu saat masih dalam pelukanku ditempat tidur, dan dia bicara tepat dimukaku, lembut sekali, dan seperti biasa aku menjawab bahwa bapak harus kerja..bla…bla…bla…dan bukan Nyoman bila dia menyerah, lima menit kemudian dia meminta hal yang sama lagi. Ada suara di hati kecilku “ambilah cuti”, aku langsung SMS atasanku.
Aku beruntung memiliki atasan seorang wanita dari Swedia yang sangat pengertian, kamis 13 November 08 aku menemani Nyoman dirumah, nyuapin dia, bermain, menggambar, nonton TV, membacakan dia buku cerita sampai aku ngantuk dan tertidur, ketika bangun Dia nggak ada alias pindah ke kamar mbak yang mengasuhnya. Aku bisa melihat bintang bersinar dimatanya, dia bahagia.
Terima kasih Sang Hyang Widhi Wasa atas berkat yang Kau berikan melalui anak-anaku.
Kamis, 13 November 2008
Selasa, 28 Oktober 2008
Buka koleksi lama anda
Gara-gara bau kotoran tikus yang menyengat di kamar, aku akhirnya membongkar laci lemari yang kira-kira sudah 5 tahun tidak pernah aku buka. Oleh Rati ‘asisten’ di rumah laci itu dikeluarkan dan isinya disebar di teras untuk dibersihkan. Ternyata isinya adalah koleksi CD dan VCD yang lama, dan aku menemukan VCD yang luar biasa, yang kalau aku melihatnya sekarang di konter penjual VCD aku pasti beli lagi karena menurutku koleksiku itu sudah hilang! Koleksi itu antara lain konser grup rock METALICA bareng San Fransisco orchestra, kemudian DEEP PURPLE bareng Phil harmonic orchestra! Ini luar biasa! Begitu aku putar, suaranya menggelegar dan membangkitkan impian-impian lama yang terkubur dan terlupakan, semangatku berkobar, ubun-ubunku panas, hatiku bergetar. Aku baru sempat melihat yang Metalica, disitu seolah-olah aku ikut melihat dan ikut menganggukan kepalaku ‘head banging!’ mulai whenever I may roam, one, enter the sandman dan lagu-lagu lain yang menggetarkan. Kalau anda sekolah SMA di tahun 90an anda pasti masih ingat betapa hebatnya pengaruh riuhnya Metalica saat itu. Tapi terus terang aku lebih suka yang versi orchestra. Aku jadi teringat impian-impian naïf seorang anak SMA yang sedang mencari jati dirinya, atpi terus terang impian-impian itu membuatku semangat dan bergelora.
Yang Deep Purple aku belum sempat melihatnya lagi, memang sebenarnya grup itu adalah lebih tepatnya heboh saat papi mamiku masih pacaran. Tapi bagiku orang-orang tua itu biarpun lebih santun dibanding Metalica, tapi tetap saja ‘ngerock’ dan fisik tua rapuh tidak tampak sedikitpun di wajah dan tubuhnya, yang terpancar adalah semangat yang luar biasa saat menyanyi dan bermain musik. Yang mana bisa membuat dirinya sendiri bersemangat, bergetar dan akhirnya menular pada mereka yang menonton. Aku jadi kangen dengan gaya jeans model cowboy dipadukan baju lengan panjang putih/hitam polos, dikeluarkan dan digulung lengannya. It’s so cool.
Makanya, bila anda merasa kurang bersemangat atau tidak bersemangat dengan hidup anda sekarang, coba buka koleksi CD, VCD atau kaset anda. Cari grup musik yang anda suka, cari yang LIVE!! Dan saran saya cari yang beatnya cepat, and it’s ROCK! Kalau anda nggak suka rock, ya….cari jalan agar anda suka karena ROCK NEVER DIE!! LET’S ROCK OUR LIVE! And REACH YOUR DREAM!
Yang Deep Purple aku belum sempat melihatnya lagi, memang sebenarnya grup itu adalah lebih tepatnya heboh saat papi mamiku masih pacaran. Tapi bagiku orang-orang tua itu biarpun lebih santun dibanding Metalica, tapi tetap saja ‘ngerock’ dan fisik tua rapuh tidak tampak sedikitpun di wajah dan tubuhnya, yang terpancar adalah semangat yang luar biasa saat menyanyi dan bermain musik. Yang mana bisa membuat dirinya sendiri bersemangat, bergetar dan akhirnya menular pada mereka yang menonton. Aku jadi kangen dengan gaya jeans model cowboy dipadukan baju lengan panjang putih/hitam polos, dikeluarkan dan digulung lengannya. It’s so cool.
Makanya, bila anda merasa kurang bersemangat atau tidak bersemangat dengan hidup anda sekarang, coba buka koleksi CD, VCD atau kaset anda. Cari grup musik yang anda suka, cari yang LIVE!! Dan saran saya cari yang beatnya cepat, and it’s ROCK! Kalau anda nggak suka rock, ya….cari jalan agar anda suka karena ROCK NEVER DIE!! LET’S ROCK OUR LIVE! And REACH YOUR DREAM!
Minggu, 19 Oktober 2008
Apakah kita berkembang? Dan perlukah kita?
Dulu ketika saya masih sekolah dan kuliah keinginan terbesarku adalah cepat-cepat menyelesaikannya dan bekerja sehingga aku tidak perlu untuk belajar lagi. Dalam bayanganku dulu adalah ketika seseorang itu bekerja dia tidak perlu susah-susah lagi untuk belajar, dan akhirnya kuliahku tidak selesai karena keinginanku untuk tidak belajar lebih besar, dan satu lagi aku sudah bekerja dengan karir yang nggak jelek juga.
Sekarang, aku masih bekerja dan anaku sudah 3, Luhde kelas 3, Dena kelas 1 dan Nyoman TK kecil. Aku masih tidak begitu menyukai pendidikan formal, tapi sekarang aku suka sekali belajar, aku suka sekali membaca. Salah seorang atasanku pernah memintaku untuk kuliah lagi, dan aku memutuskan bahwa cara belajarku adalah tidak melalui bangku kuliah, aku memilih dengan cara membaca buku dan berdiskusi dengan orang yang ahli dalam bidang yang aku ingin ketahui.
Lalu timbul pertanyaan, apakah aku berkembang? Aku bisa jawab, ya! Ukurannya apa? Yang jelas caraku memandang masa depan berbeda dengan dulu, apa lagi? Cara mendidik anaku, membina hubungan dengan pasanganku, cara bekerjaku, caraku menghadapi dan menyelesaikan masalah berbeda dan berkembang dari tahun ke tahun. Biasanya setiap pergantian tahun dan saat berulang tahun aku suka melakukan kilas balik terhadap hidupku. Apa saja yang sudah aku capai, Apa saja yang belum aku capai dan apa saja yang sedang dalam progress. Begitu caraku menilai perkembanganku, kemudian aku membuat goal-goal baru, karena aku yakin bahwa hanya dengan memiliki goal yang jelas seseorang bisa berkembang.
Kemudian ada pertanyaan, apakah kita perlu berkembang? Sebelumnya harusnya pertanyaan yang muncul adalah, apakah kita ingin anak-anak kita berkembang? Atau apakah kita ingin staff-staff kita berkembang? Atau yang lebih umum apakah kita ingin orang-orang disekitar kita berkembang? Bila jawabannya ya, maka kita perlu sekali untuk berkembang. Karena cara yang paling mudah untuk membuat mereka yang disekitar kita berkembang adalah dengan membuat orang-orang tersebut melihat dengan jelas perkembangan kita, seperti kata pepatah “cara mendidik/memimpin paling mudah adalah dengan memberikan contoh”/Leading by example.
Insprirasi tulisan ini adalah istriku yang telah banyak memperlihatkan perkembangannya sehingga aku mau berkembang.
Sekarang, aku masih bekerja dan anaku sudah 3, Luhde kelas 3, Dena kelas 1 dan Nyoman TK kecil. Aku masih tidak begitu menyukai pendidikan formal, tapi sekarang aku suka sekali belajar, aku suka sekali membaca. Salah seorang atasanku pernah memintaku untuk kuliah lagi, dan aku memutuskan bahwa cara belajarku adalah tidak melalui bangku kuliah, aku memilih dengan cara membaca buku dan berdiskusi dengan orang yang ahli dalam bidang yang aku ingin ketahui.
Lalu timbul pertanyaan, apakah aku berkembang? Aku bisa jawab, ya! Ukurannya apa? Yang jelas caraku memandang masa depan berbeda dengan dulu, apa lagi? Cara mendidik anaku, membina hubungan dengan pasanganku, cara bekerjaku, caraku menghadapi dan menyelesaikan masalah berbeda dan berkembang dari tahun ke tahun. Biasanya setiap pergantian tahun dan saat berulang tahun aku suka melakukan kilas balik terhadap hidupku. Apa saja yang sudah aku capai, Apa saja yang belum aku capai dan apa saja yang sedang dalam progress. Begitu caraku menilai perkembanganku, kemudian aku membuat goal-goal baru, karena aku yakin bahwa hanya dengan memiliki goal yang jelas seseorang bisa berkembang.
Kemudian ada pertanyaan, apakah kita perlu berkembang? Sebelumnya harusnya pertanyaan yang muncul adalah, apakah kita ingin anak-anak kita berkembang? Atau apakah kita ingin staff-staff kita berkembang? Atau yang lebih umum apakah kita ingin orang-orang disekitar kita berkembang? Bila jawabannya ya, maka kita perlu sekali untuk berkembang. Karena cara yang paling mudah untuk membuat mereka yang disekitar kita berkembang adalah dengan membuat orang-orang tersebut melihat dengan jelas perkembangan kita, seperti kata pepatah “cara mendidik/memimpin paling mudah adalah dengan memberikan contoh”/Leading by example.
Insprirasi tulisan ini adalah istriku yang telah banyak memperlihatkan perkembangannya sehingga aku mau berkembang.
Senin, 13 Oktober 2008
Crtl – Z
Kita semua yang pakai komputer pasti sudah paham dengan istilah Crtl – Z yang artinya kita bisa kembali ke langkah sebelumnya bila kita membuat kesalahan. Aku Cuma membayangkan andai saja itu bisa terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Sering sekali kita salah bicara, dan setelah omongan itu keluar dari mulut kita, baru kita menyadai bahwa kalimat tersebut tidak seharusnya keluar karena mungkin itu menyakiti orang yang kita ajak bicara, atau saat kita bernegosiasi omongan itu bisa merugikan kita. Atau mungkin kita bisa memiliki kemampuan seperti salah seorang karakter dalam serial Heroes yang nisa menghentikan waktu dalam sekejap dan memperbaikinya sehingga kejadian saat itu akibat buruknya tidak terlalu besar. Mungkin suatu saat bisa terjadi. Tapi yang saat ini mungkin terjadi adalah bagaimana kita bisa mengontrol apa yang akan keluar dari diri kita, baik itu berupa perkataan ataupun perbuatan, dan ini perlu usaha dan latihan. Beberapa usaha yang kita bisa lakukan antara lain adalah dengan belajar lebih banyak, seperti baca buku, belajar dari orang yang lebih baik, seminar tentang kepribadian, motivasi, dan yang penting lagi adalah mempraktekan apa yang sudah kita perlajari, jangan hanya meng”amini” apa yang kita pelajari. Jadi, mari kita berlatih untuk berpikir tentang apa akibat dari perkataan atau perbuatan kita sebelum meng”enter” keyboard dalam diri kita, sehingga yang keluar adalah hal yang kita inginkan untuk keluar, bukan asal “njeplak”, dan sekali lagi bahwa bila kita memasukan hal-hal yang positive terhadap diri kita melalui pembelajaran, pasti yang keluar dari diri kita juga hal yang positive, karena tubuh ini seperti sebuah komputer.
Selasa, 07 Oktober 2008
Kerendahan hati
Dulu, bagiku mencium punggung tangan itu adalah sesuatu yang aneh. Padahal ketiga adiku melakukan hal itu kepada papi mami di rumah. Saat aku melihat para santri mencium tangan gurunya akupun merasa aneh, dan aku rasa mereka tidak perlu sampai seperti itu. Akup, saat itu sudah merasa menjadi orang yang rendah hati, dan teman-temankupun memujiku bahwa aku orang yang bisa merendahkan hati kepada siapapun biarpun aku tidak mencium tangan siapapun. Ternyata, aku terlena dengan pujian itu, dan mulai sombong dengan mengukuhkan diri sebagai orang yang rendah hati. Tanpa sadar, ternyata dengan mengukuhkan diri sebagai apapun itu berarti kita sudah ‘meninggikan’ hati kita.
Tapi Sang Hyang widhi memang selalu sayang pada umatNya. Dimulai dari beberapa bulan sebelum Lebaran kemarin, aku mengaalami situasi-situasi yang membuat aku berpikir dan introspeksi, dan disitu aku mulai sadar bahwa aku masih tinggi hati, menganggap bahwa diriku sudah benar, sudah baik, sudah tidak sombong, sudah rendah hati, sudah lebih pinter dari yang lain, lebih baik dari lain dan sudah-sudah yang lainnya. Dan di situlah titik balik dimana aku memutuskan untuk mulai mencium tangan kedua orang tuaku. Untuk neneku kebetulan sudah kucium tangannya dari dulu. Lalu berlanjut dengan mencium tangan tanteku, omku, budeku, pakdeku di saat Lebaran kemarin, dan inginnya aku bisa mencium tangan kakak iparku, tapi sayang dia tidak bisa ikut berkumpul saat Lebaran. Tuhan aku sudah berusaha merendahkan hatiku, tapi tetap saja aku tidak bisa ‘mengikhlaskan’ kerendahan hatiku terhadap semua orang yang seharusnya aku tuakan, masih ada beberapa om dan tanteku yang aku ‘tidak’ cium tangannya karena aku menganggap bahwa mereka belum perlu aku perlakukan begitu. Tapi aku berjanji, dan aku akan berusaha untuk mencium tangannya saat bertemu nanti, karena aku mau menaruh rasa hormatku kepada mereka, karena bagaimanapun, mereka sudah belajar lebih banyak tentang hidup dibandingkan aku, karena mereka sudah hidup lebih lama dari pada aku. Dan dengan mencium tangan orang-orang yang aku tuakan, aku merasa dapat berlatih untuk selalu merendahkan hatiku.
Selamat Lebaran, mohon maaf lahir batin untuk semua saudara dan temanku.
Tapi Sang Hyang widhi memang selalu sayang pada umatNya. Dimulai dari beberapa bulan sebelum Lebaran kemarin, aku mengaalami situasi-situasi yang membuat aku berpikir dan introspeksi, dan disitu aku mulai sadar bahwa aku masih tinggi hati, menganggap bahwa diriku sudah benar, sudah baik, sudah tidak sombong, sudah rendah hati, sudah lebih pinter dari yang lain, lebih baik dari lain dan sudah-sudah yang lainnya. Dan di situlah titik balik dimana aku memutuskan untuk mulai mencium tangan kedua orang tuaku. Untuk neneku kebetulan sudah kucium tangannya dari dulu. Lalu berlanjut dengan mencium tangan tanteku, omku, budeku, pakdeku di saat Lebaran kemarin, dan inginnya aku bisa mencium tangan kakak iparku, tapi sayang dia tidak bisa ikut berkumpul saat Lebaran. Tuhan aku sudah berusaha merendahkan hatiku, tapi tetap saja aku tidak bisa ‘mengikhlaskan’ kerendahan hatiku terhadap semua orang yang seharusnya aku tuakan, masih ada beberapa om dan tanteku yang aku ‘tidak’ cium tangannya karena aku menganggap bahwa mereka belum perlu aku perlakukan begitu. Tapi aku berjanji, dan aku akan berusaha untuk mencium tangannya saat bertemu nanti, karena aku mau menaruh rasa hormatku kepada mereka, karena bagaimanapun, mereka sudah belajar lebih banyak tentang hidup dibandingkan aku, karena mereka sudah hidup lebih lama dari pada aku. Dan dengan mencium tangan orang-orang yang aku tuakan, aku merasa dapat berlatih untuk selalu merendahkan hatiku.
Selamat Lebaran, mohon maaf lahir batin untuk semua saudara dan temanku.
Kamis, 18 September 2008
MAMA! AKU DAPAT RANKING!
Aku dan istriku saling memandang dan tersenyum melihat betapa Dena anak kami yang keduanya ‘kegirangan’ karena dia mendapatkan ranking 30 dari 33 anak di kelasnya saat ulangan pertengahan semester kemarin. Lucu ya?! Harusnya kami sedih dan ngomelin dia. Tapi bagi kami yang penting adalah dukungan, dan kami ikut ‘berbahagia’ bersamanya. Dena baru saja masuk kelas 1 SD, dan katanya “Mam, akhirnya aku dapat ranking”. She doesn’t care! Apakah ranking 30 itu jelek! Yang penting dapat ranking! Dari TK dulu aku nggak pernah dapat ranking! Katanya.

Lalu dia bercerita kalau ada temannya yang punya nilai 100 sebanyak 6 mata pelajaran, dan aku bertanya, “Dena pengen nggak punya nilai 100?” “ya pengen dong pak” jawabnya..oh..God..I’m so glad to hear that. Aku sangat bahagia karena anaku yang sangat ‘bahagia’ dengan ranking 30nya ternyata memiliki gol untuk mendapatkan nilai 100 yang banyak. Dan aku dan istriku kembali saling memandang dan tersenyum.
Kami mendukungmu Dena! And we are so proud of you! Kami juga percaya bahwa kamu bisa! Kamu bisa dapat nilai 100 yang banyak seperti kawanmu, bahkan kamu bisa lebih baik bila kamu mau!
“Anaku butuh dukungan dan penghargaan, dan aku akan berikan kepadanya”
Lalu dia bercerita kalau ada temannya yang punya nilai 100 sebanyak 6 mata pelajaran, dan aku bertanya, “Dena pengen nggak punya nilai 100?” “ya pengen dong pak” jawabnya..oh..God..I’m so glad to hear that. Aku sangat bahagia karena anaku yang sangat ‘bahagia’ dengan ranking 30nya ternyata memiliki gol untuk mendapatkan nilai 100 yang banyak. Dan aku dan istriku kembali saling memandang dan tersenyum.
Kami mendukungmu Dena! And we are so proud of you! Kami juga percaya bahwa kamu bisa! Kamu bisa dapat nilai 100 yang banyak seperti kawanmu, bahkan kamu bisa lebih baik bila kamu mau!
“Anaku butuh dukungan dan penghargaan, dan aku akan berikan kepadanya”
Rabu, 10 September 2008
SEKOLAH BINATANG

Semakin aku kagum terhadap Sinyo, semakin banyak inspirasi yang aku dapatkan dari dia. Salah satunya adalah tentang ‘sekolah binatang’ yang dia ceritakan dan dia bilang juga bahwa cerita ini dia dapat dari sebuah buku yang pernah dia baca.
Diceritakan bahwa suatu saat di sebuah pulau yang banyak hutannya dan kaya alamnya hiduplah seorang maha guru yang mempunyai 4 murid antara lain Elang, kijang, macan dan tupai. Setiap hari maha guru itu mendidik dan mengasah kepandaian serta ketrampilan anak didiknya sesuai dengan kemampuan dasar yang dimiliki.
Elang menjadi sangat percaya diri dengan keahliannya, dia pandai sekali terbang dan bermanufer di angkasa dan punya mata yang sanggup melihat dimana posisi mangsa dan musuhnya. Dan dia terus berlatih mempertajam kemampuan terbang dan cengkeramannya.
Kijang menjadi semakin cepat dalam berlari dan tambah lincah. Dan dia juga terus berlatih berlari melompat, belok dengan kecepatan tinggi dan lainnya.
Macan juga semakin ahli dalam berlari dan bermanufer untuk mernerkam musuhnya dan ketajaman matanyapun tambah terasah.
Dan tupai menjadi binatang yang paling ahli dalam hal meloncat, sehingga dengan mudahnya dia mendapatkan makanan yang paling disukainya yang terletak di pohon-pohon yang tinggi.
Dan di sisa waktunya sang Maha Guru mengajarkan tentang keahlian binatang-binatang lain sehingga paling tidak mereka tahu kahliah binatang lainnya.
Sampai suatu saat datanglah utusan dari raja penguasa pulau dan membawa mandat bahwa mulai sekarang semua sekolah di seluruh pulau harus mengajarkan hal dengan cara yang seragam, dan raja menginginkan bahwa rakyatnya harus bisa dalam segala hal.
Maha guru tersebuat tidak bisa berkata apapun selain mengangguk dan melaksanakan perintah itu. Dan mulai saat itu dia sering memaksa macan untuk melompat dari dahan yang tinggi ke dahan yang tinggi lainnya sehingga macan sering terjatuh, dan sering meminta elang untuk berlari seperti kijang, dan sering meminta kijang untuk berlatih terbang, dan menyuruh tupai untuk mengaum.
Hari berganti minggu, berganti bulan berganti tahun dan waktu terus mangalir. Tak terasa akhirnya tiba saat dimana mereka harus meninggalkan sekolah untuk mengarungi kehidupan yang sebenarnya. Dan apa yang terjadi dan ditakutkan oleh Maha guru benar-benar terjadi :
Elang sekarang sudah bukan jagoan terbang lagi karena dia lebih sering berlatih berlari ketimbang terbang, sayapnya tidak mempunyai kekuatan yang sebenarnya.Dan biarpun dia sudah sering berlatih berlari namun keahlian berlarinya juga biasa-biasa saja.
Kijangpun sudah tidak bisa berlari kencang, karena tulang kakinya sering patah, jatuh saat berlatih terbang, sehingga sekarang dia bukan pernerbang dan bukan pula pelari unggul.
Macan juga sekarang cacat karena sring jatuh saat berlatih seperti tupai hinggap di dahan yang kecil dan tidak kuat menahan berat badannya yang besar , hingga sekarang dia hanya bisa makan dari pemberian macan yang lain karena dia tidak sanggup berburu.
Dan Tupai, dia lebih sering berteriak-teriak menakut-nakuti temannya padahal teriakannya sama sekali tidak menakutkan bahkan lucu, dank arena sudah jarang meloncat dia sering jatuh saat meloncat dari pohon ke pohon.
Moralnya apa? Kata Sinyo, pendidikan formal disekolahan hamper mirip dengan apa yang diperintahkan oleh raja penguasa pulau itu. Murid yang tidak suka matematika sering dipaksa oleh guru dan orang tuanya untuk belajar matemateka mati-matian sampai si orang tua dan guru itu melupakan kehebatan anak itu dalam hal melukis sehingga akhirnya anak tersebut tertekan dan ikut melupakan keahlian melukisnya.
It’s not easy. Ya memang benar tidak mudah, karena saya sebagai orang tua punya keinginan agar anaknya menjadi juara kelas, hebat dan lain sebagainya. Hanya saja kita perlu berpikir lagi, siapa yang nantinya akan mengarungi kehidupan ini, karena toh kita akan mati dan anak kitalah yang akan hidup sebagai generasi berikutnya. Impian kita belum tentu sama dengan impian anak kita.
Langganan:
Postingan (Atom)
