Kemarin aku mulai tahu namamu dan kenal kamu
Lalu aku mulai sedikit tahu makanan kesukaanmu
Lalu aku mulai tahu tentang film kesukaanmu
Dan akupun mulai tahu ukuran kaos dan sepatumu
Kemudian aku mulai tahu sedikit tentang hati dan perasaanmu
Lalu aku mulai ingin membahagiakamu
Lalu aku mulai takut kehilangamu
Dan akupun mulai pacaran dengamu
Semenjak itu kamu selalu melekat di hatiku
Lalu aku mulai merasakan sakit gara-gara kamu
Lau aku juga merasa marah gara-gara kamu
Dan aku mulai ingin memilikimu
Dan hari ini kasih, kita menjadi satu
Tuhan, siapapun yang akan Kau panggil dulu
Biarkan kami selalu bersatu, karena itu kehendakMu
Buat Anik & mas Catur, Selamat! Panjenengan berdua pasti dan harus berbahagia beserta keturunanmu nanti karena itulah kodrat manusia, untuk selalu berbahagia.
Semarang, 28 Juni 2009.
Dari Hendry yang berhalangan hadir.
Senin, 2009 Juli 06
Senin, 2009 April 13
Puber
Harusnya aku tak menyapanya saat itu. Ya, memang saat itu waktu berlalu begitu cepat dan aku merasa apa yang kulakukan adalah diluar kendali wajarku, aku memang gugup namun ada sesuatu yang memaksa semua itu untuk terjadi. Saat itu kami berpapasan di sebuah mall, aku baru saja beli buah dan dia berjalan dari arah pintu masuk. Jantungku berdegup keras sekali saat aku melihatnya berjalan ke arahku dan aku berharap diapun merasakan hal yang sama. Aku menyapanya dan kami berdua berhenti dan berbicara sebentar di tengah keramaian mall. Dan akhirnya kami memutuskan untuk makan malam bersama di sebuah café di mall tersebut.
“Kau tidak bersama suami dan anakmu?”
“Kamu juga sendiri, keluargamu mana?”
“Anak-anak dirumah dan istriku masih di kantor rapat bareng bosnya”
Kemudian suasana menjadi hening, dikepalaku suara ramai di mall menjadi seperti film bisu, hanya orang-orang yang lalu lalang, dan dia terus menunduk sambil sesekali menengadahkan wajahnya untuk melihatku sekejap dan terus berpaling kea rah yang lain. Dan akhirnya pandangan kita bertaut untuk beberapa saat. Oh uhan dia sangat cantik sekali, lalu bayangan wajah istriku melewati pandanganku berusaha mengalahkan wanita didepanku. Ingin sekali aku kalah dan tetap memikirkan istriku yang memang sangat aku cintai, sampai sekarangpun aku merasa sebagai laki-laki yang beruntung memiliki istri cantik dengan karir yang baik dan anak-anak yang lucu serta baik, aku merasa memiliki keluarga yang bahagia lahir batin. Lalu bayangan istrikupun menghilang dan kembali aku melihat wajahnya yang cantik juga. Aku jatuh cinta lagi.
Kami berdua bercerita tentang keluarga kami masing-masing, dia bercerita tentang suaminya yang karirnya juga sedang melesat, hampir setiap minggu mereka selalu bisa meluangkan waktu untuk pergi ke luar kota bersama, dan dia juga seperti aku merasa sebagai wanita yang beruntung memiliki suami yang baik lahir dan batin serta anak-anak yang baik.
Lalu kami sepakat untuk makan malam bersama lagi minggu depan.
Sepanjang minggu aku tak bisa melepaskan diri dari bayangannya. Bangun tidur, bekerja, bahkan saat bersama istrikupun. Aku merasa terganggu namun akupun juga merasa bahagia. Dan aku tidak ingin kehilangan istriku, aku tak pernah ingin mengecewakan istriku, aku mencintainya.
Dan hari dimana makan malam itu harus terjadi lagi tiba. Pulang kantor aku langsung ke café di lereng bukit yang tenang dan tersembunyi, dan ternyata dia sudah disana dengan sebuah buku novel kelihatannya. Disamping tangan kanannya secangkir kopi yang masih berasap.
“Hai, sudah nunggu dari tadi?”
“Nggak, baru habis baca dua halaman”
“Kau suka baca buku ya?”
“Ya, aku banyak menghabiskan waktuku untuk baca buku selain bekerja dan mengurus keluarga, kamu sendiri?”
“Aku lebih suka menghabiskan waktuku untuk menonton DVD, aku lebih memilih untuk melihat dan mendengar dari pada membaca”
“kalau kau suka membaca, kau pasti akan lebih hebat dari padi kau sekarang” katanya
Dan kami mnghabiskan waktu dengan membicarakan buku-buku yang dia baca dan film-film yang aku tonton. Dan aku merasa sangat terhibur, hatiku bergejolak, adrenalin atau apakah itu namanya terasa memompa aliran darahku. Aku sangat bersemangat dan aku merasa sangat hidup. Dan aku tambah merasa sangat bersalah terhadap istri dan anak-anaku.
Semenjak itu aku hidup diantara dua wanita, istriku dan dia. Aku tidak tahu apakah aku benar-benar jatuh cinta kepadanya, yang jelas aku merasa lebih siap kehilangan dia ketimbang istriku, dari situ aku bisa menilai bahwa cintaku kepada istriku lebih besar dibandingkan dengan rasa ‘sukaku’ kepadanya. Aku bersyukur karena aku masih sangat mencintai istriku. Dan ‘dia’ adalah hiburan bagiku, namun hiburan itu sudah kurasa mengganggu. Perasaan itu sudah hampir sama dengan perasaan saat aku masih mendekati istriku dulu, saat aku belum mengatakan cinta pada istriku dulu. Ya Tuhan, tolong aku, aku takut jatuh cinta lagi. Aku takut tak sanggup menguasai nafsu itu. Aku tetap ingin menjadi suami dari istriku. Namun aku juga ingin beberapa saat bersamanya. Tuhan bantu aku untuk bisa melupakannya, dan dia terlalu kuat dan cantik untuk dilupakan.
Suatu malam saat ritual makan malam bersama lagi.
“Sudah 3 bulan kita melakukan makan malam bersama setiap dua minggu sekali, aku merasa ada yang tidak benar mulai tumbuh di hatiku, bahkan sebenarnya perasaan itu sudah ada jauh sebelum kita melakukan ritual makan malam bersama ini”
“Apa maksudmu dengan perasaan yang tidak benar”
Setelah tiga bulan kita menjalani ritual makan mala mini, cara dan nada bicara antara kita sudah berbeda, aku merasa bahwa kita sangat dekat. Kadang aku ingin sekali menciumnya, namun hal itu tak pernah aku lakukan. Aku menghormatinya dan selain itu aku juga sangat menghormati istriku. Jadi selama itu pula kami hanya makan bersama, bercerita, tertawa tidak lebih dari itu. Selebihnya aku pendam dalam-dalam di hatiku. Aku tidak tahu dengan bagaimana perasaanya, apakah dia juga punya perasaan sama dengan perasaanku. Aku tidak tahu.
“Aku semakin menyukaimu”
“Lalu apa salahnya kalau kita saling menyukai, aku senang kau menjadi teman dekatku”
“itu masalahnya, aku bukan hanya mau menjadi temanmu, aku mulai ingin lebih, aku mulai mencintaimu, maaf kalau aku lancang”
Wajah cantik itu terlihat kaget, dia diam dan matanya berair dan butiran itu mulai menetes, mengalir melewati pipinya yang bersih, dan dia diam. Aku diam, aku bingung.
“Mungkin sebaiknya dulu aku tidak perlu berhenti untuk menggantikan ban mobilmu, dan mungkin adalah suatu kesalahan ketika kita saling bertukar nomor handphone”
“Dan kau anggap juga suatu kesalahan ketika aku mengiyakan untuk makan malam kita yang pertama?”
Wajah lembut itu mulai mengeras, matanya memerah terlihat kecewa.
“Mungkin” jawabku singkat. Aku sudah bertekad dalam hati untuk mengakhiri semua ini. Aku harus kembli sepenuhnya untuk istriku. Aku terlalu mencitai istriku. Biarpun aku juga merasa kalau aku mulai mencintai dia.
Kami berdua diam, saling menunduk. Aku tak tahu apa yang dia pikirkan, dalam pikiranku aku berpikir bahwa aku adalah seorang laki-laki pengecut yang telah mengambil hati istri laki-laki lain. Tidak seharusnya aku seperti itu. Aku seharusnya menghormati dia. Dia sama sekali tidak dicampakan oleh suaminya, dia dicintai dan dihormati oleh suaminya. Hatiku sakit sekali. Lalu bayangan istriku kembali melewati mataku. Aku harus menghendtikan ritual makan mala mini, aku telah mendustai istriku dan suaminya.
“Ini adalah makan malam kita yang terakhir, kalaupun suatu saat nanti kita ditakdirkan untuk bertemu kembali, maka pertemuan itu adalah antara aku dan istriku bersama kau dan suamimu”
Wajah tegangnya sudah mulai berubah, dia sedikit lebih tenang dan mulai bisa menguasai diri. Itu terbaca dari gerakan tubuhnya.
“Sampaikan salamku untuk suamimu bila kau mau, dan akan kuceritakan makan malam terakhir ini kepada istriku agar dia tahu bahwa semua sudah kembali seperti dulu”
Dan kami berpisah malam itu, aku tersenyum mengantar kepergiannya. Dan aku merasa ada bagian dari diriku yang pergi atau hilang. Agak sakit namun aku percaya waktu yang akan menyembuhkan. Lalu nanti akan kuceritakan kepada istriku bahwa aku baru saja makan malam dengan seorang klien yang cantik dan hebat, dan aku bayangkan istriku bertanya dan beri komentar “dia pasti jatuh hati pada suamiku yang hebat ini” . Narsis yah..?? ya begitulah cara kami berdua saling memuji, dan begitulah cara kami untuk saling percaya. Tuhan, terima kasih atas kesadaran awal yang terjadi, dan terima kasih atas Kau berikan aku pasangan yang bisa selalu membuatku sadar. Terima kasih.
“Kau tidak bersama suami dan anakmu?”
“Kamu juga sendiri, keluargamu mana?”
“Anak-anak dirumah dan istriku masih di kantor rapat bareng bosnya”
Kemudian suasana menjadi hening, dikepalaku suara ramai di mall menjadi seperti film bisu, hanya orang-orang yang lalu lalang, dan dia terus menunduk sambil sesekali menengadahkan wajahnya untuk melihatku sekejap dan terus berpaling kea rah yang lain. Dan akhirnya pandangan kita bertaut untuk beberapa saat. Oh uhan dia sangat cantik sekali, lalu bayangan wajah istriku melewati pandanganku berusaha mengalahkan wanita didepanku. Ingin sekali aku kalah dan tetap memikirkan istriku yang memang sangat aku cintai, sampai sekarangpun aku merasa sebagai laki-laki yang beruntung memiliki istri cantik dengan karir yang baik dan anak-anak yang lucu serta baik, aku merasa memiliki keluarga yang bahagia lahir batin. Lalu bayangan istrikupun menghilang dan kembali aku melihat wajahnya yang cantik juga. Aku jatuh cinta lagi.
Kami berdua bercerita tentang keluarga kami masing-masing, dia bercerita tentang suaminya yang karirnya juga sedang melesat, hampir setiap minggu mereka selalu bisa meluangkan waktu untuk pergi ke luar kota bersama, dan dia juga seperti aku merasa sebagai wanita yang beruntung memiliki suami yang baik lahir dan batin serta anak-anak yang baik.
Lalu kami sepakat untuk makan malam bersama lagi minggu depan.
Sepanjang minggu aku tak bisa melepaskan diri dari bayangannya. Bangun tidur, bekerja, bahkan saat bersama istrikupun. Aku merasa terganggu namun akupun juga merasa bahagia. Dan aku tidak ingin kehilangan istriku, aku tak pernah ingin mengecewakan istriku, aku mencintainya.
Dan hari dimana makan malam itu harus terjadi lagi tiba. Pulang kantor aku langsung ke café di lereng bukit yang tenang dan tersembunyi, dan ternyata dia sudah disana dengan sebuah buku novel kelihatannya. Disamping tangan kanannya secangkir kopi yang masih berasap.
“Hai, sudah nunggu dari tadi?”
“Nggak, baru habis baca dua halaman”
“Kau suka baca buku ya?”
“Ya, aku banyak menghabiskan waktuku untuk baca buku selain bekerja dan mengurus keluarga, kamu sendiri?”
“Aku lebih suka menghabiskan waktuku untuk menonton DVD, aku lebih memilih untuk melihat dan mendengar dari pada membaca”
“kalau kau suka membaca, kau pasti akan lebih hebat dari padi kau sekarang” katanya
Dan kami mnghabiskan waktu dengan membicarakan buku-buku yang dia baca dan film-film yang aku tonton. Dan aku merasa sangat terhibur, hatiku bergejolak, adrenalin atau apakah itu namanya terasa memompa aliran darahku. Aku sangat bersemangat dan aku merasa sangat hidup. Dan aku tambah merasa sangat bersalah terhadap istri dan anak-anaku.
Semenjak itu aku hidup diantara dua wanita, istriku dan dia. Aku tidak tahu apakah aku benar-benar jatuh cinta kepadanya, yang jelas aku merasa lebih siap kehilangan dia ketimbang istriku, dari situ aku bisa menilai bahwa cintaku kepada istriku lebih besar dibandingkan dengan rasa ‘sukaku’ kepadanya. Aku bersyukur karena aku masih sangat mencintai istriku. Dan ‘dia’ adalah hiburan bagiku, namun hiburan itu sudah kurasa mengganggu. Perasaan itu sudah hampir sama dengan perasaan saat aku masih mendekati istriku dulu, saat aku belum mengatakan cinta pada istriku dulu. Ya Tuhan, tolong aku, aku takut jatuh cinta lagi. Aku takut tak sanggup menguasai nafsu itu. Aku tetap ingin menjadi suami dari istriku. Namun aku juga ingin beberapa saat bersamanya. Tuhan bantu aku untuk bisa melupakannya, dan dia terlalu kuat dan cantik untuk dilupakan.
Suatu malam saat ritual makan malam bersama lagi.
“Sudah 3 bulan kita melakukan makan malam bersama setiap dua minggu sekali, aku merasa ada yang tidak benar mulai tumbuh di hatiku, bahkan sebenarnya perasaan itu sudah ada jauh sebelum kita melakukan ritual makan malam bersama ini”
“Apa maksudmu dengan perasaan yang tidak benar”
Setelah tiga bulan kita menjalani ritual makan mala mini, cara dan nada bicara antara kita sudah berbeda, aku merasa bahwa kita sangat dekat. Kadang aku ingin sekali menciumnya, namun hal itu tak pernah aku lakukan. Aku menghormatinya dan selain itu aku juga sangat menghormati istriku. Jadi selama itu pula kami hanya makan bersama, bercerita, tertawa tidak lebih dari itu. Selebihnya aku pendam dalam-dalam di hatiku. Aku tidak tahu dengan bagaimana perasaanya, apakah dia juga punya perasaan sama dengan perasaanku. Aku tidak tahu.
“Aku semakin menyukaimu”
“Lalu apa salahnya kalau kita saling menyukai, aku senang kau menjadi teman dekatku”
“itu masalahnya, aku bukan hanya mau menjadi temanmu, aku mulai ingin lebih, aku mulai mencintaimu, maaf kalau aku lancang”
Wajah cantik itu terlihat kaget, dia diam dan matanya berair dan butiran itu mulai menetes, mengalir melewati pipinya yang bersih, dan dia diam. Aku diam, aku bingung.
“Mungkin sebaiknya dulu aku tidak perlu berhenti untuk menggantikan ban mobilmu, dan mungkin adalah suatu kesalahan ketika kita saling bertukar nomor handphone”
“Dan kau anggap juga suatu kesalahan ketika aku mengiyakan untuk makan malam kita yang pertama?”
Wajah lembut itu mulai mengeras, matanya memerah terlihat kecewa.
“Mungkin” jawabku singkat. Aku sudah bertekad dalam hati untuk mengakhiri semua ini. Aku harus kembli sepenuhnya untuk istriku. Aku terlalu mencitai istriku. Biarpun aku juga merasa kalau aku mulai mencintai dia.
Kami berdua diam, saling menunduk. Aku tak tahu apa yang dia pikirkan, dalam pikiranku aku berpikir bahwa aku adalah seorang laki-laki pengecut yang telah mengambil hati istri laki-laki lain. Tidak seharusnya aku seperti itu. Aku seharusnya menghormati dia. Dia sama sekali tidak dicampakan oleh suaminya, dia dicintai dan dihormati oleh suaminya. Hatiku sakit sekali. Lalu bayangan istriku kembali melewati mataku. Aku harus menghendtikan ritual makan mala mini, aku telah mendustai istriku dan suaminya.
“Ini adalah makan malam kita yang terakhir, kalaupun suatu saat nanti kita ditakdirkan untuk bertemu kembali, maka pertemuan itu adalah antara aku dan istriku bersama kau dan suamimu”
Wajah tegangnya sudah mulai berubah, dia sedikit lebih tenang dan mulai bisa menguasai diri. Itu terbaca dari gerakan tubuhnya.
“Sampaikan salamku untuk suamimu bila kau mau, dan akan kuceritakan makan malam terakhir ini kepada istriku agar dia tahu bahwa semua sudah kembali seperti dulu”
Dan kami berpisah malam itu, aku tersenyum mengantar kepergiannya. Dan aku merasa ada bagian dari diriku yang pergi atau hilang. Agak sakit namun aku percaya waktu yang akan menyembuhkan. Lalu nanti akan kuceritakan kepada istriku bahwa aku baru saja makan malam dengan seorang klien yang cantik dan hebat, dan aku bayangkan istriku bertanya dan beri komentar “dia pasti jatuh hati pada suamiku yang hebat ini” . Narsis yah..?? ya begitulah cara kami berdua saling memuji, dan begitulah cara kami untuk saling percaya. Tuhan, terima kasih atas kesadaran awal yang terjadi, dan terima kasih atas Kau berikan aku pasangan yang bisa selalu membuatku sadar. Terima kasih.
Senin, 2009 Maret 16
Dare to dream BIG!
Lagi-lagi Dena menyadarkanku. Dena, gadis kecil berumur 6th kelas 1 SD yang dulu sangat bangga dapat ranking 30 alias kedua dari belakang, sekarang mencapai renking 23 dari 32 anak di kelasnya, dan dengan mata yang cerah, yakin dan bersemangat serta mengharap berkata "pak, setelah ini aku akan ranking 17, kemudian 11, kemudian 6 dan akhirnya aku ranking 1!" siapapun ayahnya pasti akan memeluknya dan berkata "kau pasti bisa!"
Dena, dia anak kelas 1 SD yang belum pernah dengar/lihat seminar motivasi, namun telah memukul telak aku, ayahnya, agar lebih berani bermimpi! Thanks Den, and I love U & proud of U!
Dena, dia anak kelas 1 SD yang belum pernah dengar/lihat seminar motivasi, namun telah memukul telak aku, ayahnya, agar lebih berani bermimpi! Thanks Den, and I love U & proud of U!
Kamis, 2009 Februari 05
Ketulusan
Saat ketulusan mulai menggeliat untuk membesar
Kebenaran semu mulai membuat sakit dada
Selama apapun ketulusan pasti akan muncul
Kalau tidak sekarang mungkin di kehidupan berikutnya
Sepercik sinar ketulusan di lautan kegelapan hati itu pasti akan membesar
Kau bisa membuatnya besar hanya dengan melayani, mengabdi dan pasrah
Semarang, 6 Februari 2009, pk. 08.19
Kebenaran semu mulai membuat sakit dada
Selama apapun ketulusan pasti akan muncul
Kalau tidak sekarang mungkin di kehidupan berikutnya
Sepercik sinar ketulusan di lautan kegelapan hati itu pasti akan membesar
Kau bisa membuatnya besar hanya dengan melayani, mengabdi dan pasrah
Semarang, 6 Februari 2009, pk. 08.19
Selasa, 2009 Januari 27
Ada kasih dalam keheningan
Beberapa kali aku mendengar tentang keheningan, kasunyatan, diam, namun belum pernah aku mengalami apa yang terjadi tadi pagi bersama Nyoman anaku. Akhir pekan kemarin aku membaca atau lebih tepatnya ‘tenggelam’ di dalam buku karangan Zara Zetira yang judulnya ‘every silence has a story’ (semoga tidak salah eja). Di salah satu bagian dari buku itu diceritakan sebuah fase yang dialami oleh Zaira, yaitu “diam”, tidak berbicara hanya mendengar dan melihat, merasa tapi tidak menanggapi secara visual. Semua ditanggapi dan diolah hanya dengan hati namun tanpa emosi. Dan terus terang setelah selesai membaca buku itu hatiku rasanya berat, entah karena apa. Namun sekali lagi aku ingat apa yang dikatakan sahabatku bahwa jangan takut dengan perasaan seperti itu, syukuri saja bahwa kamu masih bisa merasakan ‘berat’ itu seperti apa?, itu berarti kamu masih hidup dan masih sebagai manusia, yang penting bersyukur kepadaNya.
Tadi pagi seperti biasa setelah Yosie pergi kerja sekalian antar sekolah Luhde dan Dena, aku tinggal dengan Nyoman dan tiduran bareng. Kukatakan padanya bahwa aku akan bekerja nanti jam 7, lalu dia mengangis, aku tidak boleh kerja katanya. Kucoba jelaskan mengapa aku harus bekerja namun dia tetap tidak bisa menerima (Nyoman baru berumur 4 tahun). Sampai akhirnya aku diam, aku hanya pandangi matanya, kuelus rambutnya, bahunya, tangannya. Dia juga terdiam dari tangisnya, lalu minta dibuatkan susu. Setelah minum susu kami berdua tetap diam hanya berpandangan, cukup lama, mungkin 2-3 menit. Lalu kukatakan bahwa aku mau mandi dan bekerja, Nyoman tidak menjawab hanya mengangguk, aku gendong dia dan kududukan di matras depan TV dan kunyalakan cartoon network kesukaannya. Lalu aku mandi.
Di kamar mandi baru aku sadar bahwa aku baru saja melakukan ‘diam’, yang ada hanya rasa sayang, kasih yang kukatakan pada Nyoman dari mataku, dan sepertinya Nyoman merespon juga kasih dari matanya.
Aku jua masih belum mengerti, tapi yang jelas aku merasakan sesuatu yang lain saat kita berdua diam dan hanya saling memandang. Aku bahagia sekali.
Terima kasih Sang Hyang Widhi.
Tadi pagi seperti biasa setelah Yosie pergi kerja sekalian antar sekolah Luhde dan Dena, aku tinggal dengan Nyoman dan tiduran bareng. Kukatakan padanya bahwa aku akan bekerja nanti jam 7, lalu dia mengangis, aku tidak boleh kerja katanya. Kucoba jelaskan mengapa aku harus bekerja namun dia tetap tidak bisa menerima (Nyoman baru berumur 4 tahun). Sampai akhirnya aku diam, aku hanya pandangi matanya, kuelus rambutnya, bahunya, tangannya. Dia juga terdiam dari tangisnya, lalu minta dibuatkan susu. Setelah minum susu kami berdua tetap diam hanya berpandangan, cukup lama, mungkin 2-3 menit. Lalu kukatakan bahwa aku mau mandi dan bekerja, Nyoman tidak menjawab hanya mengangguk, aku gendong dia dan kududukan di matras depan TV dan kunyalakan cartoon network kesukaannya. Lalu aku mandi.
Di kamar mandi baru aku sadar bahwa aku baru saja melakukan ‘diam’, yang ada hanya rasa sayang, kasih yang kukatakan pada Nyoman dari mataku, dan sepertinya Nyoman merespon juga kasih dari matanya.
Aku jua masih belum mengerti, tapi yang jelas aku merasakan sesuatu yang lain saat kita berdua diam dan hanya saling memandang. Aku bahagia sekali.
Terima kasih Sang Hyang Widhi.
Rabu, 2009 Januari 21
Perubahan Rajawali
Siapapun pasyi tahu bahwa rajawali adalah burung yang sangat hebat, makanya banyak Negara yang menggunakannya sebagai simbol kenegaraan, simbol pasukan. Di lingkungannya rajawali adalah jenis burung yang bisa mencapai umur mirip dengan manusia yaitu sekitar 70 tahunan. Namun ternyata tidak semua rajawali bisa mencapai umur tua tersebut, ada seleksi alam yang sangat berat untuk dilalui.
Di menjelang umur 40 tahunan rajwali mulai mengalami perubahan. Paruh yang biasanya runcing kedepan mulai membengkok kebawah, cakar yang keras dan tajam mulai memanjang dan lembek sehingga sulit mencengkeram mangsanya, bulu-bulu sayapnya mulai semakin panjang dan tebal sehingga dia tidak gesit lagi (kalau orang obesitas he..he..he..). Perubahan tersebut mengakibatkan turunnya kemampuannya untuk berburu. Sebagian dari rajawali tersebut memutuskan untuk menerima keadaan itu dan berakibat pada kelaparan lalu mati. Dan sebagian dari mereka memilih untuk terbang ke atas gunung atau bukit dan membuat sangkar disana. Di sangkar itu mereka memulai sebuah proses yang sangat luar biasa. Pertama mereka mematukan atau lebih tepatnya membenturkan paruhnya pada batu sampai akhirnya bagian yang melengkung itu hilang terkikis dan patah, tinggalah paruhnya yang runcing. Kemudian dia juga hantamkan cakarnya yang panjang dan lembek di bebatuan sampai kemudian memendek dan tumbuhlah cakar yang runcing lagi. Dia juga mencabuti bulu-bulu sayapnya yang menebal dan panjang. Proses itu cukup lama dan membuatnya menderita sampai berdarah-darah. Namun setelah melewati semuanya, rajawali akan terbang dan turun menjadi seekor rajawali yang perkasa dan gesit dan akan hidup selama 30 tahun lagi.
Proses seperti itu sebenarnya sering kita alami, untuk menjadi lebih pandai dan lebih baik kita harus belajar, untuk menjadi lebih hebat kita harus berlatih, untuk menjadi suskes kita harus meninggalkan kenyamanan-kenyamanan terlebih dahulu. Sebagian dari kita memutuskan untuk tidak mencobanya sama sekali dan menerima keadaan. Sebagian dari kita mencoba namun memutuskan untuk mundur, tidak bisa, tidak kuat, tidak ada waktu dan lain-lain. Tapi sebagian dari kita memutuskan untuk melalui proses menjadi baik dan tidak nyaman itu, terus belajar, terus berlatih, berdoa memohon kekuatan kepadaNya dan akhirnya mencapai tujuan atau cita-citanya.
Bagaimana dengan anda? Termasuk rajawali yang manakah anda? Pilihan ada di tangan anda. Tuhan beserta anda.
Sang Hyang Widhi, terima kasih atas segala yang Kau berikan dan akan Kau berikan untuku. Om Canti Canti Canti Om.
Di menjelang umur 40 tahunan rajwali mulai mengalami perubahan. Paruh yang biasanya runcing kedepan mulai membengkok kebawah, cakar yang keras dan tajam mulai memanjang dan lembek sehingga sulit mencengkeram mangsanya, bulu-bulu sayapnya mulai semakin panjang dan tebal sehingga dia tidak gesit lagi (kalau orang obesitas he..he..he..). Perubahan tersebut mengakibatkan turunnya kemampuannya untuk berburu. Sebagian dari rajawali tersebut memutuskan untuk menerima keadaan itu dan berakibat pada kelaparan lalu mati. Dan sebagian dari mereka memilih untuk terbang ke atas gunung atau bukit dan membuat sangkar disana. Di sangkar itu mereka memulai sebuah proses yang sangat luar biasa. Pertama mereka mematukan atau lebih tepatnya membenturkan paruhnya pada batu sampai akhirnya bagian yang melengkung itu hilang terkikis dan patah, tinggalah paruhnya yang runcing. Kemudian dia juga hantamkan cakarnya yang panjang dan lembek di bebatuan sampai kemudian memendek dan tumbuhlah cakar yang runcing lagi. Dia juga mencabuti bulu-bulu sayapnya yang menebal dan panjang. Proses itu cukup lama dan membuatnya menderita sampai berdarah-darah. Namun setelah melewati semuanya, rajawali akan terbang dan turun menjadi seekor rajawali yang perkasa dan gesit dan akan hidup selama 30 tahun lagi.
Proses seperti itu sebenarnya sering kita alami, untuk menjadi lebih pandai dan lebih baik kita harus belajar, untuk menjadi lebih hebat kita harus berlatih, untuk menjadi suskes kita harus meninggalkan kenyamanan-kenyamanan terlebih dahulu. Sebagian dari kita memutuskan untuk tidak mencobanya sama sekali dan menerima keadaan. Sebagian dari kita mencoba namun memutuskan untuk mundur, tidak bisa, tidak kuat, tidak ada waktu dan lain-lain. Tapi sebagian dari kita memutuskan untuk melalui proses menjadi baik dan tidak nyaman itu, terus belajar, terus berlatih, berdoa memohon kekuatan kepadaNya dan akhirnya mencapai tujuan atau cita-citanya.
Bagaimana dengan anda? Termasuk rajawali yang manakah anda? Pilihan ada di tangan anda. Tuhan beserta anda.
Sang Hyang Widhi, terima kasih atas segala yang Kau berikan dan akan Kau berikan untuku. Om Canti Canti Canti Om.
Selasa, 2009 Januari 20
Selalu
Saat fajar hangat terasa, aku lupa dengan dingin yang mencekam
Saat langit terang, aku lupa dengan badai dan hujan
Saat senja damai, aku juga lupa dengan kelam dan muram
Saat dingin mencekam, aku selalu ingat Dia
Saat badai dan hujan datang, aku selalu sebut namaNya
Saat kelam dan muram, aku selalu memohon padaNya
Aku ingin selalu ingat Dia
Aku ingin selalu sebut namaNya
Aku ingin selalu memohon padaNya
Saat fajar hangat terasa
Saat langit terang
Dan saat senja damai
Aku ingin selalu rindu kepadaNya
Saat langit terang, aku lupa dengan badai dan hujan
Saat senja damai, aku juga lupa dengan kelam dan muram
Saat dingin mencekam, aku selalu ingat Dia
Saat badai dan hujan datang, aku selalu sebut namaNya
Saat kelam dan muram, aku selalu memohon padaNya
Aku ingin selalu ingat Dia
Aku ingin selalu sebut namaNya
Aku ingin selalu memohon padaNya
Saat fajar hangat terasa
Saat langit terang
Dan saat senja damai
Aku ingin selalu rindu kepadaNya
Langgan:
Entri (Atom)
